16 April 2009

bukan peran ; ini laku

aku, kau
bukan peran, ini laku
bukan sebagai ; tapi adalah!

aku, kau
bukan peran, ini laku
bukan menjadi ; tapi telah!

bukan peran, ini laku..; puan!
bukan peran, ini laku..; bung!!

aku, kau
dan kita bukan topeng
atau perigi

;

terlalu pagi merampas bahagianya
terlalu dini menampar wajah tawanya.

(aha!
16 april 2009)

26 comments:

ARIEF FIRHANUSA said...

"Sebagai" dan "adalah" terasa bertetangga, tetapi memang amat nglangut saat memaknai dan memakainya.

Sajak ini juga terasa "dekat", tetapi sesungguhnya "jauh". Hanya penulisnya yang mampu menaruhnya dalam kasat mata.

goresan pena said...

jika terasa demikian.. maka demikianlah adanya tulisan ini, mas..

Nyante Aza Lae said...

ta' kirain puan maharani
anaknya bu mega...
kekkkk...kekk

SURINIT said...

speechless setiap kali membaca tulisanmu. sangat bermakna dan hebat.

terima kasih atas kunjungan anda ke blog saya yg serba kekurangan.
tulisan anda adalah inspirasi saya...

salam...

ajeng said...

Maaf ya mbak,maunya sih komen tentang tulisannya.Tapi mungkin saya terlalu ool untuk mengerti tulisan embak,karena pada dasarnya saya sulit memahami puisi.Yg saya tau cuma tulisannya embak bagus..Hehehe..

Balisugar said...

Mampir membaca puisi disini

nur said...

Demikianlah jika cinta berbicara....

genthokelir said...

melukis dalam mimpi dengan tinta darahku memindahmu dalam bayangan
tapi ini mimpi bukan laku
jiakakakkaa

Yon said...

cinta satu cara untuk hidup lebih bahagia maksudnya....hehehe langsung q link ya

timur matahari said...

dahsyat.... hari ini dan esok..

Kabasaran Soultan said...

Bukan peran ini laku
bukan penggalan ini utuh
Knapa Hez ?
Capek ya berpenggal-penggal dalam hidup.
Capek ya bersandiwara dalam tingkah.
menjadi sebagai bukan adalah
Aha.
Setuju sekali.
Jalani hidup dengan laku kerana laku adalah sesuatu yang apa adanya.

lagi-lagi ngak nyambung khan ?.

anakilang said...

Sajak nya terasa tanpa jarak. tanpa jarak maka entah rapat entah berantara.

Jenny Oetomo said...

Jangan buru buru untuk mengambil kebahagiannya, tapi itulah kenyataan yang ada, salam

G said...

Ah Hez, seringkali kita memakai topeng dan memang hanya sebatas wadag tanpa substansi.

Sayang memang.

goresan pena said...

@ mas Kurnia: hihi.. bukan puan maharani, tapi puan mahadewi, anak-anaknya ahmad dhani..:p

@ surinit: aha, bisa saja.. cobalah baca kembali tulisanmu, teman..
tulisanmu sangat jujur dan indah..:)
terima kasih..

@ ajeng: akh..jangan begitu donk..
tulisan ini ga perlu dimengerti kok, santai.. tulis saja apapun disini..saya pasti sangat senang. bukankah tulisanmu juga berguna jeng? :)
terima kasih ya..

@ balisugar: hei, silakan..silakan.. senang sekali dirimu menyempatkan singgah dan membaca tulisanku :)

@ nur: cinta? yeah.. cinta yang lebih luas atau cinta yang lebih hakiki..
boleh saja..

@ mas Tok: yuhuuu... so romantis banget mas, tapi campur ngeri juga. piye coba, melukis mimpi dengan tinta darah? daleeemmm....
eh, tapi ini kan mimpi yah..

@ yon: wah, terima kasih sudah di link..:)

@ bambang saudaraku; he, emang dasyat itu yang menciptakan jarak antara hari ini dan esok..:)

@ anakilang: yeah, bukankah jarak itu kita sendiri yang menciptakan? dan jarak tetapan itu akan berbeda satu sama lain?
jika tulisanku ini terlihat begitu di matamu, maka demikianlah adanya..

@ jenny oetomo: hem..hehe, apakah terlihat begitu? mungkin memang iya yah..hihihi...

