11 November 2008

Simpul Mati Part.2 (Larung)

..yang kutahu pasti..kubenci tuk, mencintaimu..



"berapa lama?"
"entahlah.. mungkin sehari, mungkin juga seminggu, setahun, sewindu..atau tak kembali?"
"kemana?"
"entahlah.. aku pun tak tahu. tergantung kaki ini"
"bagaimana mungkin?"
"mungkin saja. aku ingin sesuatu yang merubah hidupku. aku bosan"
"apa yang kau cari?"
"entahlah.. mungkin diriku sendiri"
"maksudmu?"
"aku ingin menemukan diriku. aku ingin mengenal diriku. aku ingin bersahabat dengan diriku. tapi, aku tidak tahu siapa diriku"
"biar aku jelaskan. engkau bernama Lugas. berusia 30 tahun dan jelas kau seorang pria. dan kau akan menikah denganku. apa perlu kujelaskan secara detil?"
"aku tahu itu, Sha. itu lah yang selalu aku baca setiap ada kesempatan di lembar2 kertas identitasku. bukan itu.."
"apa lagi? tidak kah ini jati dirimu. kau hanya perlu menjalaninya.."
"tapi aku ragu. ragu dengan keinginanku. ragu dengan apa yang kujalani sekarang. aku ingin menemukan kebenaran. aku ingin menemukan diriku sendiri"
"kau pun ragu dengan hubungan kita?"
"ya.."

keduanya terdiam. perahu layar melintas, tenang di bawa gelombang. tak setenang hati mereka yang bimbang.

"aku semakin tidak mengerti Lugas.. padahal kupikir, akulah yang paling mengerti dirimu. tapi mungkin aku salah"
"jelas saja, karena akupun tak mengerti diriku sendiri. aku tak ingin mengecewakanmu lebih jauh. aku harus pergi."
"kemana?tanpa tujuan?"
"tujuanku jelas, aku ingin mencari diriku. dimana saja bisa. ke mana saja boleh. akan aku coba, sampai aku dapat"
"kau gila"
"maafkan aku Sha.."
"ah, kau sudah kumaafkan. tapi entah, apa aku bisa memaafkan diriku sendiri. diriku yang masih saja mencintaimu.."
"Sha..."
"sudah. pergilah.. kelak kau akan tahu. hanya aku, bukan yang lain"
"hingga detik ini pun, aku tetap menganggap kau yang terbaik"

angin sore yang dingin berhembus agak kencang, membius pikiran mereka. mengunci semua kendali kata-kata dengan rapat. tidak lagi ada yang bersuara. mereka diam, dengan seribu kata yang tak sanggup membobol keluar. sore itu, di tepi dermaga.. adalah perpisahan.

-----

ada kah manusia yang begini kejam?
di makan bumi tak jua
hilang dibawa kabut, tidak juga
adakah manusia yang begini kejam?
datang dan pergi meninggalkan harapan..
lalu menghalaunya bersama angin
adakah manusia begini kejam?
tak mau melanjutkan harapan kosong
tapi pun tak mau menyidahinya..
tak mengerti yang dicarinya.
ah,
adakah manusia yang begini kejam...?



sore berlembayung. persis 5 tahun lalu. gadis berambut hitam tebal mengkilat diterpa matahari yang semakin turun, berdiri di situ. di sisi dermaga. kali ini, dia yang akan pergi. meninggalkan harapan-harapannya..
dia sudah putuskan. tidak ada lagi yang di tunggu. sudah selesai. tidak perlu lagi menanti. untuk apa?untuk siapa? tidak ada... harapan kosong tak bertuan. sebuah kotak dibawanya. untuk di larung. supaya pergi jauh...hingga akhir aliran air.. aliran sungai...biar bermuara ke laut...biar masuk jauh ke palung palung...biar tersesat dan tak kembali ke negeri tak terjamah. biar menghilang di telan waktu..
airmatanya, adalah yang terakhir..besok, yang dia tahu hanya kebahagiaan.

--------------

10 tahun setelah perjumpaan terakhir.

"aku kembali, Sha.."
"aku lihat"
"aku kembali Sha.."
"ya. tapi kau tidka kembali untuk diriku. kau kembali untuk dirimu"
"tidak..aku sudah menemukan diriku. aku sudah dapat Sha.."
"apakah berbeeda dengan dirimu yang dulu? adakah yang berubah?"
"ternyata tidak Sha.. ternyata, inilah adanya diriku. yang ternyata tetap mencintaimu"
"terlambat Lugas. cinta itu sudah pupus. hilang..dibawa perahu layar 10 tahun lalu"
"apa salahku?"
"kau tidak salah. hanya saja, kau tidak bersyukur. kau lupa akan karunia Tuhan. kau lari, bukan mencari"

---------------

...aku tak tahu apa yang terjadi, antara aku dan kau
yang kutahu pasti.. kubenci tuk mencintaimu....

15 comments:

Erik said...

Bukankah kelahiran, hidup, mati dan jodoh sudah ada yang mengatur?

