03 March 2009

Bergerak Cepat (Pelarian Verse)

Sudah Hampir Separuh Perjalanan

Bagaimana jika kita lari saja? Lari dan lari terus…! Jangan sekali-kali menoleh ke belakang. Lari… dan bergerak cepat.

Kala waktu sudah menyadarkan kita akan kepenatan, mari kita beristirahat sejenak. Biarkan kaki-kaki kita meregang. Biarkan saja terkulai sementara, biarkan kaki-kaki mencari energi sendiri. Agar nanti kita dapat kembali berlari dengan kaki-kaki yang telah terisi energi.

Mata-mata kaki yang akan menuntun untuk kembali berlari. Menunjukkan arah kemanapun yang akan kita jelajahi.

Biarkan saja hanya mata kaki. Biar hanya keduanya yang bekerja untuk kita. Biarkan mata batin dan mata yang tertempel di kepala tak dapat melihat. Biarkan semua buta. Biar hanya mata kaki yang bekerja.
Dlamakan. Biarkan saja jalan-jalan terjal di depan ini kita rentas, kita bakar aral-aral.

Tak peduli pekik semua orang, toh kita pun tak memekakkan gendang telinga semua orang. Sekali lagi jangan melihat ke belakang.
Aku, kau…dan mata kaki kita yang akan menuntun, untuk terus lari. Lari…. Bergerak cepat.

“kemana kita akan pergi?”
“tidak peduli kemana, yang pasti adalah melangkah. Kau dan aku. Hanya kita berdua”
“iya. Kemanapun, aku akan mengikuti. Setelah ini, sepenuhnya aku akan menjadi milikmu”
“kau akan kujaga, hingga hayatku. Aku berjanji”

Sebuah ciuman bisa menjadi sebuah janji yang tak terucap, tapi untuk melakukannya pun tidak bisa di mana saja. Seakan ada seribu mata-mata yang mengawasi. Kecuali mata kaki. Padahal mata-mata yang menempel di kepala dan mata batin sudah dilumpuhkan. Tapi, mengapa tidak bisa? Padahal hanya sebuah ciuman? Yang biasanya begitu mudah di kala ada jeda.

“tunggu di sini”
“hendak kemana kau?aku tidak mau sendiri?”
“tidak, aku tidak akan pergi jauh. Aku hanya melihat keadaan sekitar. Apa sudah aman”
“jangan tinggalkan aku”
“tidak, kekasihku. Hanya sekejap saja”

Wanita itu mengangguk. Mengiyakan. Walau separuh hatinya bertaruh dengan kecemasan di atas rata-rata. Kekhawatiran. Sungguhkah akan demikian seperti janji sebelumnya? Tapi, dia sudah pertaruhkan hidupnya, tidak ada alasan untuk tidak mempercayai.

“kau lapar?”
“saat ini tidak”
“tapi kita harus makan. Seberapapun yang masuk ke perut kita. Energi kita tidak boleh habis sebelum waktunya. Mari kita cari semampu kita”

Hanya sebuah anggukan. Itu cukup sebagai jawaban. Apalagi yang bisa dilakukan?
Tidak banyak yang bisa dilakukan.

Para pengembara mungkin sudah mengepung seisi kota. Mungkin juga para pedagang sudah memenuhi hutan-hutan. Mereka biasanya bertukar keberadaan untuk sesuatu keadaan yang tidak lazim terjadi.

Sementara, Wanita-wanita bercadar hitam sudah mondar mandir di depan kedua pasang kekasih itu. Bukannya wanita-wanita bercadar itu tidak tahu. Justru mereka sangat mengerti. Mereka memahami dengan pemahaman yang tak berkesudahan. Mereka justru didera kecemasan yang bukan-bukan. Kekhawatiran yang sama dengan pengharapan mereka di tiap malam-malam panjang mereka dengan kesendirian.

Ini bukan mengenai kebencian. Ini bukan mengenai rasa iri. Ini hanya sekedar keinginan yang mampu mereka lumat habis, dikungkung dan kemudian mereka samarkan dalam cadar-cadar mereka.

