06 August 2008

Phoenix


Ternyata masih saja belum tuntas. Seperti perjalanan panjang di gurun pasir yang melelahkan. Sepanjang mata mampu memandang, yang trelihat hanyalah hamparan pasir. Lagi dan lagi. Tubuh, kaki dan hati ini sudah lelah, berkali-kali terduduk di sedikit rindang untuk buang sepenggal penat, tapi tidak juga tuntas. Aku ingin mengakhiri dengan segera, tanpa perlu lagi bertanya-tanya, kapan?
Ini aku. Dan yang dihadapanku pun adalah diriku sendiri. Mata itu, adalah mata ku, ruang yang pertama kali mengenalmu. Indera yang mengajarkan padaku betapa indahnya dirimu. Di situlah kalau kau hendak tahu, aku mulai membayangkanmu.. selalu berusaha agar kau senantiasa di hadapanku. Di situlah harapan mulai kutanam, tanpa aku perlu berbasa-basi dengan pikiran, dengan logika lebih tepatnya. Adakah sebuah cinta memerlukan pemikiran?
Kau tahu, cermin inipun masih memantulkan bayang diriku. Bukan sekedar siluet, tapi lebih nyata. Itu hidungku. Indera yang mengajarkanku betapa harumnya kesetiaanmu, betapa tidak pernah pudarnya keinginanku untuk terus menciummu, untuk terus berada di sampingmu. Tidak mengertikah? Atau kau mati rasa? Dan bibir ini, pernahkah kau menyentuhnya? Tidak! Karena kau tidak pernah menyadari, atau kau terlalu angkuh mengakui, aku selalu memanggil namamu. Selalu, kuteriakkan dalam ruang kosong udara. Aku lirihkan, di balik partikel-partikel yang perlahan terbang. Kuharap ia menujumu.
Cermin ini, bukankah kita pernah berjanji bersama. Akan senantiasa menjadi cermin untuk satu sama lain?bukankah kita pernah bersama-sama berjanji akan menjaga harapan ini di dalam hati?
……………….
Aku tahu ini sudah saatnya. Aku tidak dapat keluar, harusnya kau melintas sekali lagi. Aku tidak bisa kabur. Jeruji ini terlalu perkasa mengurungku. Sedang persendianku sudah mulai rapuh. Melintaslah sekali lagi. Tunggu…! Jangan terlalu jauh merentas. Ah, tidak bisa! Aku masih terkurung di sini? Bagaimana ini? Gagak hitam berputar-putar di balik jeruji besi. Dia menertawakanku, dia tertawa mengejekku. Mengejek aku yang kau tinggalkan. Berputarlah.. sekali lagi. Oh Tuhan, tolonglah..
kuasaMu, Dzat.. dia berputar. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Tapi, mengapa ia tidak kembali? Tetapi, mengapa ia tidak menemukanku? Ah.. sayapnya patah Tuhan. Aku melihat darah menetes. Tolonglah dia, bawalah dia ke tempat aman, dimana dia dapat singgah dan memulihkan luka patahnya. Tolong antarkan dia, bawalah dia segera. Jangan biarkan dia terjatuh di tanah dan dimangsa dengan gagak-gagak tolol ini. Bawa segera Tuhan. Jangan pedulikan aku, aku tak mengapa. Masih ada beribu hari yang tidak akan terasa akan berlalu dengan sebuah harapan. Biarlah aku menantinya di sini, biarlah aku menunggunya pulih, agar dia dapat merengkuhku dengan segera. Saat ini, selamatkan dia terlebih dahulu.
Dia masih berputar-putar dan nyaris menukik tajam. Bulunya berjatuhan, gugur dengan rembesan darah. Satu memasuki jendela berteralis besi, kutangkap dengan tanganku. Sebuah bulu emasnya yang panjang dan berkilauan, tetapi basah karena darah. Kemudian sebuah anak panah berkelebat cepat. Aku ingin berteriak, tapi kata-kataku tercekat dan tertahan di tenggorokan. Laju anak panah itu terlampau cepat, bahkan melebihi gerak reflex kedipan mata. Anak panah itu melaju, hingga terbenam di jantung kekasihku.. darah yang berjatuhan lebih banyak dari sebelumnya, membasahi rumput hingga kemerahan. Kemudian puukkk! Tubuhnya terhempas ke bumi. Tidakkkkkkk………
………………..
Di cermin itu tidak lagi kulihat aku. Di cermin itu tidak lagi ada indera yang kumiliki sebelumnya. Semua sudah mati. Semua sudah tak mampu berfungsi lagi. Semua sudah tak bertuan lagi. Hanya sketsa-sketsa yang muncul hilang di batas kaca. Gambaran masa lalu itu menjadi sesuatu yang dingin, membekukan hasratku. Seakan aku tertimbun balok es dan di kubur di kutub utara. Betapa indahnya memiliki masa lalu. Padahal gambaran itu tidak banyak. Hanya berupa lembar-lembar yang pernah tertulis. Sebuah waktu yang singkat tetapi tidak sebentar.
Layar itu putih, dan ada senyummu. Di situ kutemukan teduhnya tatap matamu. Adakah yang lebih baik dari itu? berkali-kali aku coba yakinkan, bukan kamu..! bukan kamu dan tidak mungkin kamu. Walau kenyataannya memang hanya kamu. Dan itu kamu.
………………….