@ Pak Kabasaran dan Mbak G:
mungkin memang demikian yang terjadi dalam hidup ini, tapi, yang saya maksud dalam tulisan ini, mungkin jauh lebih sederhana.. (hal sederhana kok malah dibikin rumit yah? halahhh..senengane..:p)
sedikti bocoran: seringkali sebuah kata mensugesti kita. apa beda 'peran' dan 'laku'? mungkin terlihat seragam, tapi tidak untuk saya.
apakah kita ber'peran' sebagai anak pada orangtua kita?
tidak!
karena, kita tidak 'sebagai', melainkan kita, 'adalah' :anak

selanjutnya...
kalau Pak Kabasaran dan Mbak G, pasti bisa memahami dan bahkan jauh lebih mengerti ketimbang yang saya tulis..:)

Cerita Pagi said...

aku,kau, dia..dan kita sama sama blogernya. he..he...

goresan pena said...

aku dan kau...juga dia,, aha.. blogger?
bukan..saya bukan blogger kok, hanya numpang nulis di tempat gratisan..huehehe...:)

suwung said...

kalo diriku adalah soewoeng

goenoeng said...

kamu ingat kapan pernah melepas topeng ?
aku tak ingat...

goresan pena said...

@ soewoeng: hem, sementara diriku? sapa yah??hihi..

@ Mas goe: topeng..
saya sudah menduga, kata ini pasti menarik..
dari beragam sudut pandang, topeng bisa berarti banyak hal yang berbeda. topeng yang mas goe maksud dan topeng yang saya maksud bisa saja sama, tapi tak menutup kemungkinan berbeda.
mudahnya begini:
saya: ibu.
apa saya berperan sebagai ibu?
tidak! karena saya adalah ibu.
mas goe: ayah.
apa mas goe berperan sebagai ayah pada iyuh dan gentha? tidak!
karena semua yang mas goe lakukan, ialah karena mas goe ayah.
intinya, kita tidak berperan, karena kita telah menjadi. bukan 'sebagai'.
nah, begini lebih mudah atau lebih susah?
mbuh lah mas... intine kaya ngana..:)

The Bitch said...

sayang, meski saya tidak bertopeng, terlalu banyak mulut dan tangan membuat wajah saya bertopeng. akhirnya tidak jelas kapan muak kapan perlu, topeng itu.
mungkin memang begitu.

anyway...
udah tau kan aku bukan ibunya Icha?
*dikeplak*

MATA HATI said...

hayoooo lg sembunyi di balik bahu ya... nice poetry..keren

DM said...

Ini baru bernas!!
Baru sekali ini kutemui yang seperti ini di sini.

goresan pena said...

@ Pito The bitch: huahahaha...iya..iya... ampyuunnn, aku udah tau kok Mbak..

sudahlah.. bodo amat dengan si topeng...:p

@ yayan: hihi.. sembunyi di balik bahu? hem, mau pinjem bahunya sapa yah?
btw, thx yah..

@ mas daniel : yuhuuu.. baru kali ini ditemui? syukurlah.. paling tidak sudah ada..:)

tengkyu...

G said...

Ah! Saya paham sekarang setelah membaca penjelasan, bahwa ini bicara soal "melakukan" apa yang menjadi "perannya" sebab peran hny menjadi atribut apabila hanya menempel tanpa dilakukan. Ahemm... Hez, hny penulis yg paling tahu, haha, itu sebabnya puisi itu menarik sebab apa yg menjadi interpretasi pembaca adalah cermin si pembaca itu sendiri.

Ternyata kebanyakan dari kami, masih sibuk melihat diri dalam topeng2 sementara seorang Hezra mengamati sebuah segi yg jauh lebih praktis :)

goresan pena said...

mb.G : aha...

mau tau nggak mbak sedikit bocoran lagi, eh, banyak dink...

behind the scene tulisan ini adalah, suatu ketika saat hari ibu, saya mendapat sms dari seorang teman yang juga seorang ibu dari satu anak juga. kira2 begini isinya "... semoga kita bisa menjalankan peran kita sebagai ibu sebaik-baiknya.."

saya tercekat dengan kata-kata itu.
apa saya sedang berperan selama ini?
apa saya berlakon sebagai seorang ibu?

selanjutnya...
ahhh.. mbak G tentu lebih tau..:)