04 March 2009

Bergerak Cepat (Pelarian Verse) Bag.2 -cerbung

Dengan penuh keberanian, ia menyerahkan kepada sepasang kekasih itu beberapa buah apel dalam keranjang yang telah dikumpulkannya dengan susah payah ketika melewati hutan di tepi sungai tadi. Wanita itu membuka cadar untuk pertama kalinya.

“aku sudah berkhianat. Tapi hendaklah apa yang kulakukan tidak akan kalian sia-siakan. Carilah sisa-sisa kebahagiaan yang nantinya akan membahagiakanku. Cepatlah bergerak, jangan kalian manjakan kaki-kaki kalian. Biarkan mata hati yang menuntunmu, bukan mata kaki, karena mata kaki dapat lelah sewaktu-waktu. Cepatlah bergerak”

Sepasang kekasih itu saling pandang dengan tatapan takjub. Ini sebuah keajaiban. Wanita bercadar itu meneruskan, sambil menatap kedua kekasih itu. Hingga pada wajah sang wanita.

“jika kau menghendaki sesuatu yang kau yakini, kau harus memperjuangkannya. Alam yang akan melihat kesungguhanmu. Dan jika kau sudah sampai di titik itu, seluruh alam semesta ini akan gotong royong dan serta merta akan membantu mwujudkan keinginanmu. Percayalah!”

Sang wanita hanya menjawab dengan airmata berlinang. Wanita bercadar lalu berbisik pelan di telinganya.

“rahimmu, adalah kebahagiaan yang kutitipkan untuk hari esok. Isilah dengan cinta. Lalu lahirkan keturunan yang banyak, yang dapat kau ceritakan tentang kisahmu. Jika kau masih mengingatku, sampaikanlah pada mereka, masih ada aku yang berharap kebahagian darimu, yang tidak bisa kulakukan, karena ketakutanku. Kuatkanlah diri kalian.”

Setelah merasa cukup banyak yang disampaikan, wanita bercadar hitam itu menatap lima lainnya. Dan yang tersirat dari wajah mereka adalah ketakutan yang sudah berpangkat tak terhingga.

“ayolah, bergerak cepat!” teriaknya.

Seketika itu, cadar yang selama ini selalu menutupi wajahnya terhempas ke tanah berumput. Tidak lama, pisau kecil berukir yang menjadi senjata untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan, telah membelah nadi di pergelangan tangan sebelah kirinya.

Cadar itu masih berwarna hitam, tapi basah. Hanya rumput-rumput di bawahnya yang tersiram hujan berwarna merah dan amis. Semua berteriak tertahan. Semua begitu tiba-tiba.

“ini hanya masalahku dengan Tuhan, jangan kalian hiraukan! Cepat bergesas. Pergi! Jangan buat aku menjadi sia-sia”
Bergetar bibir sang wanita.
“bagaimana aku bisa pergi?”
Lengan kekasihnya segera merangkul dengan teguh. Seakan menyesali kekasihnya melihat kejadian yang begitu memilukan ini. Dia berbisik lembut.

“ini yang diinginkannya, pengorbanannya untuk kita, tidak semestinya kita sia-siakan. Ayolah…”

Kaki-kaki menjadi seperti tertanam ribuan tahun. Mata kaki menjadi lemah dan lelah seketika. Betul…!
Mata kaki ini mudah sekali lelah. Rangkulan itu yang membuat keduanya menjadi kuat. Rangkulan itu yang membangunkan keyakinan kembali. Mereka sudah melangkah, perlahan. Air mata masih terus mengalir. Tapi mereka sudah sepakat, tidak ingin melihat ke belakang. Yang masih melihat mereka, ialah sepasang mata yang semakin melemah, di ujung nyawanya, ia sempatkan tersenyum. Mungkin, kekasihnya sudah mulai memanggilnya, dan suara-suara malaikat sudah terdengar ingin mengajaknya. Akhirnya….. mungkin, memang mimpi-mimpi rahasianya selama ini adalah untuk pertemuan yang seperti ini. Siapa yang tahu?

Perjalanan ini belum selesai. Masih sangat jauh. Kota Pzuzi masih terlihat. Mereka harus terus berjalan ke arah barat, lalu melalui bukit kecil dan berjalan beberapa hari di sepanjang sungai Ruams. Masih jauh. Apakah kaki-kaki mereka akan sanggup?

(bersambung lagi...he:) )

2 comments:

KABASARAN said...

Hez ... kok jadinya aku makin bingung nech .... kayaknya ceritanya digantung lagi nih ... senangnya menggantung orang ya ?.
Sepasang kekasih , perempuan bercadar, pelarian , pengorbanan, ketakutan , walah ..... lakone opo iki ?.

tak tunggu lagi terusannya deh.

G said...

Hwaa... seruu seruu saya suka (^_^)Wanita2 bercadar itu.. siapa mereka? Terkurung dalam ketakutan2 kepada siapa? Suami2nya kah atau laki2 secara general atau "kode etik" yang merupakan sebuah hukum tak tertulis dalam masyarakatnya?

Penasaran dot com diriku.