05 March 2009

Bergerak Cepat (Pelarian Verse) Bag.7 -Selesai

Seluruh penduduk bersuara riuh. Ketua dewan kota turun dari singgasananya.

“pencundang!” umpatnya.
“aku datang mengakui dosa! Tapi aku ingin memperbaikinya. Aku ingin meminta Gissele dengan caraku. Biarkan dia pergi. Biarkan dia memilih. Biarkan dia mengatakan apa yang dikehendakinya”
“mulutmu bau kotoran kuda! Tidak pantas kau berkata demikian. Hukuman mati pun terlalu mudah untukmu”
“aku akan hidup. Untuk itulah aku ke sini”
“nyalimu sangat besar, anak muda. Tapi tidak dengan keberuntunganmu. Kau tetap akan mati, apapun yang kau katakan”

Gissele menyela.
“biarkan aku pergi, mengikutinya.ijikanlah.. ikhlaskanlah..”
“ini bukan masalah keikhlasan! Ini masalah harga diri. Pun seandainya kau mati di makan harimau, tidak ada yang akan menangisimu di sini. Tapi kau telah menginjak-injak martabat penduduk di sini. Kau lah perempuan yang di kutuk itu. Kau lah yang membunuh kedua orang tuamu. Bukan kami. Kau yang menyulut api untuk membakar rumah mu sendiri. Itu kau!! Tak sadarkah kau? Tak malukah kau pada kaca? Lalu dengan enteng kau minta keikhlasan untuk membiarkanmu pergi? Kau pikir kami ini apa? Manusia tidak tahu balas budi”
“aku memang salah…..” ujar Gissele datar…hambar.

“aku tidak mau memperlama ini. Tangkap lelaki itu, bawa kandang harimau ke sini. Dan tepat di hadapan kalian semua penduduk kota, akan kalian lihat, tubuh pecundang ini di pecundangi dengan harimau buas itu. Sementara untuk wanita jalang ini, biarkan dia membunuh dirinya sendiri. Dudukkan ia tepat di hadapan kandang, agar ia dapat melihat pemandangan yang takkan dilupakannya hingga mati. Lalu berikan belati padanya. Biar dia sendiri yang membunuh dirinya. Tidak ada yang sudi menyentuh sehelai rambutnya, apalagi tubuhnya yang kotor dan nista itu”

Seperti biasa, persiapan tidak begitu lama. Secepat mungkin Lucarsa di masukkan ke dalam kandang dengan 3 ekor harimau di dalamnya. Harimau yang tentu saja sudah sangat lapar.

Di depan mata kepalanya sendiri, Gissele menyaksikan tubuh kekasihnya mulai tercabik-cabik. Tapi ia tidak meronta, Gissele pun tidak menangis atau meraung, semua dilihat dengan ketenangan luar biasa. Inilah harga untuk sebuah cinta. Ini bukanlah sebuah penghinaan. Inilah keutuhan dari kebahagiaan yang lebih besar lagi. Ini bukan pengorbanan. Tapi ini adalah kebahagiaan itu. Ini pembuktian.

Lucarsa berlutut sambil menatap mata kekasihnya, seakan meyakinkan. Aku selalu mencintaimu… selalu, biarlah begini..biarlah, ini tidak membunuh cinta kita. Ini lah cinta kita.

Gissele terhenyak, menyaksikan bagian-bagian tubuh kekasihnya terhabisi. Telinganya tidak lagi utuh, jari-jari, lengan.. mata….hingga yang teronggok hanya berupa daging sisa.

Belati di genggamannya bergetar. Ingin ia segera mengakhiri, mana bisa rasa mual ini ditahannya lagi. Tapi tidak, dia harus kuat. Nafasnya memburu. Sesuatu di dalamnya ingin pecah. Perlahan ia bangkit. Gerakannya membuat mata penduduk langsung tertuju padanya.

