10 April 2009

narasi daun waru 2

dedaun yang sama,
tapi kita lihat berbeda
lelembar yang sama,
tapi sudut pandang yang membeda

gegurat yang berbeda,
tapi apa bedanya?
benar!
benar!!

daun waru berbentuk hati,
seperti yang kutulis..
aku meraba guratnya
lantas menyandingkannya pada gurat telapak tanganku.

aku terpekur menatap satu-satu gurat itu,
beda!
sama seperti telapak tangan kita kan?
"memang beda, tapi apa bedanya?"

aku diam, tak berbantah.
kau benar.

takdir, jawabku kemudian.
"apa takdir kita yang menentukan?"
ahhh, aku diam lagi. lagi..

aku meyakini jalanhidup ini sebuah pilihankebolehjadian,
tapi aku dangkal, kala mendapati pertanyaanmu,

:ataukah jalanhidup ialah suratan?

[aku membawa airmataku dalam, diam].

....................

ket: mungkin boleh membaca juga versi sebelumnya,
http://soerjahrhezra.blogspot.com/2009/03/teka-teki-narasi-daun-waru.html,
dan http://goenoeng.com/?p=216

13 comments:

ajeng said...

Yg membedakannya hanya bagaimana dia 'melihat' dirinya,lingkunganya dan Tuhannya...

Anonymous said...

masih tetap sama!!
kosong..

-s-

Kabasaran Soultan said...

Aku kok jadi teringat nyanyian masa kecil ya Hez.
Kulihat langit penuh bintang bertaburan, berkelap-kelip seumpama intan berlian....

" aku meyakini jalanhidup ini sebuah pilihankebolehjadian ".

Barangkali " pengkondisian " mulai dari yang ringan sampai yang super berat ikut menentukan apa yang kamu sebut " kebolehjadian " itu.
Sama seperti nyanyian masa kecil "kelap-kelip bintang bagai intan berlian" secara tidak langsung sipengarang telah ikut membentuk suatu pengkondisian lembut dalam alam bawah sadar "kita".
Daun waru , tumbuh dari batang yang sama, makan dari akar yang sama, menghirup udara yang sama tetapi tiap lembar darinya adalah unique / tidak ada yang sama.

jaka sembung bawa golok lagi deh

G said...
This comment has been removed by the author.
G said...

saya hanya mau mencoba menerawang pertanyaan yg terakhir: ataukah jalanhidup ialah suratan. pertanyaan yg sama yg mengganggu saya, sebab saya selalu menolak "nasib" saya anti kata tersebut sampai sesuatu dipaksakan kepada saya dan baru saya sadari bahwa yg namanya suratan alias nasib itu: adalah ketika itu. ketika saya tidak punya pilihan lain selain menerima sesuatu yg sama sekali tidak bisa saya ubah.

karena hal itu maka saya rajin mencari dan mencoba melihat dari berbagai titik. seperti kamu. saya juga dangkal. atau mungkin karena perjalanan hidup kita yg masih sepenggal? entahlah.

sampai saya menemukan sebuah tulisan milik John Pipper seorang pemikir nasrani, dan ia berkata bhw nasib adalah sesuatu yang telah ditetapkan, sebuah keadaan yang mau tidak mau harus diterima, sebuah otoritas milikNya, dan secara absolut Dia berhak meletakkan kita di posisi tersebut. Namun, cara kita meresponi nasib itulah yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain. nasib seharusnya membuat manusia bergerak untuk memperbaiki apa yang salah, dan mengemukakan apa yg benar. nasib tidak menghalangi manusia untuk melakukan sesuatu tetapi justru mendorong manusia untuk bertindak dan melakukan sesuatu.

act according to His will of command not according to His will of decree.

saya terkesima. malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. ada hal-hal yg memang harus terjadi. seperti kematian misalnya, itu adalah suratan takdir, nasib yg sudah ditentukan menjadi muara setiap manusia, namun, apakah karena tahu bhw kita pasti mati lantas kita duduk2 menunggu datangnya nasib menjemput? tentu tidak.

lagipula. siapa yg sungguh2 tahu suratan hidupnya? walaupun kita mencoba membaca guratan2 nasib ditangan, kita tak pernah mampu membaca pikiranNya. bukankah pemikiranNya jauh lebih tinggi dari langit, lebih lebar dari semesta, dan otak kita yg sempit tak akan mampu mengerti. seperti layaknya mencoba untuk memasukkan seluruh lautan ke dalam sebuah lubang di pasir. mustahil.

satu hal yg pasti. kita diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu. diberi pedoman untuk berjalan di dalam jalan itu. dan (secara pribadi saya mengimani bahwa) kehendakNya selalu baik.

maka? berjalanlah belia. berlarilah belia. jangan hanya menekuri guratan daun waru. bukan itu esensinya. (^__^)

saya juga meyakini seperti yg ditulis:

"aku meyakini jalanhidup ini sebuah pilihankebolehjadian,"

(^__-) *Toss*

Bulan Luka said...

