04 March 2009

Bergerak Cepat (Pelarian Verse) Bag.5

Clouns adalah kota yang tidak terlalu besar. Masih merupakan tetangga Pzuzi. Sebenarnya, jika mengunakan kuda, jalan yang ditempuh untuk ke sini tidak lah selama ini. Hanya setengah hari.

Begitu sampai di pinggir kota, Lucarsa mendatangi sebuah kedai yang terlihat sepi. Hanya ada dua pengunjung disana. Sementara Gissele masih menunggu di batas perdu, tidak jauh dari situ. Hanya berjarak 10 meter. Gissele meluruskan kakinya yang mulai keram. Sebentar lagi… katanya menenangkan hati.

Di kedai itu, Lucarsa hanya termenung. Terdiam dan terpaku bagai dihantam sejuta bongkahan es. Apa yang didengarnya dari pembicaraan kedua orang itu sungguh tidak masuk akal. Semua nya tiba-tiba dan akal sehatnya tidak mampu membayangkan atau menganggap berita itu benar.

Keluarga Bertolomia di bantai di bejana terpanggang, sementara rumahnya di bakar habis, dan mereka berdua tengah di cari oleh siapapun dan dimanapun.

Bagaimana bisa membelikan sepotong roti dan secangkir minuman hangat untuk kekasihnya? Bagaimana bisa? Pastilah orang-orang itu akan mengenali mereka. Mereka yang merupakan orang asing di kota Clouns. Bagaimana mungkin?

Lucarsa berjalan memutar ke belakang kedai. Di situ ada sebuah ladang kecil dan ada sumber mataair yang bisa dia pergunakan untuk mencuci muka. Keinginannya adalah menghapus perkataan demi perkataan yang dibicarakan kedua orang tadi. Ia ingin menyangkal. Ah, betapa ini sangat kebetulan dengan mimpi Gissele. Bagaimana mengatakan hal ini pada orang yang paling dicintainya itu? Bagaimana mungkin mengatakannya dengan bibirnya sendiri? Atau membiarkan kekasihnya itu tahu dari orang-orang dua itu? Itu lebih tidak bijaksana lagi. Semua berputar-putar seperti gasing di kepala Lucarsa. Ini gila!

Tidak pernah ia membayangkan akan separah ini kejadiannya. Yang dia tahu, hanya ingin merebut kembali cintanya, cinta di masa kecilnya yang hilang direnggut ‘kebetulan’. Beribu penyesalan berkumandang penuh pekik di telinganya. Kenapa tidak sedari dulu dia datang? Kenapa malah dipertemukan kembali setelah kekasihnya itu menjadi milik orang lain? Dan kenapa perasaan itu masih tetap ada? Dan kenapa perasaan itu mengalir sedemikian derasnya dengan datangnya pertemuan pada jeda-jeda yang tersedia? Mengapa masih menginginkan suatu kebersamaan yang lebih dari sebelumnya? Kenapa?

Kenapa tidak mempertimbangkan hal-hal lain sebelumnya? Walau itu sempat terlintas, tapi tak pernah sedikipun terbersit akan seperti ini. Ini sangat tragis dan mengerikan.
Lalu, dia berlutut dengan derai air mata tertahan.
“Tuhan…..” lirih dan tak berdaya.

Kekasihnya telah menunggu dengan sebuah senyuman. Senyuman yang selalu diingatnya. Getir dia berkata.

“mari kita sewa kuda. Kita harus pergi dari sini”
“hendak kemana? Mengapa begitu tiba-tiba?”
“tidak. Semua berjalan sesuai rencana, hanya ada sesuatu yang tertinggal di Pzuzi. Kita harus kembali”
“kembali? Mengapa? Mengapa setelah sejauh ini? Ada apa? Apa yang tertinggal sehingga kita wajib kembali?apa aku boleh memilih untuk tidak kesana lagi?”
“suatu saat nanti boleh, tapi sekarang, kita harus kembali. Hanya sebentar saja”
“sebentar saja? Untuk hal apa ini?”
“ayolah, kita cari kuda yang bisa kita sewa dan nanti kuceritakan di jalan”
Akhirnya, Gissele hanya bisa mengangguk.

Sudah hampir separuh perjalanan. Tapi tidak sepatah katapun terucap dari bibir Lucarsa. Yang berbicara terus menerus malah Gissele. Lucarsa hanya memperhatikan diam-diam. Menatap mata kekasihnya yang berbinar-binar tersapu sinar matahari pagi. Senyumnya serta keceriaannya yang selalu dirindukannya. Serta bibir itu… yang tadi malam di lumatnya. Ahhh, mengapa demikian sulit? Ia hanya mendengar saja. Mendengar kekasihnya itu berceloteh.

