04 March 2009

Bergerak Cepat (Pelarian Verse) Bag.4

Sebagian penduduk sudah berkumpul di depan rumah keluarga Bertolomia. Mereka berteriak-teriak seperti orang kesurupan yang sudah seabad tidak mengenal Tuhan. Mereka memaki dan mencaci Bertolomia tua. Memaksa Bertolomia dan keluarganya untuk keluar.

Baru saja kedua suami istri senja itu melangkahkan kaki dari pintu, tangan-tangan kasar telah menyeret mereka. Menjauhkan mereka beberapa kaki dari rumah. Dan tidak seberapa lama, obor-obor di tangan penduduk telah berpindah ke rumah Bertolomia yang sudah didiaminya puluhan tahun.

Betapa itu sangat menghancurkan jiwa raganya. Betapa itu sangat meluluhlantakkan harga dirinya. Bangunan yang seumur hidup diabdikan untuk membuatnya, untuk membangunnya, yang ia pikir bisa ia wariskan pada keturunannya melalui Gissele, habis terjilat api. Api yang berkobar hingga mengejar-ngejar angkasa langit. Membumbung tinggi dengan panas seperti di sisi matahari. Api yang perlahan merobohkan tiang-tiang penyangga yang dulunya satu persatu dia tanam dengan bantuan beberapa orang saja.

Akhirnya, kaki Bertolomia hanya terkulai. Sementara istrinya sudah pingsan. Lalu, mereka pun masih tidak menyadari apa yang akan mereka hadapi beberapa waktu lagi. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh nenek moyangnya sekalipun. Di antara kelemahan hati, tubuh yang luruh dan pikiran yang tak lagi sadar sepenuhnya, mereka suami istri itu diseret ke balai kota.

Saat tiba di balai kota, yang mereka lihat adalah sebuah bejana besar, api yang tidak kalah besar dengan yang telah membakar rumah mereka. Di saat itu, mereka sudah tidak lagi dapat menduga, yang mereka lakukan adalah pasrah. Seraya menyebut nama Tuhan.

Entahlah…mungkin Tuhan yang keseratus.
Yang jelas, Tuhan manapun, tidak akan bisa menyelamatkan mereka saat itu. Itu pasti. Karena tidak ada lagi mukjizat yang ajaib seperti yang di rasakan nabi-nabi.
Dan, mereka tidak perlu menunggu lama untuk terpanggang di dalam bejana itu. Suara gemeretak kayu bakar, mengalahkah raungan kesakitan mereka. Entah berapa lama, hingga mereka terdiam. Dan yang anehnya, penduduk kota Pzuzi yang katanya sangat mengenal Tuhan dan selalu dekat dengan Tuhan itu, sangat menikmati prosesi tersebut.

`
Pagi menembus batas pohon-pohon tinggi. Menyadarkan kedua kekasih yang sempat terlelap dari malam panjang mereka. Gissele yang pertama kali bangun. Tubuhnya berkeringat. Wajahnya pucat, matanya menyiratkan ketakutan.
“ibuku…”
“kau bermimpi?”
“ini sangat nyata. Ini sangat nyata! Mereka membakar rumahku. Mereka membakar semua, dan kedua orang tuaku mereka masukkan ke dalam bejana. Mereka panggang di sana”
“itu hanya mimpi, sayang..”
“tidak..ini sangat nyata”
“sudahlah itu mungkin hanya ketakutanmu. Kau tidak ragu dengan yang kita jalani sekarang ini kan?”
“sedikitpun tidak. Tapi….”
“sudahlah, Clouns sudah terlihat. Tidak sampai setengah hari, kita akan sampai di sana”

Lalu mereka berjalan lagi. Lucarsa masih merangkul Gissele, hanya itulah kekuatan yang bisa dibaginya. Walau hatinya kadang juga terguncang. Terguncang saat memikirkan batas kebenaran dan sekat kesalahan. Memikirkan apakah memang harus berakhir dengan pelarian seperti sekarang ini. Tidak sedikitpun ia ingin memberi kesulitan untuk orang yang sangat dicintainya itu. Untuk seorang wanita yang sedang diperjuangkannya itu. Tidak terbersit sedikitpun untuk menyakiti. Tidak. Sudah terlihat sedikit jalan terang. Tapi, benarkah?

(bersambung, lagi?? he..)

3 comments:

KABASARAN said...

hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm .... kayaknya semakin seru nech ..mulai ada taruhan cinta ya ?.

G said...

Wooooowwww!!! masa depan itu mulai jadi bercabang-cabang, mulai nyata komplikasinya, walaupun dari awal mmg sudah kompleks, tapi jalinannya semakin saling mengikat, ada sebab ada akibat ada konsekuensi ada korban, ada yang berkorban dan dikorbankan. COOL!

Andy MSE said...

kok nggak capek berlari terus...
*yeeeee... bersambung lagi*