09 March 2009

Persinggungan Ayumi

Terik berusaha keras menembus kaca di sisi tubuh sebelah kanan Ayumi. Jendela kaca itu terbuka beberapa bagian dari lingkaran, angina-angin bebas berhembus masuk dan kembali pulang saat merasa jengah dalam ruangan. Ayumi menarik ke atas kacamata yang tak disenanginya itu. ah, hidung itu terlalu mungil untuk menenggerkan dua lensa tambahan.

Ia mencecap aroma kopi yang seminggu lalu di panennya, di kebun kecil belakang rumah. Hanya ada satu pohon kopi, tapi, jika berbuah maka lumayan. Setelah kering menjemurnya, biji-biji kopi itu disangrai sebelum dihaluskan. Dan menikmati kopi olahan sendiri, tentu sangat menyenangkan. Tak perlu repot-repot menambahkan glukosa atau senyawa saudaranya. Cukup kopi terebus mendidih.

Ayumi mencecap lagi, sesungguhnya tak boleh. Tapi, siapa tak tergoda aroma nya yang kental hangat? Tapi ia tak buru-buru menyeruput, pantang baginya! Ia akan menunggu kopi panas itu perlahan menguapkan kalor supaya lebih bersahabat dengan lidah.

Ia meletakkan Baroness Orczy di pangkuan. Scarlet Pimpernal yang selalu tak habis bosan dibacanya. Bertahun-tahun sudah, saat ia berusaha mencari keajaiban dan kejutan-kejutan manis dalam hidup. Buku itu terbaring lembut pada hamparan kain linen lembut. Lantas ia menyobek sedikit roti kepang dan menjejalkan perlahan pada sela bibirnya. Sekali lagi, dan lagi.

Mata lelah Ayumi berpendar mencari cercah hijau di luar sana. Merelaksasi lensa-lensa ori-nya. Kemudian, mata Ayumi menemukan dia!

Sudah beberapa kali Ayumi tanpa sengaja menemukannya, hingga sampai pada titik ini, mengamati seksama. Dia cantik, setidaknya dari jarak 10 pintu. Rambut hitam panjang lebih sebahu, berbandana gold yang berkerlapan. Tinggi, tentu saja. Tepat untuk kualifikasi seorang model. Dadanya terbuka separuh bebas dalam balutan berleher V dan tentu saja, kakinya cukup jenjang, kendati sedikit besar di bagian betis. Cantik! Kecuali riasan di wajahnya, yang seketika bisa menyatakan, dia bukan perempuan.

Ya! Dia perempuan!! Tidak.. tidak!! Tentu saja bukan perempuan!!

Berkali-kali dua pertentangan itu bersitegang di kepala Ayumi. Ya! Dia perempuan dengan jiwa yang terperangkap di tubuh laki-laki.

Saat dia berjalan, mata-mata lelaki iseng menggoda bahkan menyiuli. Begitu mereka di dekati, tak ayal mereka berlari terbirit-birit. Tapi, dia tak marah, tak tersinggung malah semakin bebal mencari perhatian.

Dandanan itu memang terlalu tebal, hingga sering menimbulkan olok-olok. Bahkan Ayumi pun kadang menertawai. Tetapi detik itu, Ayumi terkesiap oleh sebuah penyadaran impulsive. Sebuah monolog di hati Ayumi terdengar gamang.

