17 November 2008

Rp. 2,5 JUTA HARGA NYAWA JANIN MANUSIA


“gak mahal kok! Hanya 2,5 juta aja udah include tindakan dan obat” kalimat itu terngiang-ngiang di telinga saya. Kiranya, itulah harga untuk nyawa seorang janin manusia!!

Jogja, Sabtu 15 Nopember 2008
INI tidak biasanya. Sudah hampir satu jam di depan layar computer, tapi masih saja tidak bisa menuangkan satu katapun. Tidak biasa, karena biasanya, saya akan menulis apa saja, baru kemudian mengalir dan berpikir akan menulis apa. Bahkan Al-Sirat sudah sampai berputar tiga kali lewat Raduga. Yang saya dengar sekarang The Worst Desease, patutlah di dengar.
Sebenarnya saya ingin berbicara mengenai kegelisahan saya belakangan ini. Ada sesuatu yang ingin mendobrak keluar, tanpa saya tahu harus mengeluarkannya seperti apa.
……………………
IYA TAN.. padahal sebelumnya itu aku dan dia udah hotspot-an di Ambarukmo, aku yang bawa laptop. Udah sejam lebih dan udah bareng-bareng. Mana aku yang bayar lagi. Nah trus, pas pulang itu dia masih maksa ngajakin ke warnet. Aku udah bilang, kalo’ aku udah ditunggu mama. Tapi dia tetep aja maksain. Ya karena aku nebeng, aku ikutin, dengan catatan sebentar aja. Dia setuju”
“nah, di warnet itu kan bentuknya kayak bilik-bilik gitu, tertutup. Yahhh…gitulah… belum ada 15 menit, dia idupin kompi dan aku juga buka-buka laptopku, eh..dianya mepet gitu Tan..”

“iya, dia tuh deketin mukanya ke aku, mau nyium bibirku gitu. Nah aku kan jengah Tan…ah, pokoknya njijik’i banget. Aku tuh keinget tentang KNPI (Kissing, Necking, Petting dan Intercoz) yang Tante pernah kasi tau dulu. Aku takut Tan..”

“udah gitu, aku cepet kemas-kemas dan kubilang aku mau pesen minum ke kasir, aku keluar. Semua barang-barang tak bawa”

“tau gak Tan… aku tuh gak pesen minum, tapi aku lari…. Dari belakang Olifant itu loh Tan, sampe’ ke SMA Gama, itu.. Jogja View itu loh. Trus, aku ngumpet di Circle K. wah, mungkin orang-orang yang liat aku lari, nyangkain aku maling kali Tan.. karena aku lari sambil liat-liat belakang gitu, takut dikejar dia”

“ya ampun Tan… kebayang gak gimana gemeterannya aku! Trus, aku nunggu bis sambil sembunyi di balik tiang listrik, udah masuk bis, baru deh aku nelpon mama. Aku bilang gini; ‘ma, ini aku lagi di bis. Aku baik-baik aja. Nanti diceritain. Pokoknya jemput aku di depan pasar condong catur. Sekarang ma, tungguin’ “

“gila Tante.. untung aja aku gak diapa-apain… di warnet Tan… gila.. iiiihhhh aku sebel banget deh. Coba aja aku nurutin kata mama”

“yah, dulu tuh mama juga pernah bilang kalo’ gelagat dia tuh gak baik. Tapi kan trus aku uda lama ga komunikasi. Baru beberapa waktu lalu sms lagi. Nah, pas dia ngajak jalan, mama bilang, ya sudah, gak papa. Sapa tau udah lebih baik kelakuannya, tapi emang dipesenin sih aku musti hati-hati”

“ternyata tante…”
“iya Tan… untung aja, kita dulu pernah cerita-cerita tentang kenapa banyak anak-anak seumuran ku yang bablas. Apa namanya Tan…?”

“iya…tentang kesehatan reproduksi, tentang pendidikan seks yah kan?. Iya tuh, yang paling melekat tuh yah yang KNPI itu. Eh… bener loh Tan..”

