16 October 2008

Jadikan Kekasih Hatimu saja

dia terlelap di sana,
di penghujung harinya
tinggal aku sendiri..

cakram CD berputar,
mengalun jauh dibawakan naif..

hatiku mengeruh..
layar putih setengah berisi
baris-baris huruf belum tuntas..

kutatap dinding dan langit-langit
yang juga putih..
ada pantulanku di batas parigi,
kucoba cari..
kucoba jelajahi dari wajahnya..
matanya, hidungnya, bibirnya..
semua dengan perlahan.

kucoba mencari diriku
yang dibawa lari waktu

bertanya-tanya, memanjat syukur
seraya mengumpat..

dia terlelap disana,
sejumput doa aku cuil
dari keranjang harapan.

semogalah senantiasa ia bahagia,
dengan cara apapun..
semogalah ia bahagia
sepanjang masa..
semogalah.

begitulah semestinya ia,
seperti itulah seharusnya ia.

pandora,
tak perlu dihancurkan.

Okt 14'08
'menanti purnama'

8 comments:

Leu bumi said...

Jika engkau menanti sang purnama,kau tak perlu menjadikannya kekasih hati,karena ia pasti akan hadir jika kau tahu kapan ia akan hadir..Ia akan hadir seutuhnya jika pantulan sinar sang surya sempurna jatuh ke dirinya.

Erik said...

Hemm... sebuah keputusan telah diambil. Semoga keputusan yang baik.

Ieu Langit said...

Semoga ia senantiasa bahagia
dengan cara apapun
sepanjang masa

Semoga engkau senantiasa bahagia
dengan cara apapun
sepanjang masa

Masing-masing bahagia
dengan caranya sendiri
dengon kotaknya pandoranya sendiri

Bima Sakti said...

Keping mozaik mulai terkumpul
Puzle mulai tersusun
mulai tampak sebuah gambar
seraut wajah menyeringai garang

Wahai matahari...
tetaplah pada lintasanmu
Wahai bulan...
tetaplah pada lintasanmu

Manakala kalian keluar lintasan
Maka alam menjadi gelap
manusia akan menangis
anak manusia akan menangis

goresan pena said...

*leu_bumi: ngomong2...kabarnya tanggal 17 ini, amerika akan tertutup gelap loh, tak bermatahari semala satu setengah hari. bener ga tuh...coba di cek...

*erik: hm, ini hanya sebuah tulisan, tidak memutuskan apa2.
trims..

Anonymous said...

sudahkah purnama?
bukankah akan selalu seperempat? seperempat purnama?

ARIEF FIRHANUSA said...

Caramu menaruh kata dan memilih-memilah ceruk-tikungan puisi, membuat saya seolah berada dalam pusaran sepoi-sepoi angin sore

goresan pena said...

hehe...mas arif bisa aja...