30 December 2008

LUH BERTEMU JINGGA DI MATA ROMO

Tidak ada tempat yang tidak indah, semua indah. Romo mengingatkan jikalau semua tempat ialah indah. Hanya kawula yang membedakannya. Tinggi rendahnya gunung, di tebing atau lembah. Sama saja, semua indah. Tapi kawula yang membeda-bedakannya.

Tapi Luh merasa, tempat ini jauh lebih indah dari yang biasa ia temui. Romo bilang, itu karena kebiasaan saja. Yang tak biasa terasa lebih baik. Mungkin Romo benar.

”kita akan mendaki lagi Romo?”
”bukankah engkau hendak mencapai puncak, Ndhuk?”
”nje Romo. Apakah di sana lebih indah dari di tempat ini?”
“bisa jadi, karena kita tidak biasa berada di sini”
“Romo, itu pohon apa? Aromanya begini segar..”
“itu pinus, di sebelah barat itu cemara-cemara”

Luh memungut pinus-pinus kering yang terjatuh di tanah. Ia menyimpannya dalam sisa jarik yang membalut sebagian tubuhnya. Tak habis takjub Luh. Padahal tempat ini tidak jauh dari pondok mereka. Tetapi mengapa baru sekarang Romo mengajaknya ke tempat ini?

Tanjakan semakin terjal. Jalan setapak yang harus dilalui terlalu licin, dan Romo harus membuat jalan baru. Luh menggenggam jemari Romo erat. Tak sekalipun hendak dilepas jari jemari Romo. Luh tak pernah sempat melihat pemandangan di depan, tidak juga kiri ataupun kanan. Yang ia tahu hanya punggung Romo. Tubuh Romo yang berada di depannya.

”capek Ndhuk?”
”mboten, Romo..”
Kalimat itu terucap dalam nafas yang tersengal. Luh sadar ia kelelahan, tapi ia masih ingin terus. Ia seperti tertantang untuk terus mendaki. Telapak kaki Luh sudah terluka sedari tadi. Ranting-ranting kering, juga ilalang menyayat tanpa disadari.

Romo berhenti.
”tak usah dipaksa, mata kaki mu lemah”
”tidak Romo, aku masih kuat” nafas Luh lebih terbata.

Romo mengerti, lalu menarik lengan Luh dan mendudukkan di pangkuannya. Detak jantung Luh begitu kencang. Luh merapat pada dada Romo. Anehnya, nafas Romo tetap teratur, detak jantungnya pun sama saja seperti sediakala.

”Romo tidak lelah?” tanya Luh yang kemudian hanya dijawab dengan sebuah senyuman. Entah, Luh masih belum mampu mengartikannya.
”lihat ke sana Ndhuk..” telunjuk Romo mengarah ke selatan.
”wahhh... indahnya Romo..apa yang berkilatan itu Romo?”
”itu lautan Ndhuk, perlu dua hari berjalan kaki ke sana dan seperempat hari berkuda”
”lantas, ada apa lagi di sana Romo?”
Kemudian pandang Romo sejurus ke depan tak bergeming. Romo seperti tertatih menuntun pikirannya. Wajahnya seketika membeku. Kiranya terowongan memorinya tengah berkelana, menyusuri jalan-jalan setapak masa lalu.

Di bawah awang-awang kesadaran, Luh memperhatikan guratan wajah Romo. Luh masih tak mengerti. Luh tak faham makna diam Romo. Tak biasa Romo tak menjawab pertanyaannya. Satu hal yang Luh tahu, bahwa ini adalah saat nya menunggu, menunggu Romo terbangun dari diam. Luh tak punya kemampuan bahkan keberanian untuk membuyarkan lamunan Romo.

Satu bulir airmata jatuh di pipi Romo, seketika diseka dan Romo mengalihkan pandang. Terlambat, karena Luh lebih dahulu menangkap. Hanya saja kali ini Luh tak berani bertanya, bahkan berkomentar. Entah, ada getar aura yang seperti membungkam mulut Luh.

Hanya matanya yang sesekali beralih antara hamparan pemandangan dan wajah Romo.

Sepertinya, keseimbangan jiwa Romo berderak-derak.

”di sana ada Jingga, anakku.. ada senjakala yang begitu indah bila kita amati dari sini”
Luh masih menanti kisah selanjutnya, bibirnya masih kaku bergerak.

”lalu, di sana ada sebuah kenangan indah Ndhuk.. dulu di sana, ada sepasang muda-mudi yang memiliki sebuah harapan besar akan cinta. Kiranya, Gusti Sang Hyang Wihdi tak berkenan. Maka jadilah cinta mereka direjam aral”

”ceritakan Romo..” pinta Luh, akhirnya.

”ada seorang pemuda, Ndhuk.. yang hidupnya berkelana dari satu desa ke desa lain, ia berniat menjadi ksatria, tapi darah yang mengalir tak menghendaki demikian. Pemuda ini lalu jatuh cinta pada seorang perempuan yang ditemuinya saat mencari tanaman obat.