“Tante tau ---- kan? Dia kan udah GAK VIRGIN lagi Tan…”

“ya tau lah.. wong dia sendiri yang cerita. Nggilani dia itu! Masak dia bilang kalo’ ML tu surga dunia coba!! Ya ampun Tan.. dia tuh masih 14 tahun. Kelas 3 SMP. Bisa-bisanya… MJJ (Mak Jlep Jlep) deh Tan”

“ya itu Tan, aku dan teman-teman juga gak nyangka. Kupikir dia tuh dengan ----- hanya PS dan PT aja”

“masak Tante ga tau?? Itu, Pegang Susu dan Pegang Titit”

“aku tau nya tuh, pas dia sibuk Tanya-tanya tentang tempat aborsi gitu, trus.. sibuk cari-cari artikel di majalah tentang cara pake test pack”

“aku taunya pertama dari -----, karena dia yang ditanya-tanyain ----. Mereka tuh awalnya kasak kusuk gitu, aku dan yang lain kan penasaran. Pas nanyain ke ----, eh…tau gak Tan… dia tuh bukan ada rasa nyesel atau merasa berdosa atau takut hamil gitu. Dia tuh malah santai dan biasa aja”

“waktu itu, dia pagi-pagi udah datang ke sekolah, hanya mau ngasih tau kalau dia tuh hasilnya negative Tan, dia udah pede. Karena menurut -----, ngetes yang akurat itu musti di air pipis pertama pas bangun tidur”

“nggilani deh Tan..”

“ya banyak katanya, udah gak keitung!! Dia sendiri gak tau udah berapa kali”

“macem-macem. Yang pasti di rumahnya si cowok, trus di Movie Box, dan di warnet”

(saya tercengang)

“bener Tan, dia sendiri yang cerita. Ya itu, aku kan juga nanya, apa ga ada kameranya? Kan ngeri ya Tan? Eh.. dia tuh santai banget bilang gini; ‘ya, kalo’ ada kameranya, aku pasti udah di datengin dengan mas-mas yang jaga dong’ “

“ah, sekarang anak-anak satu sekolah udah pada ngerti kok”

“ya si cowok sendiri yang nyebarin. Merasa gagah kali dia! Sok hebat. Untung aja aku gak jadi pacar dia ya Tan…”

"padahal apa coba yang kurang dari ----, cantik, pinter, selalu juara, orangtuanya berada dan terpandang, kok bisa ya Tan? aku yang temennya aja gak rela.."

“nah, anak yang mepet aku di warnet itu, dia kan temennya -----, pacar ----. Mungkin dia juga mau praktekin ilmu ----- ke aku. Nggilani gak Tan?”
……………..
INI yang saya katakan padanya kemudian
“iya, sebenarnya mama juga sudah cerita, malam setelah kejadian kamu kabur itu”

“tapi Tante gak nanyain kamu, karena menurut Tante itu privasi kamu, sampai kamu sendiri yang cerita ke Tante. Syukurlah, Tante bangga dengan kamu”

“ini masalah respon! Ada yang bisa merespon sesuatu dengan cepat, ada juga yang lambat. Kamu termasuk yang pertama. Mungkin lebih baik jika kamu hajar dulu dia. Tapi itu gak perlu, malah memberi kesempatan dia menyentuhmu”

“makanya, sekarang kamu baru ngerti kan, kenapa seorang remaja harus mulai mengerti konsep diri, peka dengan perubahan tubuh, fungsi dan psikologis. Dan kamu hebat, memiliki sikap asertif itu. Tidak semua remaja punya!”
……………..
PERCAKAPAN ibu-ibu. Antara saya dan ibunya.

Setelah mendengar cerita ibunya, saya terdiam. Kami berdua terdiam. Seperti kami dihantam batu besar bersamaan. Anaknya, walaupun selisih 10 tahun dengan saya, tapi sudah saya anggap seperti anak sendiri.

Betapa kejahatan seks bisa mengancam siapa saja! Betapa kejamnya industri seks sehingga melahirkan remaja-remaja yang tak mampu menahan libidonya.

Dan lebih kejam lagi orangtua yang tidak membekali anak dengan pengetahuan kespro. Anak-anak lebih tahu onani dari teman-teman dan produk pornografi.

Ponakan saya itu salah satu anak yang beruntung yang bisa terbuka dengan ibunya dalam masalah apapun, yang bisa berlaku sebagai dua orang sahabat yang bisa saling memberi masukan, dan kritik.

Saya selalu kagum dengan kedekatan mereka. Mereka dekat, tanpa mereka kehilangan peran masing-masing. Hubungan mereka tetap ibu dan anak, tanpa mereka merasa tegang. Hubungan mereka pun adalah sahabat, tanpa harus sejajar.

