09 September 2008

seandainya semua lebih mudah


angsana tua.
betapa rindang dengan guguran dedaunan.
cokelat di atas selimut rumput tebal.

angsana tua,
berlingkaran tahun lebih banyak
dibanding teman-temannya.

angsana tua
menaungi bangku taman berkorosi
di bawahnya.

ada aku yang trepekur di situ..

kutanya pada angsana tua,
adakah dia pernah merasa sepi?
jawabnya tidak.

selalu ada burung-burung
yang singgah dari penjelajahan

lalu kutanya kembali..
apa tak merasa kehilangan,
saat daun-daun berguguran?

itu cintaku, jawabnya.

dia pergi untuk tumbuh yang baru,
pucuk-pucuk menanti

ah, angsana tua..
seandainya perasaan bisa sebijaksana engkau..

hei, apakah kau punya perasaan?

aku tidak yakin..
keningmu berkerut,
angsana tua.. jawablah!

kenapa usiamu begitu lama?
sedang kebersamaan yang kurasa
di bangku yang kau naungi ini,
hanya sekejap?

kenapa usia mu begitu tua??
pohon angsana yang bijaksana..

seandainya semua lebih mudah.

9 comments:

gus said...

pohon, daun gugur, tepekur, pucuk menanti, tua, :....saya melihat magnitude milan kundera disini....tentang kebijaksanaan yang absurd.

Jenny Oetomo said...

Saya belum tahu arti angsana itu apa? ada yang mau kasih tahu Salam

Erik said...

Angsana itu apa ya.. yang saya tau kata angsana sering digunakan untuk nama jalan. Kalau pohon angsana (Pterocarpus indicus) biasanya digunakan sebagai pohon peneduh jalan di kota. Warna bunganya kuning. Ternyata zat aktif yang diekstrak dari daun angsana ternyata memiliki sifat antijamur.

Djoko Wahjuadi said...

"...aku belum tua nak, aku hanya telah hidup lama, sehingga kau menganggapku bijaksana..." Jawab angsana.

Multama Nazri said...

kadang memang kita inginkan semuanya mudah....itu wajar dan alamiah..

Azhar Helmi Muttaqin said...

lam kenal, pinter banget ni tulis2 puisi.
Spt lagu iwan fals kita berguru pada makhluk yg katanya tak berakal.
Memang ayat2 Tuhan bisa ada dimana saja, kalau kita mau mengkaji, memahami, dan mengambil pelajaran dari mana saja, dari siapa saja

goresan pena said...

Gus; iya, milan kundera memang senantiasa memberi inspirasi.."monologues", Man; a widw garden.
trims pak...
salam.

jenny oetomo dan erik; benar...angsana itu pohon peneduh..
nama lainnya cendana merah atau sonokembang. termasuk golongan kayu keras yang baik utk lantai (kalau di kalimantan barat, masih banyak yg rumahnya menggunakan kayu). pohonnya mampu memfiksasi nitrogen.
pohon ini selalu saya temui di tiap sekolah di kalimantan. dari SD, SMP bahkan SMU. begitupun saat 'main2' ke sekolah lain.
tapi kabarnya sekarang, jenis tanaman ini terancam punah diakibatkan eksploitasi besar2an...
hehe, sedikit info ini semoga bisa membantu.

Djoko : nah, itulah pak...
setahun lalu, ketika saya pulang ke kalimantan dan mengunjungi SD tempat saya sekolah dulu, pohon yang di bawahnya dulu saya sering bermain lompat tali, kelereng, lak, membuat benteng dari pasir (karena halaman sekolah adalah hamparan pasir) dan terkadang menyobek kertas ulangan nilainya jelek serta menguburnya di bawah.. ternyata masih tumbuh kokoh. walau tak setegap dahulu. dulu rasanya dia begitu tegap, tinggi...tapi, sekarang, dia tidak setinggi dulu. mungkin karena saya bertambah tinggi..
ah, dia memang sudah tua pak..seperti mbah saya yang dulunya tegap, menjelang akhir usianya, tubuhnya membungkuk..
dia sudah tua pak, walau belum tentu bijaksana.

salam...

Multama: hahaha...benar sekali teman, begitulah....

Azhar Helmy: terima kasih telah maen ke rumah saya...salam kenal.. saya sepakat! dan bisa juga saya nanti belajar dari dirimu yah pak...?

timur matahari said...

mbak..
saya tidak menjudge
tapi memahami kalimat mbak banyak romantisnya..
skali saya ingin mengulang..
kok mbak membenam skali di beberapa postingan terakhir tentang rahasia perasaan?
seperti ada yang disimpan.. tapi butuh waktu lama untuk menjelaskan..
mungkinkan penyair ini sedang jatuh cinta?he,..he..

goresan pena said...

hm, jatuh cinta??
tepat sekali...aku memang lagi jatuh cinta..jatuh cinta pada diriku sendiri...diriku yang baru, yang baru saja kutemukan...diriku yang lebih 'hidup'...
...selamat datang Belia, di dunia penuh warna...