Beberapa kali pemuda ini mengamati perempuan itu dari pepohonan. Tiada nyali untuk mendekati. Hingga suatu ketika, pohon Maja tempat berlindungnya itu, menggugurkan buahnya. Sehingga perempuan itu mengetahui ada seorang pemuda yang tengah mengamati.

Anehnya, perempuan itu tak tampak ketakutan atau menaruh curiga. Baru belakangan, pemuda tersebut mengetahui kalau si perempuan telah tahu dirinya diamati sedari pertama.

Jiwa asmara menggetarkan sang pemuda, tetapi cinta itu harus segera dipupusnya, seberapapun menarik dan ayu si perempuan. Perempuan itu ialah seorang Padmi (istri) Tumenggung”

”Padmi Tumenggung, Romo? Bagaimana mungkin dia berkeliaran mencari tanaman obat?”

”itulah Ndhuk yang juga membuat bingung si pemuda. Mana pernah ia menduga sebelumnya. Kau tahu Ndhuk, perempuan itu ialah perempuan yang welas asih, ia seringkali menyaru (menyamar) untuk bisa mengobati kawula serta mencari bahan obat.

Orang banyak memanggilnya Jingga. Karena dia akan pulang saat langit sudah kemerahan, di saat senjakala. Dan para kawula yang membutuhkan pengobatannya akan kecewa, karena mereka tidak tahu hendak mencari dimana.

Dan tidak ada yang tahu kalau perempuan itu ialah istri Tumenggung”

”Romo, apakah Den Rara Jingga juga mencintai pemuda itu?”
”mungkin.. kurasa iya.. tapi entahlah.. apakah ada cinta untuk seorang yang telah termiliki?”
Jawaban Romo seperti sebuah pertanyaan untuk dirinya sendiri.

”mengapa Romo? Bukankah dulu saat aku ingin memelihara Beranjangan dan membuatkannya sangkar, Romo mengatakan itu tidak perlu, karena bila aku mencintai Beranjangan itu, maka aku tidak perlu memilikinya. Aku bisa terus mengamatinya dan sesekali ia bisa main. Begitu kan Romo? cinta tak harus memiliki kan Romo?”

Romo tersenyum. Belum sempat menjawab, Luh sudah melanjutkan lagi.

”Romo mengenal Den Rara Jingga?”

Seperti ada cairan kental dan pahit yang sudah terlanjur berada di kerongkongan sehingga mau tak mau Romo harus menelannya.

”Gusti...” desahnya. Lalu Romo mengusap wajahnya. Sedetik kemudian, Romo tersenyum kembali pada Luh. Senyum yang lagi-lagi bernada entah.

Romo berdiri dari duduknya.

”tunggu di sini Luh..” perintah Romo seraya bangkit dan berjalan pelan mendekati pohon bambu. Diam sebentar mengamat, kemudian ia mematahkan tangkai bambu muda. Romo memutuskan helai daun, membawanya pada Luh dan kemudian duduk lagi di samping anak gadisnya itu.

Romo memilin ujung daun bambu, setelah itu meniupnya. Ajaib! Alunan irama nan merdu mengalir dan membahana di sambut tebing yang landai di hamparan tepat di depan duduk mereka.

Tapi Luh merasa ngilu mendengar sayatan irama itu. Lagi-lagi, berpengertian entah.

Romo menghentikan lahirnya suara-suara itu. Lantas Romo menarik lengan Luh dan mendudukkannya di pangkuan kembali.

”sini Ndhuk.. duduk di pangkuan Romo”
”nje..”
”kowe anak pinter Ndhuk.. Romo akan cerita tentang Betara Wisnu..”
”nje Romo.. aku siap mendengar..”
”jadi Ndhuk.. Betara Guru memiliki delapan anak, yakni Sambu, Brahma, Indra, Bayu, Wisnu, Ganesha, Kala dan Hanoman. Yang kelima inilah yang kemudian memerintah 9 tempat, diantaranya Gunung Merapi, tempat kita bernaung ini Ndhuk..

Hingga kemudian Wisnu jatuh cinta pada seorang Putri dari Medang yang menjadi Lembu Peteng (simpanan) Sang Betara Guru sehingga menyebabkan Betara Guru murka bukan kepalang. Dan Betara Wisnu diperintahkan hengkang untuk bertapa.

Sampai nanti, pertapaan Betara Wisnu dihentikan saat akan melawan Raja Watu Gunung, Penguasa Kerajaan Giling Wesi”

”siapa Raja Watu Gunung itu Romo?”

”Raja Watu Gunung ialah Raja dari Kerajaan Watu Wesi, Ndhuk.. yang memiliki Permaisuri (istri) yang ternyata juga ibu kandungnya (inget cerita Sangkuriang Toh?:P). Dan atas kehendak Permaisuri, Raja Watu Gunung diminta untuk naik ke khayangan demi melamar bidadari, alih-alih melamar bidadari Ndhuk.. Permaisuri berniat membunuh suami yang sekaligus anaknya itu.