Keponakan saya yang cantik itu beruntung, mampu menyaring tiap informasi yang diperolehnya dengan membandingkan pendapat teman-teman yang cenderung memberi informasi salah dengan pendapat orangtuanya atau orang lain yang dipercayanya. Saya mungkin termasuk yang terakhir.
Ada cerita di sisi lain.
……………….
Ini adalah sebuah penelusuran yang masih saja belum sanggup saya selesaikan. Tapi, hasil yang baru seadanya ini, biarlah saya bagi;

SIANG yang sangat terik di Jogjakarta, 10 Oktober 2008 sekitar pukul 13 saya melewati Jl. Wahidin Sudirohusodo, Galeria Mal. Panas menyengat membakar wajah memaksa saya harus bertahan selama 70 detik di lampu merah. Kening saya mengerut, tetapi ada yang membuat lebih mengerut lagi. Di sebelah timur jalan, tertempel selebaran bertuliskan TERLAMBAT HAID
08132879****
Sudah lama saya memperhatikan banyak sekali selebaran serupa bertebaran di banyak perempatan lampu merah di Jogja. Lebih ke selatan sedikit, menyeberang ke arah RS. Betesdha, juga di sebelah timur, di tiang listrik Mirasa tertempel sama persis.
Lainnya ialah di perempatan Jl. Veteran sebelah timur toko Lumbung Jaya tepatnya di tiang listrik sebelah utara Jl. Ki Penjawi, tertera dengan nomor telepon berbeda 0817042****.

Tulisan serupa dengan nomor telepon berbeda. Ada beberapa nomor telepon yang saya temui. Taruh saja, seperti yang terdapat di perempatan menuju Taman Siswa dari Lempuyangan melalui jalan satu arah, dan banyak lagi sebenarnya (saya masih menyimpan catatannya).
Awalnya, saya hanya beranggapan selebaran itu menjual produk untuk memperlancar menstruasi saja. Tidak ada pikiran lain. Tetapi, semakin lama, saya perhatikan semakin banyak saja selebaran itu tertempel di mana-mana.

Saya Tanya pada tiap orang yang saya kenal (maaf, karena kawan saya terbatas di Jogja, maka yang saya Tanya ini kurang sari 100 orang). Dari ibu-ibu, aktifis PKBI, mahasiswa, teman-teman arisan, atau siapa saja orang baru kenal dengan latar belakang kehidupan berbeda saya coba tanyai.

Fakta yang saya temukan, semua yang saya tanyai merasa pernah membaca tempelan itu, minimal mereka merasa pernah membacanya, walau ada yang lupa dimana mereka melihat.
Hingga kemudian saya tergelitik dan ngobrol dengan seorang teman, Masrul namanya, dia aktifis PKBI. Dari dia, saya sedikit mengetahui kalau ini bisa mengindikasikan adanya aborsi terselubung. Tapi belum ada bukti.
Bukan iseng, tapi saya memang sengaja mencari tahu.
Inilah fakta yang saya dapat.
Si empunya nomor telepon tersebut adalah seorang makelar aborsi (begitu istilah saya).
Calon klien akan menelpon ke nomor tersebut. Selebaran yang tertempel itu adalah salah satu upaya promosi saja, lebih banyak klien yang datang dari referensi kawan yang sudah pernah menggunakan jasa aborsi tersebut sebelumnya.

Siapa saja mereka? Banyak. Menurut pengakuan si makelar, lebih banyak mahasiswi. Ada juga pelajar.

Setelah berbicara mengenai latar belakang keluhan dan bertanya-tanya mengenai prosedur dan biaya, mereka akan bertemu di suatu tempat yang telah dijanjikan. Di tangan makelar aborsi inilah nasib klien dipertaruhkan.

Si makelar ini yang akan mensortir tiap klien, apakah akan ditindaklanjuti atau tidak. Tidak ditindaklanjuti, ialah jika ada indikasi membahayakan praktek illegal nya.

Kemudian, setelah pertemuan tersebut, maka klien akan digiring ke tempat eksekusi. Dirahasiakan dari orang yang tidak berkepentingan. Tapi menurut pengakuan si makelar, dalam proses pengguguran, akan dilakukan secara partus normal, dikeluarkan melalui vagina. Tidak sakit, janjinya. (ahhh, dia laki-laki… tau apa dia!!)