“kalian… beruntunglah kalian tidak pernah di posisi ini! Beruntunglah kalian tidak pernah merasakan ini!! Aku bukan kalian! Aku bukan kalian yang memilih diam-diam bercumbu saat suami-suami kalian pergi ke ladang! Aku bukan kalian yang menutupi tubuh mu dengan rok rok panjang, padahal rok itu telanjang! Dan aku tidak akan mati! Tidak akan! Aku bukan pengecut seperti kalian. Aku tidak akan mati dengan belati ini! Asal kalian tahu, mati tidak menyelesaikan apapun. Aku akan menghadapi kalian! Apapun yang akan kalian lakukan, lakukanlah. Aku yang akan menghadapinya. Aku sadar sepenuhnya kesalahanku sebelumnya. Tapi, kalian salah jika beranggapan aku akan bunuh diri. Memang butuh keberanian untuk merobek leher sendiri, tapi, itu tidak butuh keberanian lebih. Keberanian yang dibutuhkan ialah keberanian untuk hidup. Untuk mengakui dosa-dosa dan mengahadapi hari esok. Untuk menghadapi konsekwensi dari dosa-dosa yang kuperbuat. Aku akan hidup. Untuk mempertanggungjawabkan ini. Aku akan memikul semuanya. Aku akan hidup”

Mata-mata itu terpaku. Terporos menatap wanita yang sepertinya sangat lemah tetapi menyimpan kekuatan yang maha dasyat.

Angin membawa aroma darah sampai ke tubuh-tubuh mereka. Sebelumya, tidak sedikitpun mereka merasakan kengerian itu. Tapi sekarang, mereka menyadari, betapa sungguh biadab nya mereka. Betapa mereka begitu bernyali, menjadi pembunuh.
Terkadang, penyesalan memang selalu datang di akhir kesempatan, tetapi itu semua tidak berarti membunuh kesempatan untuk memperbaikinya.
Sebuah cerita telah lewat, dan akan tergantikan dengan cerita lain, suatu saat nanti.

28 Maret 2008
1.58 PM

6 comments:

KABASARAN said...

he-he-he ... sebuah ending yang masih menyisakan tanya ... ada apa dengan gissele ?. akankah dia tetap hidup ?. ada apa dengan sesalnya orang2 ?. akankah ada pencerahan baru makan cinta yang mereka pahami...
akh ..aku hanya bisa mereka-reka.

lagi-lagi cinta telah melihatkan kuasanya minimal menggerakkan seorang hezra menulis cerita ini.

btw ..menurut ilmu biologi molekuler ... cinta adalah bonus yang diberikan oleh "kuasa gen" atau tuhan 2 kecil genetika dalam rangka mempengaruhi inangnya ( manusia ) untuk menggandakan kehidupan mereka ( tuhan2 genetika )dengan cara mempertemukan sel telur dan sperma ... he-he-he artinya kita adalah inang-inang yang diperdayai bonus oleh "zarah abadi" ( kuasa gen ) yang ada dalam tubuh kita dalam rangka mempertahankan existensi mereka.

Ironic sekali khan ?.

Aku adalah kamu
Sejati-jatinya kamu
Bersemayam dalam tubuh-tubuh
mengendali tanpa tali
melintasi generasi
Jasmani boleh binasa
Namun Aku kan selalu ada
Menggoreskan ciri dan tanda
Menembus waktu dan masa
Membawa warisan lama
Agar tak binasa
Melalui cangkang-cangkang
Salah satunya adalah kamu

shalimow said...

salam kenal ya
wah asyik banget sajian postingnya
jadi terhanyut bacanya

thanks ya

shalimow said...

salam kenal ya
wah asyik banget sajian postingnya
jadi terhanyut bacanya

thanks ya

G said...

Terimakasih!!!! Tidak akan patah, jangan mau patah. Haha! Yups, saya memahami sekali sosok Gissele, situasi dan manusia2 di luar diri kita mmg berada di luar kendali kita, namun bukan berarti mereka berhak untuk mematahkan kita apapun juga yang terjadi. Ini soal kemauan dan kejujuran, juga harga diri dan harga yg harus dibayar untuk mempertahankan dan memperlihatkan sebuah prinsip.

aziz said...

wah keren.,.,

aq sampai baca dua kali.,.,.,.

Nyante Aza Lae said...

mbak harus bayar mahal akibat dari postingan ini!
Dah brapa batang rokok yg dq habiskan, kadang pas ngantuk dipaksa-paksain....
hmmm, wlo sedikit terengah2 mbacanya, akhirnya tamat juga..
nice post!!!!