“aku menyayangimu, kau tahu?”
Lucarsa hanya mengangguk. Tentu saja.
“kau ingat, waktu kecil, kita juga pernah seperti ini. Berkuda berdua dan melarikan diri saat kedua orang tua kita mencari. Apakah kau melupakan itu? Aku tidak pernah. Karena engkau adalah pangeran bagiku. Aku tuan putrinya kan? Kau ingat dengan bunga-bunga plastik yang tumbuh di dekat bukit? Yang dulu kau ambilkan untukku, antai kau tahu, bunga itu masih ada. Karena ternyata bunga itu bisa awet dan utuh belasan tahun. Aku menyimpannya, dan diam-diam berharap suatu saat kau kembali. Dan kini, harapanku terwujud. Kau telah kembali. Ahhh…betapa bahagianya.betapa bahagia, akhirnya aku bisa hidup dan menghabiskan hidup ini dengan mu. Aku mencintaimu, sungguh. Aku yakin kau juga akan begitu. Selalu menyayangiku. Mencintaiku tanpa batas. Ya kan?”

Sekali lagi Lucarsa mengangguk. Tapi kali ini sambil menelan ludah. Pahit.
Sementara Gissele menenggelamkan wajahnya pada dada kekasihnya. Tempat teraman dan ternyaman yang dirasanya. Tempat dimana keyakinannya bernaung.
Sudah hampir sampai. Lucarsa tiba-tiba menghentikan laju kudanya. Kuda yang cukup kokoh itu berderik karena terkejut. Mungkin dia merasa kini sudah waktunya.
“kita harus turun. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan. Sesuatu yang sebenarnya tidak ingin aku sampaikan. Turunlah sayang”

Gissele mengikuti.
Setelah kuda ditambatkan, keduanya duduk di bawah pohon ek yang terlihat sudah cukup tua. Daun-daunnya bahkan berguguran di sekitar.

“aku mencintaimu, kau tahu itu. Dan itu tidak perlu kau ragukan”
Gissele hanya mengangguk.
“terdengar seperti hendak mengucapkan selamat tinggal” gumam Gissele.
“bukan. Bukan itu maksudku”
Pandangnya lurus ke depan, walau yang dimatanya yang terlihat tidak lebih dari bayang-bayang yang mulai kabur, yang tidak tampak cukup jelas.
“ada yang harus kusampaikan. Dan ini sangat berat. Aku tahu ini menyenangkan bagi kita. Tapi ini pun sangat menyakitkan untuk kita berdua. Kita harus jujur dengan semua ini. Kita harus jujur. Walau ini menyakitkan. Beribu kali aku ingin mengingkari semua ini merupakan suatu kesalahan. Aku yakinkan kita benar karena mengikuti kata hati. Tapi, adakah memang benar ini adalah kata hati kita?”
“mengapa baru sekarang kau katakan itu? Setelah keyakinan itu membuncah dan aku merelakan semua yang kumiliki kutinggalkan”
“aku tidak tahu. Maaf…”
“kau ingin kita berpisah disini?”
“tidak..kau jangan salah faham, justru karena aku ingin terus bersamamu, maka aku utarakan ini. Aku ingin hidup damai bersamamu”
“lantas, kenapa kita harus kembali? Kau pasti berdusta dengan yang kau katakan bahwa ada sesuatu yang tertinggal”
“tidak. Aku tidak berdusta. Memang yang tertingal itu ada. Yang tertinggal itu adalah sesuatu yang harus kita tuntaskan. Kita hadapi dengan dada terbuka”
“apa maksudmu…?”
“sayang… sekarang ini, kita telah menjadi buronan, dan daging serta bagian-bagian tubuh kita telah dihalalkan untuk para kanibal. Seluruh penduduk kota sedang mencari kita”
“itu sudah pernah terbayang oleh kita. Maka cepatlah kita pergi dari sini, sebelum malam memperlambat langkah kita. Tidakkah kau membayangkan kebahagiaan kita kelak? Di pangkuanku ada anak-anak yang akan memanggilmu Ayah.. ah, betapa indahnya”
“Gissele kekasihku… aku selalu membayangkan itu. Kebahagiaan itu..seandainya…”
“ada apa ini sebenarnya? Pasti ada yang kau sembunyikan. Katakan padaku”
“Gissele, hm.. mimpimu tadi malam… kini telah menjadi sebuah kenyataan”
“mimpiku yang mana?”

“oh….tidak!! maksudmu orang tuaku? Mak..sud..mu, orang tua..ku??”
Tergagap. Dan Lucarsa hanya mengangguk.
Gissele jatuh pingsan.

(bersambung)

3 comments:

Andy MSE said...

sepertinya harus dikopi semua nih, sebelum tamat...
*masih bersambung, dan masih ndak komen dulu*

Mbah Koeng said...

eehmm..gmn caranya mencintai tanpa batas ya ?! "mikir sambil garuk2 kepala"

KABASARAN said...

Hmmmmm ..... ada tangis membuncah ..... ada monolognya gissele kan terusannya ... ada harga yang harus dibayar untuk cinta ...

he-he-he ..kayak main tebak-tebakan jadinya