Dia pun menjanjikan kalau prosesnya akan sangat cepat, 20 menit selesai. Ditangani professional oleh seorang bidan, sekali lagi partus normal, dia tidak menceritakan bagaimana cara pengeluaran janinnya. “yah.. seperti menstruasi saja kok!” tidak ada efek samping dan rasa sakit, tekannya lagi.

“gak mahal kok! Hanya 2,5 juta aja udah include tindakan dan obat” kalimat itu terngiang-ngiang di telinga saya. Kiranya, itulah harga untuk nyawa seorang janin manusia!!
……………………..
Banyak yang saya gelisahkan. Saking banyaknya sampai saya bingung sendiri saya ini menggelisahkan apa.

HARI INI, 15 Nopember 2008. di KPID-DIY tadi saya mengikuti diskusi public PRO KONTRA Pengesahan UU Pornografi.

Ironis rasanya, saya sampai tak dapat berkata-kata lagi. Kadang terbersit di pikiran saya, apa masih pantas di pro kontra kan lagi sesuatu yang sudah disahkan? Walau dengan ketidaksetujuan? Walau dengan paksaan?
semua mengkhawatirkan anak-anak menjadi korban.

Di akhir kesempatan melontarkan pendapat, seorang Ibu, M***h dari POLDA DIY, (sampai perlu DUA KALI ia menyebutkan identitas asalnya). Mengatakan dengan bersemangat bahwa UU yang sudah disahkan tak perlu dipermasalahkan lagi.

Hm, kalau gak perlu dipermasalahkan lagi, kenapa sih musti datang?

Aduh Bu, ini loh… yang jelas-jelas kerjaan kepolisian. Kerja dong!!
Tangkap dong, makelar-makelar aborsi dan semua yang terkait. Rasanya gampang kok mencari informasi dan melaksanakan investigasi. Wong mereka saja berani terang-terangan iklan di pinggir-pinggir jalan, hampir di tiap lampu merah. Yang ada pos polisinya pula!!
Kenapa remaja sekarang makin berani free sex? Karena mereka mendapat solusi. Mereka dapat dengan mudah mengakses cara dan tempat untuk aborsi. Mereka dekat dengan semua itu. mereka punya jalan keluar yang instant!!

Lebih penting lagi, mereka tidak punya informasi yang benar tentang tubuh mereka sendiri!!
Aduh polisi… jangan hanya bisa nilang motor aja dong!! (karena mobil jarang sekali di periksa, apalagi ditilang!!).
Ada kaca spion atau tidak, itu tidak membahayakan orang banyak! Punya sim atau tidak, itupun merugikan sepihak kok, tidak luas, tidak punya stnk, bukan berarti tak ada! Tidak bawa helm, bukan berarti tak menjaga keselamatan nyawa.

Aduh, apa bedanya sih polisi yang nilang tanpa memberi surat tilang itu dengan tukang palak? Apa beda nya sih mereka dengan pengemis di jalan? Malah lebih parah. Pengemis meminta dengan sukarela, sementara polisi merampas dengan dalih kuasa.
Prioritas dong!!
Mana yang lebih penting? Mana yang lebih berbahaya?
…………………….
SAYA GELISAH.

Menjadi orang tua, menjadi manusia.

Saya bukan siapa-siapa. Tak bernaung pada ‘tempat teduh’ manapun yang bisa saya tamengkan jika saya celaka.

Saya hanya perempuan, yang gelisah. Yang khawatir. Yang takut. Yang ingin menyembunyikan anak saya dari semua hal. Tapi itu naif!!!!!
Saya gelisah karena saya sama saja bersalahnya. Saya gelisah karena saya diam, lebih tepatnya mendiamkan. Meski saya tahu ada yang salah.

Seperti melihat seorang teman yang nyaris jatuh karena didepannya ada jalan berlobang sementara saya yang melihat hanya diam saja, tak memberi peringatan. Bukankah saya sama berdosanya? Bukankah saya sama buta dan tulinya?

Kenapa saya tidak bertindak? Kenapa? Apakah saya harus sembunyi di balik dalih kuasa? Atau saya harus bertameng bahwa saya tak punya wewenang?

Saya memang tak setuju kekerasan, tapi, bukankah sebenarnya gampang saja. Lepas saja tempelan kertas iklan itu. sobek atau bakar, biar tak semakin banyak yang melihat atau membacanya. Agar tak melekat di benak siapapun yang pernah membacanya.

