29 April 2009

BATAS : Pertemuan Kedua (this is my pray)

Aku terdiam, terpaku, terisolasi dalam pikir, lebih tepatnya. Aku hening dalam gerak, tetapi pikirku terus berupaya menggapai-gapai jawaban. Bagaimana bisa kutolak mata itu? bagaimana bisa aku mengemohkan tatapan mata itu? bagaimana bisa aku tidak berusaha berpaling saat harus bertatapan dengan mata itu? seandainya memang bertemu..

Membawa pulang, membujuk jiwa yang sudah lamat-lamat memunggungi diri, ternyata masih saja tak melahirkan kebosanan. Entah, mungkin memori dan imaji lebih kompak berkomplot untuk memerangi logika. Sementara si aku ini, masih terbengong-bengong di himpitan rasa, menikmati sensasi mau, mau. Atau mau, tapi akh..mau.

Tidak ada yang kejam kupikir saat andai-andai itu lebih menguasai, hanya batas-batas yang dicipta orang perorang saja yang menjadikannya terlihat tak pantas. Aha! Batas.. bukankah batas sesuatu apapun itu sesungguhnya sendirilah yang menyusun? Tidak ada sebuah koridor yang pasti untuk orang lain. Betapa egoisnya jika memasakan batasan kita pada seseorang. Betapa egoisnya saat senantiasa menyandingkan batas-batas kepantasan milik kita pada seseorang lain. Akhh.. itu yang namanya kejam, tapi, sekali lagi, itu menurutku.

Matahari telah masuk di sore menjelang petang yang lebih mendekati maghrib. Aku duduk di bawah pohon-pohon tua melankolis dan seketika teringat, akan pantulan cahaya saat bertahun-tahun lewat aku duduk di tepi kapal, menyeberangi lautan Kalimantan menuju Barat Jawa. Aku terhipnotis pantulan matahari yang berbias-bias warna-warni tiap pergantian jam. Di jam 10 pagi atau jam 5 sore adalah masa-masa favoritku. Di ujung-ujung batas yang terlihat seakan menjadi garis antara langit dan bumi, terbentang garis toska setengah melengkung. Berdiam di sisi kapal, melarikan diri dari jangkauan orang tua dan berhadapan langsung dengan laut lepas, amboy.. nikmat sungguh kentara. Lantas, berlecutanlah rindu-rindu yang meranggas membuat gatal bilik-bilik hati. Entah pada apa, entah pada siapa, entah bagaimana. Hanya rindu saja.

Begini, pernah mendengar suatu lagu tertentu lantas tanpa mengerti benar sebab, diri seakan terlempar jauh pada arus suatu masa yang sulit sekali dikenali meski kita masih menyimpan memori di korteks? Kalau pernah, maka bisalah membayangkan yang kurasakan. Bukankah ada getar-getar aneh yang meletup-letup? Yang membuat bagian di bawah pundak depan seperti mengkerut-kerut? Akh.. lagu-lagu lama biasanya yang mampu membuat sensasi demikian. Yang membuat kita jauh terdampar di suatu memori, lantas sumber kenangan itu bercerai-cerai menjadi kepingan-kepingan visi absurd yang rumit.

Nah, kembali ke masalah batas. Apa itu batas? Mencari arti di buku besar bahasa Indonesia? Well, ide bagus. Kendati aku lebih senang pendefinisian ala ku sendiri. Sesuatu yang kalian sebut ‘daun’ bisa saja kusebut itu ‘paku’. Jangan heran, boleh saja menurutku. Ini hanya masalah penyebutan dan pendifinisian yang lebih tepatnya sekedar kesepakatan sepihak oleh orang-orang yang membakukan ‘daun’ adalah lembar-lembar hijau dari tanaman yang bisa berubah menguning, kemerahan bahkan kecoklatan untuk yang tua. Tetapi bisa saja itu kusebut ‘paku’, sama seperti manusia-manusia dibelahan dunia lain yang memiliki julukan berbeda untuk benda yang sama.