Aku tidak lagi mampu bersinar. Tidak lagi mampu meminjamkan energiku pada bulan. Aku letih, biarlah mendung saja yang mengantung-gantung menaungi bumi. Aku lelah.. aku ingin berbaring, mengenang betapa indah nya sebuah kebersamaan. Kebersamaan yang tidak sebanding dengan hancurnya hatiku. Aku tidak lagi sanggup menerangi hatinya. Atau sebenarnya mampu, tetapi dia tidak menginginkan?
Kekasihku yang mengaku dirinya phoenix, burung hong.. sudah mati. Mati di hantam busur panah. Dulu, hatinya pun sempat mati, semangatnya membeku. Tapi, sinarku mampu menghangatkan hatinya. Sinarku mampu menghidupkan kembali hati dan semangatnya. Tapi kali ini sia-sia ada aku. Aku tidak lagi snaggup membantunya. Karena yang mati ialah jasad dan raganya. Hati dan semangat pun serta merta menyertai, mati. Aku tak bisa apa-apa, karena seluruh dirinya telah mati.
Tapi, itulah kekasihku. Phoenix ku yang telah mati, yang abunya telah tersebar.. akan hidup menjadi phoenix baru yang jauh lebih kuat, yang jauh lebhih hidup, yang jauh lebih bersemangat. Dengan sebuah catatan, memorinya akan aku sudah terhapus. Tak tersisa sedikitpun. Dia hidup menjadi senyawa baru, yang meninggalkan puing-puing masa lalu.
Aku masih terkurung di dinginnya dinding sel. Batu-batu berplester putih telur begitu rekat, menghalagi sinarku menembusnya walau perlahan. Sudah bertahun-tahun tanpa pelangi, padahal hujan senantiasa membasahi. Aku masih terkurung, belum sanggup berbagi kehangatan.
……………………..
Aku kehilangan dirimu. Bisakah memperbaikinya? Bisakah mengulangnya? Pertanyaan konyol, mungkin itu jawabmu. Hei.. untuk apa diam kalau bisa berbicara? Untuk apa berbisik kalau bisa berteriak? Untuk apa mengumpat kalau bisa menghajar? Unutk apa menyerah kalau bisa berusaha? Untuk apa duduk kalau sanggup berdiri? Untuk apa menunggu kalau bisa melaju? Untuk apa bertahan kalau bisa merangsek maju? Untuk apa pasrah kalau bisa diraih? untuk apa bersabar kalau bisa sekarang? Untuk apa hanyut kalau bisa menepi? Untuk a[a menangis kalau bisa tertawa? Untuk apa marah kalau bisa berdamai? Untuk apa pergi kalau bisa bertahan? Untuk apa lari kalau tidak perlu? Dan aku masih menunggu.
Kembalilah..
Aku bertanya pada kembang-kembang kapas putih yang trekadag tertiup sampai kemari, adakah pesan darinya? Adakah salam untukku? Adakah dia masih ingat padaku? Adakah dia masih menyimpan harapan itu? inilah jawabannya setelah amnesia, hidup baru dengan memori baru. “ikhlaskanlah”. Sebuah kata itu seperti mencabik-cabik perasaanku. Begitu mudahkah? Begitu gampangkah? Dia melangkah begitu saja, tak menoleh sekalipun ke belakang seakan tiada pernah ada aku di belakangnya. Begitu kejamnya, mengapa ia sanggup memberi harapan yang kejam? “lebih kejam lagi melanjutkan harapan kosong” jawabnya. Aku tersentak.
Hhh, inilah akhirnya. Yah, seharusnya begitu. Inilah akhir nya. Tapi aku memang terlalu bebal untuk menyadarinya, aku masih saja menyimpan harapan yang kosong itu. aku tidak ingin merubah apapun perubahan yang sudah terjadi aku hanya ingin dia tahu, itu saja. Tapi benarkah? Ah, bahkan selembar bulu berlumuran darah miliknya dulu masih kusimpan dengan baik, kurawat seperti membesarkan anak-anak mawar, tapi mengapa dia tidak dapat diajak berdiskusi sesaat? Dia pasti tahu, aku yakinkan itu. hanya saja, dia lebih kepada tidak mau tahu. Itulah dia, kekasihku yang dulu.
……………………
Tidak ada yang lebih egois. Dialah orangnya. Yang hanya mau tahu apa maunya. Yang tidak memikirkan apa-apa selain dirinya. Yang terjebak dengan angan-angannya sendiri. Dia itulah orangnya, yang mengambinghitamkan halusinasi dengan harapan katanya. Yang berkaca pada air keruh, parigi berkabut. Dia tidak pernah mencariku, yang dicari adalah imajinasinya sendiri. Dia tidak pernah mencintaiku, yang dicintainya adalah pikiran-pikiran liar di benaknya. Aku pergi, karena aku memang harus pergi. Aku pergi karena aku bukan milik dia juga siapa-siapa. Aku pergi, justru karena aku menyayanginya.. tapi dia lupa untuk memahami. Dia lupa menyadari dan melihat segalanya dengan sederhana. Dia terlalu hiperbolis dengan khayalannya. Aku menyayanginya, mencintainya.. sehingga aku tidak ingin menjamahnya. Tapi dia tidak pernah mau berusaha melihat itu. aku menyayangimu, mentariku…
dan kalaupun kau tahu, itu takkan merubah apapun.
6 agustus 2008

