14 November 2008

Keping Mozaik; Kamandanu atau siapalah!

gemericik, lebih tepat di sapa demikian. air hujan mulai tergenang berlahan di balik rerumputan basah, di sebelah bangku-bangku berpayung besar. payung tersebut ada tiga, satu diantaranya yang berwarna biru menaungi si bibir mungil berwarna pink.

ia cantik, dengan senyum yang senantiasa mengembang, dengan keramahan yang tak pernah di buat-buat. aku menyukainya, sama dengan aku menyukai bunga-bunga mawar jingga di halaman rumah. aku mengaguminya, mengagumi kulit halusnya yang putih bersih, mengagumi gigi-giginya yang tak rata, mengagumi kesederhanaannya. dia, sahabatku.

di bawah rerintik hujan ini, aku, dan dia berbicara. dengan hati terbuka, dengan canda sekenanya, dengan kekonyolan yang tersisa, kelas terakhir membawa kami menjadi malas untuk pulang ke rumah.

"masih hujan," ia mencegahku pulang. aku turuti. pun biasanya ia begitu setia meluangkan waktu menemaniku. ah, perempuan selalu saja tidak efisien. selalu saja menciptakan ketergantungan pada sesama jenisnya.

aku jadi teringat saat masih SMP dan SMA dulu, kalau ijin ke toilet saat pelajaran berlangsung, pastilah harus ditemani. kalau tidak, maka harus rela menahan sampai jam istirahat berbunyi. kiranya ini adalah kebiasaan buruk yang membudaya.

ku perhatikan lagi ia, ia tak pernah lepas dari handphope mungilnya. selalu saja dipegang untuk siap membalas pesan. terlalu banyak fans, dan ia harus memperlakukan dengan baik.

sahabatku itu bernama Ica.

...

lagi-lagi hujan, aku jadi teringat tempat ku kuliah dulu sewaktu masih di Kalimantan. kelas terakhir di semester 8, aku ingat benar. Fisiologi Tumbuhan. terakhir kebersamaan bersama teman-teman yang sudah 4 tahun bersama, sekelas.

tak terlalu kuperhatikan dosen yang sibuk memberi kisi-kisi ujian.

aku terus mengamati arboretum di sisi kelasku. terus terang, aku kuliah di sekolah negeri yang kelasnya jorok minta ampun. kulit kuaci yang tak pernah disapu mereka-mereka yang berlagak seperti hamster.

bangku-bangku yang penuh dengan ukiran batik untuk mencontek, teralis jendela yang bergumpal sarang laba-laba. dan tepat di sisinya, pohon-pohon beraneka jenis dalam arboretum yang konon kabarnya terlengkap seindonesia (entah kalau salah, dosenku berarti yang salah).

arboretum itu sudah 4 tahun menemani, sementara aku sama sekali tak pernah menjamah. arboretum itu milik fakultas kehutanan yang tak pernah akur dengan fakultas pertanian. kendati mereka pernah kuliah bersama, entahlah...

arboretum itu lebih seperti semak kupikir, ada pohon-pohon tinggi, tetapi tubuh mereka ceking. bagian daun-daunnya bahkan sampai menjulur ke kelas, menggodaku untuk memotongnya. namanya hutan mini, banyak juga burung-burung yang bersarang di situ, ada matoa kabarnya, walau aku tak pernah melihat, gosip mungkin.

yang jelas, ular pernah masuk ke kelas.

aku tak pernah merasa nyaman dengan kuliahku, sering aku mencari-cari secercah alasan kenapa aku masih bertahan. mungkin karena teman-teman, tapi entahlah... waktuku tak begitu banyak bersama mereka. mungkin karena pelajarannya... ooo shit! untuk memilih fakultas itu, temanku hanya perlu menghitung kancing. karena mereka yang memilihkan.

arboretum dan kelas terakhir, mungkin itulah yang kurindukan. dan suasananya sama. hujan.

gemeritik hujan, yang aku yakin tidak akan kulupa. sampai kapanpun. di luar kelas, di sisi barat pintu, rumput-rumput menguning sebagian, kiranya sebagian lagi tertutup triplek hingga kekurangan sinar matahari.

hujan, membuatku merasa sepi. mengerti kehilangan. mengerti perpisahan, dan mengerti indahnya kebersamaan.

...

"bundo, kita pulang?," Ica membangunkan lamunanku. aku terkesiat. "yuk!" jawabku singkat.

menuju parkiran, mataku tertuju pada sesuatu yang sangat menarik mataku.

di antara tetes hujan yang jatuh dan terpantul sedikit di taah, aku melihat sepasang kaki dengan sendal jepit berwarna hitam. ruas tungkai kakinya cukup kecil untuk menopang tubuhnya. ia seperti anak kecil yang begitu riang bermain di tengah hujan.

aku perhatikan perlahan. seorang pria, dua jengkal lebih tinggi dariku. rambutnya panjang, lebih panjang dari rambutku yang kurasa sudah cukup panjang.