Bukan kah itu mudah? Bukankah itu tidak mengerasi siapapun? Bukankah itu tidak melanggar hukum? Bukankah itu tidak melanggar hak siapapun? Tapi kenapa saya diam???? Kenapa saya hanya bisa menulis ini? Kenapa?????

Jogjakarta
16 Nopember 2008
01:31 WIB dini hari
Oleh: Surya HR Hesra
(hingga tak ada lagi suara, hanya panas mengalir lewat kerongkongan
Terdengar sayup Little Susie by Michael Jackson)

18 comments:

Djoko Wahjuadi said...

..sabarlah mbak...yg saya lakukan sementara ini adalah: 1) diskusi dg anak-anakku ttg konsekuensi Free sex.
2) Mereka semua saya bekali dg nilai moral (yg saat ini berlaku) dan alat kontrasepsi...(kayaknya sampai hari ini mereka belum memakainya...ha..ha..ha)
...itu benteng terakhir yg bisa saya lakukan...berbuat sdh..bicara sdh...sekarang tinggal berdoa saja...semoga mereka tidak bikin malu nama keluarga dan diri sendiri...

Nyante Aza Lae said...

kisah ini mengingatkanku akan "sejarah" saat dq tinggal di Yk..Mmg benar sepertinya "permisivisme" terhadap hal2 negatif spt ini dianggap oke2 aja..palagi ngliat tempelan2 iklan yg "terbungkus" rapi, baik di media cetak atawa di dinding2 kota...

goenoeng said...

hah! ternyata setiap orang mempunyai kegelisahan yg mirip, dengan lingkungannya. postinganmu itu, sist....juga bahan diskusiku dengan teman2, yah hanya sebatas diskusi saja, dan ternyata pemikiran kita mirip. dari pertama baca saja aku sudah bisa nebak ke arah mana selebaran itu menuju. apalagi kalo enggak aborsi....dan waktu itu aku rasan2 sama temen2, kok nggak ada tindakan2 dari aparat ya, lha wong cetha wela2 gitu. kali ndak ada duitnya ya, hahaha....
tindakan seketika memang nggak mungkin kulakukan langsung. yang bisa kulakukan hanya membenahi keluargaku, anak2ku buat bikin jalan yg bener. itu saja untuk saat ini.
hez, semoga kegelisahan kita menjadi kegelisahan semua orang dan juga yang berwenang, yang nantinya akan membuat tindakan. nggak cuma masalah ini sih, banyak kok masalah2 yg nggak ada duitnya tapi menyangkut moral bangsa. semoga....yah...semoga.....
how are you, sist ? :)

Jenny Oetomo said...

Memang dunia pergaulan anak muda sekarang sudah menjurus ke hal hal yang diceritakan oleh keponakan Hez tadi hal ini diperparah dengan tayangan yang bebas dan jalan satu satunya adalah benteng diri, hal ini adalah tanggung jawab orang tua atau keluarga dekat. Kegelisahan itu juga menjadi kegelisahan semua orang tua khususnya ibu ibu yang mempunyai anak gadis dan semoga aparat kita juga mempunyai insting yang luar biasa untuk memberantas praktek praktek asusila, salam

Shaman said...

Reality bites,sis..reality bites..hidup dengannya atau mati sahaja jalan keluarnya..

Erik said...

Yah itulah realitanya saat ini, banyak praktek abors terselubung.

Sebenarnya orang berani membuka praktek tersebut karena melihat peluangnya yg cukup besar.

Yg patut kita lakukan adalah menjaga agar keluarga, terutama anak-anak kita jangan sampai terjerumus pergaulan bebas, dengan membekali mereka agama dan nilai nilai moral yang mesti ditanamkan sejak kecil. Komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua juga perlu dibangun. Kebanyakan mereka yg terjerumus karena kurangnya 2 hal tersebut. Yang sangat penting juga adalah do'a kita sebagai orang tua untuk anak-anak kita.

Saya sempat menonton salah satu acara di TV, ada suatu restoran di asia tenggara yg menjual SOP JANIN, karena dipercaya meningkatkan vitalitas.

Janin tersebut diperoleh dari mereka yang keguguran atau yg aborsi.

Saat nonton itu saya sampai mau muntah. Kok teganya...

ciwir said...

wahduh... (pusing mode on)

ARIEF FIRHANUSA said...

Tak lebih seminggu silam saya mempergoki anak tetangga sedang bergumul dengan pacarnya, selagi bapak-ibunya tengah menghadiri resepsi. Baru kelas 3 SMA dia, tetapi telah ia lakukan sebuah fragmen dewasa di sofa panjang kursinya. Saya lunglai dan mengelus dada ...