5 comments:

multama said...

Indah....indah

Multama Nazri said...

indah dan indah...itu bahasa yang pantas untuk tulisan mbak...

timur matahari said...

Aku menyayanginya, mencintainya.. sehingga aku tidak ingin menjamahnya. Tapi dia tidak pernah mau berusaha melihat itu. aku menyayangimu, mentariku…
dan kalaupun kau tahu, itu takkan merubah apapun.
" ada ketulusan... sebagai sebuah kekuatan besar... dan itu tidak mampu dimiliki semua orang. bersyukurlah ketika bisa memiliki itu dari sekian banyak manusia. karena itu lebih berharga dari apa yang akan kita dapatkan."

Anonymous said...

Aku pergi, karena aku memang harus pergi. Aku pergi karena aku bukan milik dia juga siapa-siapa.


aku suka jika kalimat itu penutupnya.
selaras dengan semangat tulisannya, ingin bebas, ingin menunjukkan pada dunia dan kepada "dia" bahwa "aku" benar-benarlah bukan milik siapa-siapa.

tulisannya bagus, tapi sayang banyak kata yang gak sempurna (kurang huruf, huruf kebalik, dll). jangan buru-buru mbak, belanda masih jauh.

seru.
keep posting ya!!!

goresan pena said...

*multama : hehe, thank you... aku jadi malu, padahal tulisan ini dikritik oleh temenku habis2an... hehehe...btw, terima kasih yah...

*timur matahari..: yup! itu sebenarnya ketulusan yang hakiki... saat perasaan hanya bisa dirasa dalam diam.

*anonymous : hehe, trims yah...kebiasaan buruk aku kali yah... kalo' pas ada ide nulis suka.. langsung tulis2 aja. pas posting, lupa ngedit nya...haha...thx msukannya yah...