Dan Permaisuri meyakini dengan naiknya Raja Watu Gunung ke khayangan, maka para Dewa akan membunuhnya. Ini ialah permintaan langsung Permaisuri terhadap Betara Guru.

Lalu Betara Guru meminta para Dewa untuk mengahadapi Raja Watu Gunung, hanya saja para Dewa tiada yang sanggup. Sehingga kemudian Betara Guru meminta pertimbangan Narada untuk memberi petunjuk siapa yang mampu menandinginya? Dan Narada mengusulkan Betara Wisnu.

Akhirnya, Betara Wisnu menang dalam menghadapi Raja Watu Gunung.

Tapi delalah, Permaisuri membuat dunia khayangan geger, dengan permintaannya untuk menghidupkan kembali suaminya yang telah mati.

Dan untuk Betara Wisnu, atas kemenangannya itu ia diberkahi kekuasaan atas Markapada, alam para lelembut (makhluk halus), Gunung Merapi, Pamantingan, Kebareyan, Lodaya, Kuwu, Wringin Pitu, Kayu Ladeyan dan Roban.

Sementara setelah itu, Giling Wesi diperintah oleh Betara Brahma.

Tapi Ndhuk, yang hendak Romo ceritakan ialah mengenai perasaan cinta Betara Wisnu. Kendatipun cinta itu maha suci, tetapi ada tempat-tempat dan keadaan dimana cinta itu tak lagi menjadi suci, justru cinta mencipta jenang (bubur) lumpur untuk siapa saja yang tak mengindahkannya”

”tetapi Romo, mengapa Betara Wisnu harus dihukum atas cintanya Romo?”
”Ndhuk.. cinta memang buta, tetapi kita tidak buta..”
”tapi Romo, jika Betara Guru berbuat alpa, maka siapa yang akan menghukumnya?”
”masih ada Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Tunggal, anakku..”
”ahh... Romo, bukankah cinta itu adalah anugerah?”

Romo kembali terdiam sejurus. Tak mampu bersuara apapun. Kenangan dan ingatannya kembali tercabik-cabik.

Ingatannya pada Jingga, perempuan yang menggetarkan sukmanya. Yang mampu mempermainkan debar-debar aneh dalam pusara hatinya. Yang hanya mampu dijamahnya tapi tak boleh dimilikinya. Sudah lama ia tak mengamat senjakala di kejauhan.

Sementara Luh memperhatikan manik mata Romo. Dan hari itu, Luh menemukan cinta. Cinta lain Romo, yang telah dibungkamnya dan sekarang meronta hendak keluar. Ini cinta Romo yang dulu, bukan pada Ibu. Tapi milik seseorang bernama Jingga. Kelak, saat Luh sudah sedikit lebih dewasa, baru ia akan mengerti, betapa cinta mampu menjungkirbalikkan hidup seseorang. Tak terkecuali dirinya. Tak terkecuali Romo. Tak terkecuali Betara Wisnu kendati ia seorang Dewa.

Hari ini, Luh bertemu Jingga di mata Romo.

Tapi dalam hati, Romo berkali-kali berujar ”nrimo ing pandum, Nok... ’nrimo’ lembah manah dan tansah legawa”

---o---

Jogjakarta dalam hujan di sisi jendela,
29 Desember 2008
23:09
(ditemani Satu Hati:Dewa19)

NB: terima kasih untuk Romo atas inspirasi yang tak pernah tuntas. Makasih juga untuk sahabat yang kutelpon malam2 untuk kutodong bercerita tentang kekasih Betara Guru, terima kasih untuk Sachy anakku sayang yang sudah bisa nembang-in tembang yang dikarang ’ngawur’ dengan mama nya di tulisan LUH.
Mohon maaf jika mungkin terdapat kekeliruan, terutama bahasa dalam tulisan ini. Maklum, sampai detik ini saya masih belum mampu berbahasa Jawa. Hanya ingin belajar.

6 comments:

Erik said...

Luar biasa Hesra, tulisannya ditata dengan sangat apik. Banyak pembelajaran saya temukan dalam tulisan ini.

Great post Hes. Salut...

goenoeng said...

nah, gitu dong. kenapa harus bersembunyi ?

buat orang yang ngakunya belajar :D . tulisan ini enak sekali, Hez. mengalunnya masih senada dengan LUH.

ayo, ayo...mumpung liburan, ngobrak-abrik shoping, cari komik wayang dan primbon ! haha....

djoko wahjuadi said...

...Luh, 'celoteh dan pertanyaanmu' telah menggali 'belik' kesadaranku....

ipanks said...

wah, kok sama ya mbak, saya juga dapat kalimat nrimo ing pandum. hmmm..

suwung said...

mengalir kata katanya
mak klenyer klenyer
enak banget

Jenny Oetomo said...

Wah memang cinta kadang bikin puyenk, namun sangat menyenangkan bila benar penempatnnya, Salam