28 August 2008

You Are the Best I ever Had!!

pria itu...

matanya seperti yang baru aku temukan belakangan ini. mata itu, selalu mengingatkan aku padanya. seorang pria yang selalu berbuat apa saja untukku. seorang pria yang menjadi gila dan terkadang mengamuk dengan kenyataan.

mata pria itu aku temukan lagi..
di sudut beningnya yang menjadi keruh..

sehari sebelumnya:
"belikan aku radio" pintanya pada ayah.
"untuk apa?" ayah bertanya, walau tetap saja membelikan.

setelah radio itu dimilikinya, tawa itu tersungging di wajahnya yang renta.

bude berkata, mengutip perkataannya:

"aku mau dengar suara cucuku, sombong sekali dia. sudah besar nggak mau liat aku. dulu aja, merengek minta kelapa muda"

sehari setelahnya..
mas ku datang kerumah. "kakek meninggal, Belia.."

aku diam.

aku melarikan diri. tidak menerima itu semua. itu dusta!
aku melarikan diri!!

di studio itu, aku terpekur. terdiam dalam ruang penuh warna hijau kedap suara. terpojok di hingarnya lagu-lagu X-japan, Haggard, Mettalium...

Bian datang "kamu kenapa?"
"kakek ku meninggal"
"lantas kenapa kamu di sini?"
"aku... aku..."
"tidak pantas kau di sini!"

aku tidak beranjak sampai Bian menyeretku.

...

pria itu,

yang sejak aku kenal memang sudah tua. wajahnya sudah dipenuhi keriput, matanya mengeruh. lingkaran coklatnya tampak begitu muda, seperti kehilangan sesuatu, entah apa itu. mungkin rahasianya.

tubuhnya kuat, walau tulang-tulangnya lebih terlihat dibanding pembalutnya. kulitnya hitam, terbakar matahari menahun..

jari-jarinya kasar dan senantiasa bergetar. dia tak lagi punya rambut. kopiah hitam senantiasa bertengger di situ.

...

"tangkap! ini jambu merah, jambu terbaik di antara pohon-pohon ini"
dia selalu bisa lebih dulu naik ke atas.
aku memungut lemparan demi lemparannya dengan bajuku.

setelah dia puas berada di atas, dia turun sebentar, untuk memanjat pohon kelapa. aku tidak pernah puas hanya dengan satu kelapa muda, minimal 4. biar sekalian sepeda mini ku penuh.

"kek.. mau keong.."pinta ku manja.

dia tidak pernah keberatan. selalu mau. sepuluh keong tidak akan pernah cukup. dia menjelajahi kolam seukuran seproh lapangan voli itu untukku. di susurinya tepi-tepi, mengumpulkan keong-keong di antara rimbunan genjer. dia juga memanen genjer, agar nenek dapat menumisnya. dengan rawit iris, agak pedas, sedikit pahit ditambah nasi putih hangat yang dimasak di atas tungku kayu bakar. hmmm, lezat/.... aku rindu...

"Belia!pulang sana! ibu mu pasti marah kau pulang terlalu sore"
"besok minggu Kek, hari ini tidak belajar. bebas"
"kau menginap di sini saja"
"nggak mau! banyak nyamuk.."
"kalau nyamuk gigit kamu, balas gigit dia juga"

...

sepeda ku sudah penuh dengan kelapa-kelapa muda, sekantong kresek jambu, setoples keong dan belut untuk asma ku. kakek, selalu begitu..

dia selalu menjejalkan beberapa ribu di sakuku, kemudian nenek mengomel
"itu uang terakhir..besok mau makan apa kita?"
kakek menjawab santai. "masih ada rumput di halaman, cucu kita perlu beli buku"

saat itu, aku tertawa terpingkal mendengar jawaban kakek. setelah bertahun-tahun kini, mengingatnya.. aku tertawa, gamang... dan hatiku teriris. nelangsa...

...

20 meter aku berdiri di belakangnya. tungkaiku lemah, hatiku hancur...
lengan Bian kupegang, dia sandaran untuk sementara. bian menatapku, kasihan mungkin...sesuatu terbersit dari matanya, aku melihat sekilas, dia seperti tak habis pikir. kutangkap tanda tanya di benaknya. mungkin dia heran, mengapa aku malah di sini...

biarlah...

biarlah aku di sini, 20 meter di belakangnya..
ada atau tiada aku, itu tak mengubah apapun. jasad itu tak mungkin bisa bangkit hanya karena aku di sisinya.

dari kejauhan, aku melihat mayatnya di usung ke liang lahat, aku miris.. aku hanya melihat dengan pandangan terbatas, sesosok tubuh terbalut kafan. mungkin itu bukan dia, goda benakku, tapi itu memang dia.

gundukan tanah berangsur menyurut, menutupi galian berisi tubuh kakek.

matanya, mata kakek. mengeruh di usia senjanya. tapi dia selalu kuat, untukku. dia selalu tangguh untukku..
lengannya yang kasar, matanya yang liar...

aku datang dari darahnya yang mengalir lewat darah ayahku, dan darahmu Kek... kan kualirkan melaui cicit-cicitmu...terus... tiada henti...

matamu akan selalu kupelihara, aku lahirkan benih-banih baru yang menyerupaimu. kelak... pria-pria perkasa seperti dirimu kan kulahirkan dengan rahimku.. kelak kek...

...

perlukah aku men-ziarahi mu?
perlukah aku datang?
perlukah aku berwujud?

untuk apa jika yang datang hanya fisikku...
untuk apa jika yang mengunjungi hanya tubuhku,

kek... setiap malam di kala kuterjaga di kelelahan waktu. aku mengingatmu. aku merindukanmu...
aku mengenalmu, seseorang yang selalu mencintaiku, dengan caramu...!

Allah yang bisa membalas semua kebaikanmu Kek... bukan aku. hanya Allah, yang akan membahagiakanmu, memuliakanmu... dengan doa ku padaNya...

and i will the say to thee...
you are mine!!

1 comments:

Erik said...

Inna lillahi wa inna ilai rojiuun. Setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya. Turut berduka cita ya mbak.
Jangan lupa selalu berdoa buat beliau. Semoga beliau diberi kelapangan dan kemudahan di alamnya sekarang. Amiin.
Salam