Bulan Luka said...

Kurasakan kegelisahanmu dan merambat dalam nadi menjadi kegelisahanku juga. Di tataran ini, selain "diskusi sebagai teman", ortu mesti percaya pada kekuatan doa. Di tataran ini, boleh dibilang, ortu hanya bisa berdoa... Minimal, saling beruluk salam --saat jumpa atau telepon.

timur matahari said...

yah ini dia mbak.. kegelisahan,, beberapa kali saya membaca mendengar melihat kejadian aneh.. janin yang di buang di tempat sampah,, di selokan, di... ntahlah getir sekali menyebutkannya,,
beberapa kali saya tulis puisi tentang janin/seks/tanpa otak/tanpa rasa/kehilangan hati..
sungguh.. saya aneh melihat kondisi ini.. terlalu dekat ternyata pertemanan manusia dengan setan/nafsu/syahwat/libido atau apa ajalah..

Be your self by tour self said...

waduh ngeri..amit2

Rakha said...

Miris membacanya. Tapi itulah kenyataan yang ada di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita bersikap.

Istantina said...

Mrinding ih baca kisah ponakanx.. Aq jd keinget ama ponakan2 di jkt, yg lifestylenya.. Ampun ampun deh.. Bikin kpala bs gak bhenti geleng!

goresan pena said...

*pak Djoko; betul pak, saya setuju memang keluarga harus membentengi. tapi permasalahannya adalah ketika kita diam dengan sesuatu yang tidak kita setujui pak..

*nyante aja lae.. ah bang, ironis kali yah..

* mas goenoeng; semoga mas, semoga yang merasa beruntung dengan praktek2 haram itu juga punya kegelisahan itu yah..
kabar saya sehat mas, alhamdulillah... hati dan pikiran saja yang perlu dibenahi...ahhhahahahaha....

*mas jenny; setuju. tapi apakah hanya kita yang memiliki anak perempuan saja yang was-was? saya rasa, jika saya memiliki anak laki-laki, maka ketakutan saya akan lebih parah lagi. khawatir anak saya itu tidak bisa menahan libidonya, dan kita, secara tidak sadar seperti 'menggagahkan' peran laki-laki yang seperti itu. tapi entahlah...itu hanya pemikiran sempit saya saja.

*shaman; hhhh...mana bisa mati begitu saja sham...hehe that's life..

*mas erik; yup, saya pun mau muntah waktu mendapat kiriman artikel tentang sop janin itu. tapi perlu diingat, hal seperti itu mungkin tidak pantas disebarluaskan oleh media. kita pun tak perlu membantunya.

*ciwir; waduuuhhh juga..

*bulan luka; benar pak...sampai sekarang saya masih gelisah, gak ngerti juga apa yang digelisahkan... nah lo....

timur matahari; yah, aku bisa menangkat esensi tulisan2mu Mbang..sungguh kejam hidup ini yah...

*be your self by tour self; iya, semoga kita terhindar dari sifat sedemikian... nah lo, apa coba maksudnya? hehe

*rakha; tinggal bagaimana bersikap saja. hm, menarik...

* istantina: gitu deh...anak gaul gitu lohhhh....hehehehe, bikin pusing orangtua yah...

anyway...terima kasih banyak teman-teman atas komentar di tulisan ini yang sangat saya tunggu. terima kasih atas kesediannya membaca tulisan yang cukup panjang dan melelahkan ini.

salam.

Lia Marpaung said...

...speechless....

apakah ini dampak modernisasi atau sekedar bagian dari pergerakan hubungan antar kemanusiaan ?

yg semakin jelas terlihat, begitu "mudah" untuk menjadi pembunuh...begitu "murah" kita menghargai makna kehidupan...

goresan pena said...

begitulah mbak...saya pun tak bisa berkata2 lagi..apalagi nyaris setiap hari saya melalui jalan2 yang tertempel selebaran itu...
saya tahu, tapi saya diam...

iwan piliang said...

Sorja, tulisannya luar biasa, sudah punya ciri khas tersendiri.

Persoalannya, gimana agar rutin dan terus-menerus menulis. Saya yakin akan dahsyat hasilnya:)

Salam

goresan pena said...

86! Komandan... siap dilaksanakan....he...

Makasih banyak Pak...terima kasih...