"siapa itu ca?" tanyaku
"kamandanu"

aku melongo.

tiba-tiba teringat sewaktu kecil, waktu SD begitu gemar mendengar sandiwara radio dan begitu ngefans dengan arya kamandanu.

ku kira-kira saja, hari itu, di bawah gemeritik hujan, aku menemukan kepingan mozaik kehidupan. kamandanu yang kutemui hari itu, bukan siapa-siapa, bahkan aku belum mengenalnya benar. tetapi, menemukan sebuah nama yang aku ingat sepanjang hidupku, kupikir itu sesuatu yang tidak biasa.

...

suamiku bernama abrar.
sebelum bertemu dengannya, di tahun 1997, aku pernah membuat cerpen dengan nama tokoh rekaan Abrar Manusa Diarcapada. dan dua tahun kemudian, aku berkenalan dengan Abrar yang kelak menjadi suamiku.

terdengar aneh memang, tapi entahlah... seringkali nama-nama imajiku, kemudian mengantarkan pertemuan-pertemuan dengan teman atau sahabat yang namanya sama dengan apa yang kuimajinasikan.

di waktu SMA aku juga pernah menciptakan nama tokoh untuk cerpen: Erlangga, kemudian tak berselang beberapa bulan, seorang pindahan datang ke kelas dengan nama sama.

dan masih banyak lagi, sebenarnya

entahlah...
mungkin hanya kebetulan saja.

...

tapi inilah yang kukatakan pada Ica
"ca, suatu saat nanti, mungkin kami bisa menjadi teman baik, seperti kita"
"siapa?,"kata Ica...

10 comments:

esha di birulangit said...

Ah...imaginasi itu...kenapa bukan James bond yang mengendarai mobil mewah...kenapa mesti kamandanu yang kemana-mana masih berkuda.....hehehhehe

Erik said...

Kamandanu... sama dengan nama blog-ku dong
Memang diambil dari tokoh cerita silat karya SH Mintardja

Jenny Oetomo said...

Wah senang juga mendengarkan Sandiwara radio Arya Kamandanu yang bermusuhan dengan Mpu tong bajil kalau ngak slah ingat, Salam

Budiawan Hutasoit said...

aku nda begitu tau sandiwara radio arya kamandanu. tapi yang pasti aku menikmati tulisan ini..

terutama yang ini :

seringkali nama-nama imajiku, kemudian mengantarkan pertemuan-pertemuan dengan teman atau sahabat yang namanya sama dengan apa yang kuimajinasikan

koq bisa ya..

Benny said...

wah, artikelnya puitis penuh dengan kisah hidup.

salam kenal.

Nyante Aza Lae said...

senasib kita mb...hehe.
dq pny mbak namanya tuti, eh..adik iparku jg tuti, ehhh si tuti adik iparku ternyata satu tgl n satu bulan klahiran. Namaku Kurnia#@^ K.., eh adik iparku Kurnia jg..apa suatu kebetulan?

goenoeng said...

nama anak pertamaku gentha, dan ternyata.......saat sma aku pernah buat cerpen dengan nama tokohnya gentha. itu saat secara nggak sengaja membolak-balik tumpukan kertas dan menemukan cerpen itu.
gayuh...itu anak keduaku yg cantik ( :D ). ternyata adalah judul geguritku saat sma juga.
suer...aku nggak ingat hal2 itu saat memberi nama anak2ku.
kejadian2 kita ini aneh...tapi nyata...
apa tumon ? :D

goresan pena said...

esha; hm, mungkin jawabnya karena james bond penuh dengan kebohongan... halahhhh...enggak ding!
yah gak tau aja. tapi aku memang suka sesuatu yang berhubungan dengan sejarah negeri sendiri sih..
thx yah udah mampir..

mas erik; iya...emang sama. makanya, saya selalu baca blog kamandanu nya..hehe..

mas jenny; iya... saya sangat suka sandowara radio... hm, musuh arya kamandanu itu bukannya arya dwipangga yah? hehe...saya juga sama lupanya..

benny; terimakasih sudah berkunjung...
salam kenal juga

mas budi; terima kasih mas...
tetapi, begitulah kenyataannya..

nyante aja lae; beruntung kita... kita ini terhubung seperti jalinan jaring laba-laba yah...?

mas goenoeng; gentha, gayuh... nama yang bagus...
hebat ayahnya memilih nama..:)

Rakha said...

Miris membacanya. Tapi itulah kenyataan yang ada di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita bersikap.

Rakha said...

Sori,comment di atas buat Rp.2,5 jt....
Kalo buat postingan yang ini cuma mo nulis kalo Rakha suatu saat jadi apa ya? He..he..