Walaupun kita merencanakan, masih ada Yang Maha Merencanakan.

Bulan Luka said...

benci dan cinta itu satu, cuma beda rasa

Djoko Wahjuadi said...

...setuju banget dg 'bulan luka'...benci dan cinta itu awalnya hanya 'emosi'...dan kemudian menjadi berubah menjadi 'sikap' ...diposting ini saya bisa melihat 'ketegaran sikap' .... indah sekali !!!!

Rakha said...

Just relax...

Jenny Oetomo said...

Cinta memang susah untuk diartikan dan datangnya tidak dapat direncanakan, tetapi sangat indah, eh kok jadi ngelantur ya, Salam

goenoeng said...

sist, aku merasa kamu mengalami kegelisahan belakangan ini. betul ?
dari tulisan2mu selama beberapa waktu ini....wow....jiwamu bergejolak.
yah, aku hanya merasakan seperti itu. semoga kamu menemukan yg hilang.
have a smile day, hez... :)

novnov said...

antara benci dan cinta amat tipis batasnya.....

Multama Nazri said...

tragis dan mengharukan....
semoga ini bukan kehidupan mbak aku..hehehe
tuk mencintai kita tidak harus tahu siapa kita, cintailah dia dengan dirimu yang sekarang (bukan yang dulu, bukan yang nanti)..
jadi curhat nih...udahlah ya mbak...tulisannya bagus aku ga bisa comment jadinya

istantina said...

benci dan cinta laksana sekeping mata uang yg sulit dipisahkan..

genthokelir said...

saya tak akan mengkultuskan tulisan ini sebagai kegelisahan penulisnya hahaha
namun yang saya tangkap mengembangkan management emosi menjadi sikap tegas dan lugas.
siapa karekter yang ada di dalam tulisan itu yang tahu kan cuman mbak...
tapi karakteristik tulisanya waduhhhh salut deh

goresan pena said...

* mas erik; benar sekali, jodoh itu kita yang menentukan, tetapi keputusan final tetap padaNya.
asal usaha itu sudah dijalankan dengan sunguh-sungguh

*bulan luka; setuju pak.. sama saja efek nya, hanya dengan taste yang berbeda

*pak djoko; yah, dalam cerpen ini, saya mencoba menggambarkan ketegaran sikap dari tokoh Shamsa, si perempuan. terima kasih pak..

*rakha; iya, santai...

*jenny oetomo; wah...sedng mengenang cinta yah mas..? memang indah, sampai tak bisa membedakan, mana yang menyakitkan, mana yang membahagiakan.

*mas goenoeng; well... saya cukup kaget dengan komentar mas... hehe, ternyata begitu yahpenangkapannya. hehehe....
mau cerita dikit. posting ini sebenarnya sudah pernah di posting bulan July, bisa di cek, dengan judul yang sama. posting ini adalah cerpen saja, berdasar dari imajinasi.
saya membayangkan dua pasang kekasih yang akan menikah, seringkali mengalami syndrome pre merrid. begitu pula tokoh Lugas dan Shamsa. ada pasangan yang berhasil melewati, tetapi banyak yang kemudian gagal. kegagalan itu salah satu penyebabkan ialah rasa ragu dan tidak yakin yang datang tiba2. banyak sekali saya dapati, mas..beberapa teman, demikian.
sehingga saya mencoba menuliskan, jika dibuat sebuah tulisan dengan khayalan, pertemua mereka di waktu yang akan datang, apakah tidak membawa sebuah penyesalan?
ketegaran sikap lah yang kemudian berbicara. tidak lagi rasa yang harus menang, tapi logika.
oke, semoga ini bisa membantu.
bukan membantah, tapi.. tulisan ini tentu bukanlah gambaran kegelisahan hati saya. tapi, jika pun tertangkap demikian, gpp. itulah hebatnya bahasa tulisan....salam mas...

*novnov; benar...emang bedanya tipis, setipis selaput dara..

*multama; teman...tentu lah bukan aku yang kuceritakan di sini, tapi entah beberapa tahun lagi...tapi semoga tidak.
tulisan ini hanya sekedar cerpen saja. emang agak tragis yah, kisahnya...

*istantina; benar, saya setuju. salam kenal...terima kasih sudah mampir..

*mas totok kelir; makasih yah mas...
saya hanya mencoba menggambarkan karakter tokoh Lugas dan Shamsa apa adanya..

manusia biasa said...

benci sama cinta beda tipis
kalo benci ujung2 cinta tapi kalo cinta datang nya dari cinta.....

nah lo bingung yah......
sama manusia biasa juga bingung nih

goresan pena said...

hehe...iya, ku juga bingung...makanya jadi banyak yang mati rasa yah...

salam

goenoeng said...

hehe...sorry, kalo salah tafsir, tapi aku nggak cuma menilai dari tulisan ini lho sist. tg lain juga, selama beberapa waktu.
baguslah, kalo itu bukan kegelisahanmu :D

Rakha said...

Hmmm,mudah2an tulisannya dibuat saat tidak sedang gundah ya...:-)
Thank you for loving me yach...