Bagaimana bisa kemarin aku menertawakan dia?
Dibalik tebalnya make up, aku menemukan semangat mereka. Semangat yang mungkin hilang untuk orang-orang sepertku. Semangat untuk memperjuangkan identitas!
Betapa hebatnya mereka..
Disaat mereka berjuang keras agar diakui sebagai perempuan, aku malah menganggap itu lelucon.
Berapa modal yang telah dihabiskannya untuk bisa menjadi seperti aku? Menjadi perempuan?? Menempelkan payudara sintetis hingga memotong rata penis mereka. Hm, berapa rupiah yang mereka habiskan setiap hari?? Untuk bisa tampil cantik menurut mereka? Mengapa harus dengan make up tebal?ooo…mengapa masih kupertanyakan? Adakah yang mampu menyamarkan selain kosmetik untuk kelelakian mereka? Berapa harga perawatan yang harus mereka bayar??
Bagaimana mereka melawan androgen yang terus menerus menumbuhkan rambut-rambut di tubuh mereka dengan pesat?
Bagaimana mungkin aku tertawa??
Aku perempuan!! Tetapi mengapa aku tidak bersyukur dan memelihara apa yang kumiliki? Sementara mereka… mereka berjuang untuk sebuah keberadaan. Untuk sebuah pengakuan.
Aku perempuan!
Tak perlu lagi menyuntikkan silicon untuk memanipulasi wajah. Tak perlu menjejalkan payudara, tak pula memiliki penis. Dan tak perlu bermain dengan dildo jika tak punya pasangan..
Ahh.. apakah semua itu untuk merebut perhatian lelaki, teman?
Apakah semua itu untuk laki-laki??


Sebuah sentuhan lembut di pipi Ayumi membuatnya sadar.
“kamu melamun, babe..” sapa pemilik suara sopran itu parau. Kiranya alcohol membuatnya masih kacau.
“tidak.. aku hanya memperhatikan dia” Ayumi menunjuk keluar.
“ahhh… banci itu” entah kenapa, kata ‘banci’ itu seperti menusuk-nusuk Ayumi.
“jangan begitu…” sanggahnya.
“come on babe.. aku ingin menciumimu lagi.. seperti semalam. Terus dan terus. Mendengar eranganmu.. ayo sayang..” Ayumi menggerakkan bahunya, menolak.
“ini siang hun… aku lelah” katanya pelan.

Tetapi pasangannya itu terus saja menciumi, hingga Ayumi tak sanggup menolak. Dan kedua perempuan itu terus bergumul hingga tamat. Satu sisi hati Ayumi teriris, berpikir kembali akan pilihan hidup menjadi femme.


……………………

Note:
- Scarlet Pimpernal karya Baroness Orczy bercerita tentang perjuangan “pacar merah” dengan setting revolusi Perancis. Tan Malaka disebut-sebut sebagai Pacar Merah Indonesia.
- Dildo: Peraga berbentuk penis. Biasa dipergunakan untuk sosialisasi latihan menggunakan kondom
- Femme : lesbian perempuan sementara pasangannya disebut butchi (lesbian laki-laki)

14 comments:

KABASARAN said...

Hmmmmm .... aku hanya bisa komen seperti kata pepatah belanda " jangan berbantah soal selera ".
Ada banyak Ayumi diluar sana , ada banyak "banci " diluar sana ..sejatinya tidak ada ayumi tidak ada "banci " yang ada adalah jiwa-jiwa utuh yang mungkin saja terperangkap dalam cangkang yang salah.
he-he-he ..nyambung ngka sih ?.

G said...

Ooh Noo... terlalu "berat" yg ini buat saya, saya sulit melihat melampaui "atribut2" yang dipakai di sini.

Satu hal yang saya garis bawahi yaitu Hesra memakai kata ini: "pilihan" bagi gaya hidup Ayumi. Diluar sana masih begitu bnyk yg mengkambinghitamkan unsur genetik atau penyimpangannya. saya sendiri cenderung setuju dengan kata "pilihan".

Mbah Koeng said...

kasian juga sich.. kadang harus ngeluarain biaya mahal agar untuk dapat sebuah pengakuan !!

goenoeng said...

sampai sekarang, masih ada pertanyaan2 yg kadang tiba2 muncul di benakku. dan diantaranya adalah ini :
kenapa ada orang2 yg diciptakan seperti Ayumi, atau yg diciptakan 'salah', menurut istilah umum. padahal, Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu secara sia2.
dan rasanya terlalu banyak jawaban2 yg muncul, tapi masih ngambang.
nah...

ngomong2, yg tentang kopi tanpa glukosa itu, sebenarnya bercerita tentang siapa sih, Hez ? :D

faizz said...

ada dengan perempuan "tidak utuh" itu, sehingga dia begitu menggodamu?????

djoko wahjuadi said...

