31 March 2009

..jejiwa..

dedaun ini sebetulnya ringan,
menjadi berat kerana debu

batang pokok inipun sebetulnya kokoh,
menjadi rapuh kerana benalu

jejiwa ini sebetulnya utuh,
menjadi retakan kerana waktu

cermin retak:
bulan cercaan hati

15 comments:

Anonymous said...

Dalem..

G said...

tidak ada sesuatu apapun yg tidak terkena imbas sesuatu yg berasal dari luar dirinya.

jadi ingat sebuah dialog kecil, ketika Benjamin Button yg kelihatan semakin muda bertemu dengan kekasihnya Daisy, dan Daisy berkata, "Look at you, you look so young." Benjamin Button berkata,"It's only on the outside, inside it's still me." (kira2 begitulah dialog-nya, hehe, ga persis bener siy)

The thing is, apapun yg terjadi, diluar secara fisik maupun di dalam secara jiwa, seseorang itu adalah tetap dia, yg seringkali tidak punya kuasa untuk mengendalikan atau memilih seluruh jalan dan peristiwa yang harus ditempuhnya. namun dia tetap dia, dan ada hal-hal yang tidak bisa direnggut baik oleh orang lain, keadaan maupun perubahan2.

I love this poem Hes, merasuk langsung ke jiwa. Dan mengingatkan saya justru tentang momentum dalam hidup yg tidak terkendali namun bukan berarti dapat mengendalikan. (^_-)

Kabasaran Soultan said...

Aha .....Berat , rapuh dan retak ; suatu akibat yang tidak diharapkan.
Debu. benalu dan waktu suatu sebab yang tidak mungkin di hindari.
lalu :
Cermin retak
Bulan cercaan hati

he-he-he ..itulah manusia Hez. Selalu saja mencari sesuatu sebab yang muasalnya bukan dari dirinya sendiri atawa tak ikhlas menerima takdir atawa tak mampu menjawab persoalan atawa tidak berdaya ?.
Entahlah
Jak sambung bawa golok ..he-he-he
Sambungun aja book

Nice poem Hez. itu kamu banget....

Erik31398 said...

sangat bermakna Hes...

goresan pena said...

Mbak G : akh... hartu berkata apalagi saya?

tapi begini...

kita, tentu tidak akan terlepas dari arus perubahan. sementara perubahan itu seringkali membawa kita tampak 'berubah'. padahal sesungguhnya tidak ada yang berubah. hanya sesuatu yang tampak dari luar saja yang terlihat berbeda, seperti yang mbak jelaskan dengan 'fisik' itu.

berubah dan tidak, semata itu adalah sebuah pilihan.

bukankah begitu...?

sementara kita akan senantiasa berproses. telibat di dalam nya secara terus-menerus. proses pada dalam diri itu yang ternyata tampak begitu mudah, tapi ternyata sulit. atau justru sebaliknya? tampak sangat sulit, ternyata sangat-sangat sederhana. ahh...sederhana bukan berarti mudah kan??

saya setuju bahwa tetap ada hak otoriter atas 'diri'. terutama jiwa!

ada sebuah prolog mbak...

"lapak hati, mematri..
sejagat bening di ujung sunyi
menari, sejumput jaladrisunyi"

makasih Mbak G...:)

goresan pena said...

hartu=harus

Bulan Luka said...

kita ini kuat
lemah kerana hasrat

goenoeng said...

cermin retak
maka salahlah
tercarut jiwa, meretak
tergambar dia tak utuh

tapi, belia. bukankah setiap sesuatu mempunyai hakikat ? yg menjadi arti sebenarnya, dari apa sesungguhnya sesuatu itu. tak akan pernah beda, karena dia terlindung oleh hakikat.

goresan pena said...

@ anonymous; hehe..begitukah??
anw, thx :)

@ Pak Kabasaran: ah...berat? begitukah pak??
hem...tidak..tidak Pak.. menurut saya, ini bukanlah hal yang tidak diharapkan.. justru mungkin ini bisa menjadi trigger. pemicu untuk menjadi lebih baik lagi. seseorang kadang perlu jatuh, merasa sakit untuk kemudian bangkit.
inget nggak Pak..mitologi burung hong di Cina atau Phoenix di yunani?
sayap2nya setelah menjadi abu akan bertebaran dan menjadi sebuah semangat baru yang lebih 'kuat'. he...kira2 begitu..

cermin retak...
hem.. bukankah saat kita berpantulan dengan kaca retak, yang tercipta tak lain adalah bayang kita sendiri? kendati menjadi tak sempurna?

seperti yang Mbak G katakan, ada hal-hal diluar kuasa diri..

dedaun butuh angin untuk menepis debu yang tertempel, butuh air juga utk membersihkan..
saya pun butuh Bapak, untuk berbagi :)

@ Mas Erik: he...terima kasih Mas..
hanya alam bawah sadar...demikian saja. :)

@ Pak Budi Bulan luka: sepakat. tapi benarkah??
jangan-jangan kuat dan lemah itu hanya sekedar 'ego'.. :)

goresan pena said...

@ Mas Goe: hakekat...
hem..
bukankah hakekat itu lebih kepada 'pakem'?
menjadi apa, seperti apa, untuk apa?

..pernahkah membayangkan atau merasakan sedang berada di suatu tempat, sekaligus tidak dimana-mana?..

yuk..kita tanya pada rumput ang bergoyang..

G said...

Ya ampun Hesra, merasa berada di suatu tempat dan sekaligus tidak dimana-mana!!!! OOOOOHHH.... saya sering! Sering banget. Apakah kita sedang naik dimensi ya? Haha, seperti dalam novel-nya siapa ya itu yg seperti itu? *lupa saya, nnti saya cari* Tapi pokoknya terlepas dari sekat, walaupun tetap berada di dalam sekat. Seperti out of body experience? Iya ga siy? Astral gitu? Setidaknya, itu yg klik banget sama saya begitu baca pernyataan Hesra di atas. Dan kalo itu yg dimaksud, maka, ya, saya paham.

faizz said...

walah...lagi nunggu siapa kelamaan gitu sampe retak hatinya? walah...harus di lem itu. takut isi hatinya berhamburan keluar

goresan pena said...

@ Mbak G: okeh...hehe... dapet kan...?
begitu lah mbak...
ah, jadi bingung nih mau nulis apaan lagi..pokoknya yah kayak gitu...
gitu pokoknya...he...:)

@ faizz: hiii...menunggu? apa saya terlihat sedang menunggu di tulisan ini?
waahhh...kalo' hati yang retak karena menunggu..mungkin hanya bisa di lem dengan pertemuan.. he...ya ga?

DM said...

Hidup ini sebetulnya sederhana
menjadi rumit,
karena tafsiran-tafsirannya belaka.

goresan pena said...

mas DM : sepakat!
dan tafsiran itu menjadi berbeda karena sudut pandang yang berbeda..
sudut pandang berbeda karena pengalaman yang berbeda.. bener ga?