Membuat janji yang menurut mereka sebaiknya tidk diingkari. Walau tiap malam, kadang mereka pun mengimpikan mengalami seperti sepasang kekasih itu. Mereka ingin juga merasakan sebuah perjuangan untuk sebuah cinta. Walaupun tanpa janji apa-apa. Mana ada pelarian yang mampu menjanjikan kebahagiaan?

Dalam relung hati wanita-wanita bercadar itu semakin gelisah. Cepatlah pergi! Cepatlah bergerak..! jangan tunggu amarah penduduk semakin memuncak. Jangan biarkan mereka menemukan kalian!
Tapi itu tidak disampaikannya. Tapi, peringatan-peringatan itu tidak pernah terucap.
Sehingga sepasang kekasih yang sedang beristirahat itu tidak pernah mendengar. Dalam degup jantung mereka, yang ada hanya rasa cinta. Yang ada hanya keinginan bersama. Yang ada hanya ingin melampiaskan seluruh kerinduan dengan segera. Mereka tidak terlalu peduli. Bahkan jika harus direjam sekalipun.

Wanita-wanita bercadar itu masih mondar-mandir. Ada sekitar 6 orang. Tapi tidak satupun bersuara. Tapi tidak satupun melontarkan peringatan. Tidak ada satupun yang menegur sepasang kekasih itu. Mereka hanya mondar-mandir mengekspresikan kecemasan mereka. Mereka cemas, karena mereka merasakan ketakutan itu. Mereka diam-diam juga menginginkan akhir yang bahagia bagi pelarian itu.

Seperti mimpi-mimpi mereka yang tak pernah berani mereka impikan sebelumnya. Yang mereka tahu sebelum kajadian tak lazim ini, mereka adalah kekasih Tuhan. Yang akan mengabdikan hidupnya untuk Tuhan, semata.

Tapi untk seorang pria, mungkin akan menjadi suatu pemikiran yang benar-benar pembaharuan. Itu mimpi-mimpi mereka, mimpi yang tak sanggup mereka impikan sebelumnya, karena sama saja dengan mengkhianati sumpah mereka. Padahal, siapa yang tahu jalan pikiran setiap kepala?

Tuhan yang tahu! Jadi tidak perlu berdusta padanya.

Wanita pertama diantara lima lainnya, semakin tidak sabar. Jika mereka bersuara, jika mereka mengeluarkan sepatah kata saja, hukumannya ialah pasrah terbakar api yang begitu besar. Atau terpanggang dalam bejana dengan rambut terurai. Itu hukuman untuk seseorang yang telah membantu seorang pria yang melarikan istri orang lain.

(bersambung)

7 comments:

KABASARAN said...

Jangan digantung gitu atuh hezra ... he-he-he.
Baru juga dah rada-rada nangkep ...eh dibawahnya (bersambung).

KABASARAN said...

Wanita bukan pilihan Hez .
Dia bagian
Dia nafas
Dia keberlangsungan
Dia sesuatu yang harus ada
Dia enerji
dalam setiap hidup lelaki

karena sadar bahwa dia bukan pilihan maka tentu saja ..lelakunya selalu bikin lelah.

he-he-he

djoko wahjuadi said...

..oohhh..larilah secepatnya...jelang masalah yg menunggu...hadapi dg tegar...rawe-rawe rantas malang-malang putung...ini adalah jalan yg sudah dipilihkan....(nggak nyambung yaa..???)

Andy MSE said...

sik...sik...sik... nunggu sambungannya dulu ah, sebelum komentar... hehehe...
*saya merasa sedang membaca puisi dan prosa sekaligus dalam satu tulisan*...

Erik said...

Hemm tulisan Hesra memang punya ciri has tersendiri...

Ditunggu lanjutannya ya

Mbah Koeng said...

jangan kuatir aku tunggu !! Ak ga berubah pikiran kok...!!

G said...

Jadi penasaran!!! hihi... udah bolak-balik berapa kali niy Hez, mana dong lanjutannya, apa yg kemudian terjadi?