...iya ya,..tapi itu memang ada dan nyata...jadi mari kita sambut mereka sebagai perona kehidupan kita...karena 'mereka' juga bagian dari 'kita'...

ARIEF FIRHANUSA said...

Ayumi mencecap lagi, sesungguhnya tak boleh. Tapi, siapa tak tergoda aroma nya yang kental hangat? Tapi ia tak buru-buru menyeruput, pantang baginya! Ia akan menunggu kopi panas itu perlahan menguapkan kalor supaya lebih bersahabat dengan lidah. (Alinea ketiga naskah ini).

Kopi, kata pecandunya, bukan kepul panas yang dicecap, tetapi nilai pahitnya, filosofi pahitnya: pahit itu akan menyusuri aorta darah, membangun spirit untuk sebuah pendakian.

Seperti pendakian 'seseorang' yang gerak geriknya disimak oleh Ayumi itu.

Nice posting, sist.

Erik said...

Apa yg dialami Ayumi sekarang, bisa jadi karena kekeliruan orang tua saat menerima kehadiriran dirinya.

Saya sering membaca kisah hidup mereka. Saat dia masih balita, dia diperlakukan tidak sesuai dengan jenis kelaminnya. Karena pingin anak perempuan, anka laki lakinya diperlakukan bak anak perempuan. Bertahun tahun dia diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya, hingga akhirnya perkembangan jiwanya menjadi menyimpang.

goresan pena said...

teman-teman...setelah posting ini saya buat dan membaca satu persatu komentar teman-teman.. saya merasa sedih....entahlah karena apa...
seperti jiwa ayumi yang mempertanyakan mungkin...
saya sedih, mengapa ada kata 'menyimpang?' mengapa ada kata 'kasihan?' kenapa ada kata 'dicipta salah'? kenapa ada kata 'tidak utuh'?

saya seperti kembali terperangkap dalam jaring mainstream dimana yang berbeda menjadi sesuatu yang aneh!

saya merasa lega dengan komentar mbak G, sungguh! bukan karena mbak G sama-sama perempuan...

tapi, saya sangat menghargai pendapat teman2 semua...tapi mari kita berpikir lagi...saya ajak dengan kerendahan hati tanpa bermaksud apapun...(hanya berpendapat saja)..

kita bayangkan kita kita...yang mengaku normal ini berada di posisi mereka yang 'minority' (saya lebih senang menggunakan kata itu). bagaimana jika mereka yang lebih dominan dibanding kita? bukankah keadaaannya akan terbalik? justru mereka akan mengklaim diri mereka normal sementara kita yang abnormal, aneh..menyedihkan..

orientasi seksual kita terbentuk dari pola mainstream.
tetapi, memang kita perlu membedakan mana yang transgender dan mana yang transeksual.saya benci menggunakan kata 'banci' sebenarnya, saya lebih senang kata 'waria' kendati ternyata banyak komunitas waria masih menamai diri mereka banci. Pak, kabasaran... menurut saya, kendati orientasi seksual mereka berbeda dari kita yang mengaku normal ini, tetapi, jiwa mereka tetap utuh..cangkang yang salah??? siapa pembuatnya? apa lantas kita menyalahkan pencipta?