Intelejensia manusia yang menyiksa, kupikir. Bagaimana kemapanan Tuhan mencipta keberagaman menjadi demikian sulit, atau lebih tepat dibilang unik? Aha..
Seperti saat aku menulis ini. Aku berada di jejeran tetua-tetua desa yang berceloteh lamat-lamat takjim penuh kehati-hatian, dan kupikir aku akan mengerti sepatah bahasa yang digunakan. Tetapi tuturnya yang lambat dan kental monarki lokal, membuatku mengernyit lebih lama. Terdengar seperti sayup lullaby yang masyuk bagai lakon-lakon pewayangan di tvri jaman ku masih sekolah dasar.

Jadi, aku seakan terdudukkan di suatu titik dimana aku dipaksa menyadari aku telah menerima kenyataan itu. itulah batas, batas toleransiku akan perbedaan. Batas dimana aku memang tidak mau membaurkan si aku ini pada mereka. Mungkin egois. Tapi itu memang egoku. Ego untuk tetap mempertahankan bahasa tanah ku dibesarkan ketimbang harus memaksa diri untuk mencampuradukkan keseparuhmengertianku pada yang tak benar-benar kufahami. Atau aku justru hanya mencontek sana-sini untuk menjalin si aku yang baru?
Entah.

Teman, aku pun masih mendebat si aku ini..

Terserahlah konsep-konsep batas yang tak jelas itu. tapi, rasanya aku tak bisa tinggal diam tanpa menyandingkannya dengan batas sebuah perasaan. Sayangnya, perasaanku ini hidup, jauh lebih kekal dari yang kusadari. Matanya tajam nyalang saat aku menyentilnya sedikit saja, saat kusinggung sensasi membicarakan ‘perasaan’, seperti ketika pertama kali merasakan getaran seksual pada lawan jenis. Rasanya aneh, kan? Atau justru nikmat? Kolaborasi keduanya, mungkin.

Perasaan mungkin membelenggu, tetapi aku membebaskannya. Aku ikuti kemana ia pergi, aku turut membawa ransel perbekalan saat ia mengajakku menjelajah, dan aku amini saat dia membujukku untuk mengembara. Berpetualang, mencari. Terlihat membosankan untuk sebagian orang, tapi tidak aku. Sama halnya seperti menanti sesuatu, akh.. betapa syahdunya berada dibatas-batas penantian. Betapa serunya bergelut dengan angan-angan. Dan aku tidak perlu takut untuk terjerembab ataupun kecewa jika angan tidak kesampaian, karena aku memiliki bekal yang senantiasa kubawa dalam ranselku. Bekal itu ialah batas. Dan batasan itu adalah sekat-sekat yang aku sendiri yang me’masak’nya, dan pasak-pasak itu tertancap dengan ukuran dan luasan berbeda jika dibanding dengan pasak-pasak jejiwa lain. Yeah! Batas itu hanya aku sendiri yang tau. Batas itu sesungguhnya, si aku itu tadi.

Lantas, dimana aku menempatkan logika masa lalu, masa kini (kendati semu) dan masa depan dalam lapak hatiku yang akhh.. sampai sekarangpun tak pernah kulihat hatiku sendiri. Yang senantiasa kulihat dalam jangka waktu tertentu, hanyalah angka-angka hasil uji untuk derajat-derajat pengukuran tertentu di hati, yang itupun tak bisa langsung terbaca olehku, harus melalui jasa seseorang. 

Aku juga tidak pernah mengukur, seberapa terlonjaknya jantungku, saat aku menemukan sensasi-sensasi yang berbeda yang mencipta desir halus, degup kencang atau datar. Yang aku tahu, hanya garis-garis gelombang seperti hasil arsir deteksi gempa yang itupun, baru kulihat saat serangan itu datang dan aku harus berlari cepat mengukurnya. Atau hanya terdiam, menunggu semua itu pergi sendiri.

Aku pun tak sua mengira-ngira bagaimana kerja otakku berlompatan kesana-kemari, maju-mundur mengenali setiap stimulant yang datang, atau saat aku terlempar jauh ke suatu masa, tapi di detik kemudian sudah bisa sampai di saat ini. Bagaimana mungkin aku bisa membayangkan sebuah prosessor super canggih yang bisa mengantarkan si aku bergerak dalam skala waktu yang sangat terbatas. Aku tak pernah mengetahuinya. Yang kutahu hanya garis tinggi rendah seperti sandi rumput yang mewakili rasa, tenang atau sakit.

Aku ingin hidup!

Itu saja, dan biar aku yang mengetahui dan menyimpan batas itu. Tak perlu aku dibayang-bayangi rasa takut. Aku akan siap, untuk suatu masa, dan biar aku yang menentukan batas itu.

