22 August 2008

Aku; Ibu Juga Anak

KETIKA aku menyisakan dua potong roti pembagian pelatihan hari ini, secara tidak sengaja aku merefleksi kembali, apa yang dilakukan ayah dulu.

egoisnya ketika aku mengabaikannya.

AKU teringat, ayah selalu menyempatkan diri pulang untuk makan siang di sela jam istirahatnya. mungkin sebagian mata orang lain, ayah adalah contoh seorang pegawai negeri yang kurang disiplin.

tapi bagi aku, ibu dan adik-adik.. ayah adalah sosok yang sangat perhatian.

nasi bungkus yang seharusnya menjadi menu makan siangnya, rela dibawanya pulang untuk sekedar dicicipi anak-anaknya.

teman, adakah yang lebih mengharukan dari itu ? (banyak)

kami, --aku dan ketiga anaknya-- menyambut ayah dengan kegirangan dan kebahagiaan yang polos. senang dengan hanya sebungkus nasi padang. menu istimewa bagi kami. harga se bungkusnya bisa 4000 rupiah, sedang uang jajanku, 150 rupiah.

lalu kami berkumpuL, mengelilingi ibu yang membagi nasi bungkus itu menjadi 6 bagian. dengan porsi ayah yang lebih banyak sedikit dari kami. atau sering juga ibu yang sengaja tidak kebagian. "sudah kenyang," alasan klasiknya. terakhir, aku menyadari, itu dusta.

lalu kami menikmati suwiran ayam bakar dari sepotong yang telah dibagi rata. untuk berenam. begitupun nasi berkuah gulai, sambal cabe ijo,tempe goreng, semua lengkap dalam porsi lebih kecil.

kami, anak-anak berlomba berebut porsi terbanyak. walau kami sadar, ibu telah membaginya dengan sangat adil.

NAIF.

SETELAH aku punya anak berusia 2 tahun, aku mengulang apa yang ayah lakukan dulu terhadapku, terhadap anak-anaknya. dan anakku dengan senyum ceria menyambutku pulang, kegirangan itu menyambut dua potong kue yang kubawa.

TUHAN..
betapa aku melihat diriku, pantulanku, pada anakku. adakah yang lebih membahagiakan dari itu? (banyak, mungkin..)

ITULAH orang tua..
itulah nak..
yang selalu menyayangimu.
yang selalu berbuat apapun untukmu.

NAK.. tak perlu lah kelak kau 'tersesat' seperti ibu dalam memahami kedua orangtuamu.

nak..
ibumu ini juga seorang anak. anak dari ayah dan ibunya. yang hingga mati-pun rasanya tak mampu membalas semua yang dilakukan mereka.

tapi ibumu ini..
sama seperti orang tua ibu,
yang selalu memaafkan anaknya.
kelak, janganlah kau mengaburkan kasih sayangku,
hanya karena setitik SALAHku.

19 Agustus 2008
Selatan Jogja

5 comments:

Jenny Oetomo said...

Itulah orang tua yang rela lapar atas anak anaknya kenyang, senang bgm dengan anak seberapa besar cintanya? salam

Multama Nazri said...

itulah orang tua memang...tak kuasa makan sesuap nasi sekalipun, sebelum melihat anak-anaknya makan terlebih dahulu. itulah cinta sejati sesungguhnya, tidak ada lagi cinta di dunia ini di atas itu...
salam bahagia untuk ayah se-dunia...

goresan pena said...

yup... ayah selalu mencintai anaknya... dan terkadang seorang anak terlalu picik untuk mengakuinya...

Erik said...

Postingan ini mengingatkan masa kecilku. Bapakkku juga sebagai pegawai negri yang mempunyai anak orang. Ya.. semua orangtua dikaruniai cinta kasih seperti itu. Dia rela lapar asalkan anaknya tidak kelaparan, maka sungguh aneh jika ada seorang anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya.

goresan pena said...

hm, mgkn saya termasuk yang tak berbakti itu, mas...