Mbak G, demikian juga saya mbak...skendati saya insyaAllah mampu menerima mereka sebagai sahabat, teman, tapi mungkin belum untuk anggota keluarga.
sepakat sekali lagi, memang pilihan, karena sesungguhnya, rasa suka terhadap sesama jenis itu dimiliki setiap orang. buktinya, perempuan cenderung meniru model berpakaian atau cara berbicara artis tanpa disadari atau figur terkenal lain, dan kadang berdecak kagum saat melihat perempuan cantik lewat. begitupula dengan laki-laki sesungguhnya, hanya mereka terlalu lihai menyembunyikan. buktinya, kenapa mereka selalu iri dengan laki-laki yang banyak digandrungi perempuan2? (hehe...sangat subjektif yah...)
hanya saja kan, kembali itu semua pilihan...

mbah koeng yang cucunda hormati...hahahahaha...heheheh (becanda...)
menurut saya, kita tak perlu kasihan...karena itu semua mereka lakukan dengan senang hati...tanpa sebuah paksaan...sama seperti kita menjalani hidup kita..

mas goe...banyak jawaban, dan tentu masih banyak misteri...untuk itu rasanya Tuhan menghadiahi kita otak yang berukuran kecil tapi bisa merangkum 1500 kata dalam tiap menitnya...hehehhe (apa coba...)
mereka tidak dicipta salah mas...semua pilihan, rasanya!
ngomong-ngomong juga...kopi tanpa gula?hehe... yukkk....heheheh...itu aku!

faizz sahabatku...benarkah mereka perempuan tidak utuh...?
kebetulan teman2ku ada yang lesbian...dan menurutku wow...secara fisik...hehe, aku aja iri...
mereka tetap utuh, pun alat reproduksi mereka, hanya masalah orientasi seks, semua pilihan

pak djoko...he...welcome...lama menunggu koment bapak..mari pak..dengan lengan terbuka...

mas arief...
fiuhh...seorang penulis handal memang punya cara sendiri untuk mengomentari...habis kata saya mas...

mas erik...
bisa jadi mas...
tapi, alangkah sedihnya...menjadi orangtua...
kita bayangkan yang extreme...
seandainya anak kita seperti itu, apakah kita mau mengakui dengan lapang dada, kita yang salah dan gagal??
oho...

eniwe...
tterima kasih...terima kasih untuk komentar di posting ini...
terima kasi banyak mbak G yang membuat saya merasa berani untuk menulis lebih 'berani' tentang isu yang tak lazim sekalipun...
you're my trigger bu...heehhehehe...jadi semangat nulis lagi...

G said...

@Hesra, wow.. you're welcome, inget aja, one day waktu buku2nya sudah beredar, saya harus dapat tanda tangan, hihi, dan traktiran kopi, tapi kalau saya pakai gula dan jangan terlalu kental (tak mampu mencerna kopi kental).

Bravo Hes! Saya tidak punya keberanian dan kemampuan untuk menulis topik2 semacam ini. Ada tembok yg menutupi pikir dan saya cenderung kembali melihat matahari (bagi saya topik ini seperti kopi kental dan pekat yg tak mampu dicerna oleh lambung saya).

(^_^)

goenoeng said...

aha, aku bilang *yg diciptakan 'salah', menurut istilah umum.*
itu bukan berarti aku temasuk didalam kategori umum, kan ?
hmm...hmmm...

PraMesWaRi said...

Bacaan yang tak biasa buatku Hes,...
dunia yang tak biasa juga......
Buatku setiap orang punya hak atas cerita hidupnya sendiri-sendiri tapi siap juga untuk bertanggung jawab.
thats all.
betewe...penggambaranmu untuk sang tokoh bagus banget

KABASARAN said...

Satu detik saja Hez.
mereka adalah jiwa-jiwa utuh yang terperangkap dalam cangkang yang salah.
barangkali dengan mengakui bahwa mereka adalah jiwa-jiwa utuh dan sama halnya dengan kita tentu tak kan ada pandangan-pandangan diskriminatif terhadap mereka.
Bukankah kita dengan mudah menerima tampilan phisik suatu benda yang beda dengan substansi isi ( baca jiwa ) yang sama.
Amsalnya sedikit agak lebay nih.

Satu detik saja Hez..hanya satu detik.

Nyante Aza Lae said...

ngomongin dildo, ngomongin silicon
(*bertanya dalam hati, benda apa gerangan...)
xixixixiixix