29 October 2008

Bayar Peradaban dengan Adab!

TEMAN, aku ingin bercerita banyak dari sedikit yang tersisa. Ini adalah mengenai roh-roh yang dulunya senantiasa bersenandung, yang bermain dan bersuara dalam damai alam. Lucarsa-lucarsa berlarian di dalam rimba yang penuh dengan sesak dedaunan. Mafka berkejar menghindari godaan para lucarsa.

Sesosok tubuh melayang cepat, berkelebat likat dibalik rerimbunan. Begitu terang bercahaya kuning. “Gissele...!”

Terengah-engah Mafka memanggil sahabatnya. Hendak kemana kah? Tanya nya tanpa sempat terlontar.

“aku tergesa, kucari pangeran. Manusia yang berjanji akan mencium ku dan menawarkan hidup tak hanya dalam rimba”

Mafka menggelengkan kepala, mencoba merebut kembali pikiran naif sahabatnya. Tak lah manusia akan memberi kebahagiaan. Yang bisa diberi ialah penyiksaan. Lagipula, mana bisa manusia mampu mendengar. Manapula manusia mampu merasakan?

...

JAUH di dalam Kalimantan sana.. tiada mengenal Mafka, tiada mengenal Gissele, tiada mengenal lucarsa. Di sana yang ada ialah Meranti, Jelutung, Bengkirai, dan banyak lagi tak bernama.

Ahh, manusia hanya mampu melabeli saja, seolah mereka orangtua yang melahirkan kesemua itu. Tak sadar diri, padahal mereka hanya berumur setengahnya saja.

Di dalam sana, terbentang sesuatu yang tak kan sangguh dijabarkan hanya dengan perkataan manusia. Danau hijau dengan pantulan matahari bercermin rimbun hutan perawan, di dalamnya siluk-siluk bersisik emas.

Siluk-siluk tak kenal angka-angka rupiah dan ringgit. Siluk-siluk yang masih hidup bebas, dan manusia pribumi yang masih lugu tak kenal kata ‘suap’.

...

BAHKAN di parit sekolah misionaris milik Dayak Iban masih terjumpai banyak siluk-siluk. Lalu manusia menamainya arwana, lagi-lagi seperti manusia itu adalah ibu dan ayah mereka saja.

Siluk-siluk bahkan masih tak bernilai bahkan jika dimakan sekalipun, mereka akan terus beranak pinak, tidak stres seperti hari kita hidup ini, teman..
Bagaimana mereka tidak stress jika mereka diburu-buru dengan rupiah dan ringgit.
Setan memang manusia itu.

...

RUMAH-RUMAH masih beratap sirap, lebih mirip rumah pohon, dengan bahan serba minimalis, (ironis, sementara manusia kota berlomba merombak rumah mereka tampak menjadi minimalis tanpa dana minimal!), di sana.. manusia tak kenal kata rakus.

Mereka hanya mengambil yang diperlukan. Di sana terpancang rumah-rumah panjang yang sangat efisien, geli rasanya jika melihat pemerintah begitu gencar bikin rusun belakangan ini. Rumah panjang itu berpintu-pintu, bahkan bisa menampung 50 kepala keluarga di sana.

Keluarga-keluarga itu hidup bernaung pada Belian licin, kayu hitam yang semakin di pel semakin mengkilap. Kayu seabad! Kayu yang tak kan pernah digerogoti rayap, kayu yang tak lapuk dan tak jamur. Belian hitam!

Mereka tak mubajir, tak lah begitu angkuh memagari halaman dengan tembok-tembok tinggi atau memancang meranti, walau mereka punya itu.

Bonsai-bonsai kuning dengan buah menjuntai berwarna jingga, lebih dominan. Ada pula beberapa pinang merah, dan babi-babi di kolong panggung rumah.

...

MANUSIA kota yang mengajarkan keserakahan. Mereka seakan kalab, tak pernah bersua alam yang berseri-seri, seketika saja ingin diraupnya. Ingin dibengkas dan disamaratakan dengan kota.

Mereka ulet berengosiasi dengan hukum adat, perlahan dengan misi penghancuran berkedok pembangunan mereka ubah urat-urat kehidupan pribumi.

...

HUTAN perawan seketika dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit, padahal sawit ialah penggerogot tanah yang paling kejam. Hutan-hutan dibakar dengan dalih petani setempat ingin buka ladang, ah...sesiapa berotak di sana?

Kabar terakhir, batubara pula. Alamakkkk.... nak berapa keturunan mengembalikan fosil-fosil pada tempatnya semula?

...

JAUH di masa lampau...
Saat Sultan Hamid Al Kadri bersama rombongan menerabas hutan perawan demi mendirikan mesjid Jami’, di tengah hutan tersebut, terdapatlah sebuah ayunan. Ayunan yang dalam bahasa sana disebut Ponti. Ponti atau ayunan ini, biasa dipergunakan menimang anak, sehingga lahirlah sebuah nama Pontianak.

Pontianak, atau Kunthien banyak Tionghoa menyebutkan.

Dulu, semasa SD, guruku berdongeng, Pontianak ialah julukan untuk kuntilanak dengan rambut panjang yang diperistri sultan dengan terlebih dahulu menanamkan paku panjang di kepalanya. Ah...dongeng tinggallah dongeng. Tapi dongeng itulah yang melekat sebagai acuan peradaban.

....