..

Akh.. Aku melayang mengenang Basquiat, Kurt Cobain, Chairil Anwar, Jimmi Hendrix, Jim Morrison dan masih banyak lagi dengan 27nya.

..

Jadi, pertemukanlah aku dengannya, kumohon.. (aku mengakui sebagai hamba loh.. dan aku mengakui di titik tak berdayaku, he.. toss dulu dong, Tuhan..
Kita kan sahabat.. :P )

Piss…!!

13 comments:

gus said...

Cara menyahabati keperihan yang menginspiratif.....

Kabasaran Soultan said...

wow ..luar biasa dan dahsyat.
Sungguh membaca tulisan ini serasa ada sesuatu yang menari-nari dalam pikir dan rasa ini ...sesuatu yang persis sama dengan apa yang ada didalam sini.
Satu hal Hez ..meskipun kita tidak bisa memperpanjang umur biologis kita namun kita masih dapat memanjangkan umur sosiologis kita dan mumpung masih banyak kesempatan mari lakukan yang terbaik dan manfaat untuk sesama.

he-he-he ..lagi, lagi dan lagi ngak nyambung khan ?

G said...

Sangat mengagumkan bahwa, narasi ini, dibaca dari bawah ke atas malah jadi menakjubkan, haha, sungguh Hez, saya membacanya dari bawah naik menuju ke atas, itu metode saya kalau membaca, mencari konklusi-nya dahulu baru menikmati prosesnya. Aneh bahwa, tulisan-tulisanmu selalu memiliki konklusi sejak awal baru diuraikan dan kemudian menggantungkan tanya di akhirnya.

Dan saya menikmatinya, sebab saya memiliki pola membaca yang agak aneh tersebut, xixixixi..

Kika said...

Ayo Tozzz mbak...kalau Tuhan nanti saja dulu, karena kalau tozz sekarang bahaya...

Arief Firhanusa said...

Kegelisahan mulai lahir sejak kalimat pertama hingga ujung tatkala Hesra mengajak tosss dengan Tuhan.

Ini seperti kuda troya yang berniat lari sekencang mungkin namun salah satu kakinya dijerat tali. Walhasil, ujudnya kelam dan prihatin. Tak ada resepsi pernikahan antara udara dan semesta, tak ada perkawinan matahari dan rembulan.

Ada apa, Hesra, ada apa?

goresan pena said...

@ mas arief: ada ketakutan mas..

yang luar biasa, tak seperti sebelumnya..

anakilang said...

Inikah jawaban dari firasat itu? jika bertemu dengan Nya sampaikan salamqu. Sampaikan bahwa aq ada..

torik said...

bikin bingung malah nie hehe

Lia Marpaung said...

"Begini, pernah mendengar suatu lagu tertentu lantas tanpa mengerti benar sebab, diri seakan terlempar jauh pada arus suatu masa yang sulit sekali dikenali meski kita masih menyimpan memori di korteks"

Deja-vu kah yang kamu alami ??? Aku sering merasakannya...tetapi bukan karena untaian lagu, tetapi lebih sering adanya suatu perasaan aneh yang tiba-tiba muncul....serasa aku pernah mengalaminya, pernah berada ditempat ini padahal baru pertama kali dikunjungi...pernah mengenal orang itu, padahal baru pertama kali berkenalan...

ada yang bilang deja-vu = reinkarnasi.... entahlah...yg jelas, terkadang aku menikmati rasa itu, namun terkadang, aku juga membenci perasaan itu...

Niff said...

ada 2 karakter yg muncul di sini, kadang begitu kuat tapi kadang begitu lemah :D

DM said...

Kalian yang menentukan batas tersebut. Kalian yang membangun ruang serta waktu. Tidak orang lain. Tidak juga siapa pun.

Maka tentukan demarkasi tersendiri, tanpa mesti terganggu pada patok-patok yang kerap menjadi parameter orang dalam memandang serta menilai.

Anonymous said...

I'm still here..

goresan pena said...

@ all: terima kasih teman-teman..
hem.. ini hanya sekedar pertemuan, dengan entah siapalah dia, mungkin dia kaki tangan dewa maut, atau malaikat maut, ataukah justru setan gentayangan? entahlah...

:)