SEHARUSNYA, kalau memang benar masih banyak kuntilanak atau kuntien disana, mereka libas saja si serakah-serakah itu, terutama pencuri-pencuri negeri Jiran itu. Muak rasa, biar mereka tercekik saja. Atau biar saja kuntilanak itu bermain-main dengan rambut panjangnya seperti rapunzel sehingga lari lah mereka terbirit-birit.

...

GISSELE tetap melangkah pergi. Nantinya, ia tetap akan menjadi peri yang cantik, senantiasa bergaun kuning terang, malah semakin molek. Tetapi hatinya menangis, hatinya terejam berkali-kali, melihat lucarsa-lucarsa memberontak kala mereka dihajar bulldoser, kala mereka disayat pisau senso. Kala mereka tak lagi bisa bersuara. Kala mereka tak lagi bernyanyi riang. Kala tak ada lagi celotehan enggang, kala tiada lagi tarian siluk-siluk. Kala tiada lagi perempuan-perempuan berlubang telinga panjang. Kala hukum adat dibungkam dengan peradaban.

Terutama kala manusia begitu mudah mengkhianati. Apapun itu, tanpa kecuali cinta.

Gissele, mafka atau lucarsa bukan apa-apa. Mereka bukan siapa-siapa, hanya aku yang menamai, seperti ibu mereka. Yang meratap, justru meranti, jelutung, bengkirai dan teman-teman lain yang namanya sendiripun masih belum fasih kusebutkan.

.....

Ah, tetapi kiranya sebuah peradaban harus dibayar mahal dengan sesuatu yang tanpa adab!



Oleh Surya HR Hesra
Minggu, 26 Oktober 2008
23:09
(Dengan ditemani X-Japan: Endless Rain)

17 comments:

www.koekoeh.co.nr said...

KEREN!!!
KEREN!!!
KEREN!!!

Erik said...

Nice reading...

Seringkali, yang dianggap kemajuan peradaban, namun ternyata justru sebenarnya mengorbankan peradaban itu sendiri.

Djoko Wahjuadi said...

...aku juga ikut marah mbak...aku kehilangan wangi hutan, yg dulu sering kucium di Batulicin dan Pleihari.
Salam,

awl said...

sudut pandang yang menarik.

ciwir said...

mandegnya pemikiran adalah pertanda hilangnya peradaban.

timur matahari said...

hmmm.. butuh kontemplasi setelah membaca ini

goresan pena said...

koekoeh: terima kasih udah nyempetin mampir...n thx buat apresiasinya..

mas erik; begitulah... lebih kejamnya lagi, kadang kita tak menyadari hal itu. atau sadar tapi malah diam saja..

pak djoko; benar pak...amarah..memang hanya itulah yang tertinggal..
nyesek rasanya, mendengar pengakuan bahwa sekarung anggrek hutan, termasuk yang langka dihargai hanya 10.000 oleh orang2 malaysia sana..

awl; trim untuk apresiasinya...makasih sudah berkunjung

ciwir; sepakat!
terimakasih atas kunjungan dan apresiasinya..

bambang; hehehe, gak segitunya lah...ga usah terlalu fokus...dibawa santai ajahhh...

Jenny Oetomo said...

Posting yang bagus, untuk mengingatkan kita, salam

goenoeng said...

ternyata....
dunia manusia sesungguhnya adalah belantara yang penuh dengan setan....
sedangkan hutan adalah sebuah surga kecil yang terabaikan....
semoga mafka,lucarsa-mu bisa selalu damai di sana, menikmati ponti2 yang tak terjamah manusia.
malam, hez...

lintangpanjer said...

Wow..ibu ini semakin oke aja. dapat inspirasi di mana bu? aku nyari kok gak ketemu ya? gak tau tu ngumpet di mana?? kapan ne bisa ketemuan? sibuk kalee dirimu ne..

ayo, semangat..semangat..(hehe..motivasi diri sendiri)

miz u..

Multama Nazri said...

gissele yang malang...meranti yang merinti...
kritik alam yang dipoles dengan gaya tulisan yang indah...
saya suka manusia dengan bahasa pengkhianat tak terkecuali cinta...
saya sepakat klo cinta lebih sering dikhianati seperti meranti...
maaf lama tak comment mbak...

goresan pena said...

mas Jenny; terima ksh mas...

goenoeng; setan dlm wujud manusia ya mas...hehe...
iya, kubayangkan mereka juga lg asyik bermain ponti dsana...

lintangpanjer; ahhhh...mbak desi bisa ajahhhh...jd malu neh...
ayo bu...smangat2!..
iya, aq agak sibuk dr biasanya..maaf.tr tak hub deh...nginep drumah po?biar kita bs rumpi2...hehe..

multama; hehe, gpp kok...
thx loh udah nyempetin mampir n coment..

Erik said...

test

Erik said...

test 2

Eunice said...

bagus...
nice writing mba ^_^

Rakha said...

Tulisan yang bagus.
Tentang hutan yang "rusak", Sumatra lebih dahulu,disusul Kalimantan. Berikutnya Papua...
Satu pertanyaan klasik: kemana orang-orang yang baik dan beradab itu?Bukankan orang baik yang membiarkan kerusakan sesungguhnya sama dengan para perusak itu?

goresan pena said...

eunice; terima kasih sekali sudah mampir...salam kenal say...
ntar ku main2 ke rumahmu yah...

rakha;wah, pertanyaan klasik yang senantiasa mengusik...kemana yah...kemana aku, dirimu...dan semua orang yang juga peduli? kemana kita yah...?