Ada yang sama dalam beda, ada yang beda dalam sama. Sama-sama beda.

goenoeng said...

'jalani saja...'

saat menekuri gurat-gurat itu, hidup terasa menjadi berhenti. hanya menanti sesuatu. mengharap gurat itu menuntun langkah, padahal langkah itu yang membuat gurat menjadi jelas. meniti gurat dan meniti langkah, bagaimana membuat keduanya menjadi bersahabat ?

akupun masih mereka2, menduga2, dan kadang2 menyimpulkan sesuatu yg aneh, bahkan menurutku sendiri atas jawaban2 pertanyaan2 semacam itu. lalu mendapati tumbukan2 dengan apa yg pernah kudengar di masyarakat pada umumnya, yg sejak kecil selalu menjadi bagian dariku. yang akhirnya aku tiba pada satu gang, yang bernama ‘jalani saja’. entah apa yg berada di depan, jalani saja. apa yg akan ada di ujung, jalani saja. begitulah…

entahlah, ini jawaban atau bukan. aku sih, merasa ini bukan, hihihi…

*komen ini sama, seperti balasan komen di http://goenoeng.com/?p=216&cpage=1#comment-5280 :P *

Kabasaran Soultan said...

Jadi terinspirasi nulis nasib dan takdir Hez . apa lagi setelah baca komennya G . bikin penasaran dengan yang namanya si nasib dan si takdir itu.
Ditunggu komennya di Duhai Nasib dan Duhai takdir.
he-he-he.

Thanks 4 inspiringnya

goresan pena said...

@ ajeng: hem. sudut pandang yah? begitukah? saya sepakat. mungkin ini adalah salah satu, tapi bukan satu-satunya jawaban saya duga.

@ -s-
he, apanya yang kosong ya? :)

@ Pak kabasaran: saya mengomentari tentang persamaan daun waru. pak.. sepengetahuan saya, kendati daun-daun itu tersuplai 'asupan' nya dari sumber yang sama, tetapi, bisa saja mendapat 'gizi' yang berbeda. masalahnya adalah pada letak! posisi.
selain hara dari akar, bukankah daun juga butuh sinar matahari untuk berfotosintesis? lantas mencipta klorofil. jika letaknya terhalang, maka suplai sinar yang didapat akan lebih sedikit dibanding dedaun lain. sehingga dalam satu pohon kita bisa melihat warna daun yang berbeda, kendati berusia sama.
kalau saya melihat ini dan mengumpamakan ini diri saya sendiri (maaf, tak berani saya mengumpamakannya pada orang lain), maka saya menduga, kalau jalan hidup ini adalah sebuah pilihan kebolehjadian, yang boleh jadi, itu seperti yang Bapak katakan, berdasar dari pengkondisian yang saya alami. hanya saja, saat saya berbenturan dengan sesuatu yang terlepas dari kuasa saya, maka, itu tak lagi menjadi 'pilihan'. entahlah..
masih juga saya bertanya apakah itu berjudul 'suratan'?

tetapi, saya meyakini satu hal: tidak ada yang sia-sia! dan Tuhan bekerja.

dan Pak... saya sepakat, kalau Mbak G tu mmg sangat menginspirasi...:)

anakilang said...

Menangis tanpa suara itu lebih melelahkan loh mba....

goresan pena said...

@ Mbak G: sepakat mbak..Tooss dulu.
yah mbak, si belia itu terus berjalan, dan terkadang malah berlari kok. karena hanya itu satu2nya olahraga yang disenangi dan dikuasai. hehe..

seperti yang saya tulis di daun waru2 ini, juga pada komentar balasan untuk Pak Kabasaran, bahwa saya hingga detik ini ,masih meyakini bahwa hidup adalah pilihan, jalan hidup maksudnya.

kalau tentang kematian itu, saya rasa tentang risiko hidup yah.. sesuatu yang pasti akan terjadi. sementara yang saya maksud adalah sesuatu yang benar-benar tak terduga. kejutan-kejutan manis dalam hidup. di saat kita sudah menjalani sebaik-baiknya.

sulit untuk saya kisahkan. tetapi intinya begini..

dalam beberapa waktu terakhir, saya ditemukan dengan beberapa kejadian yang luarbiasa menurut saya.seringkali oranglain memandang sesuatu diluar dirinya lebih baik, tanpa ia tau seperti apa yang dinilainya baik itu. setelah ia tau, maka terbukalah itu pemikiran baru..

suatu hari, seorang teman..(karena kami tak terlalu akrab) berkata, "kamu beruntung Mbak.. blablabla..."
saya tersenyum, walau jika dibanding2, menurut saya, hidupnya jauh lebih menguntungkan.hehe..

dan dalam tulisan ini juga, saya tiba-tiba teringat kala masih jaman SD-SMP dulu. saya sangat akrab dengan sepupu yang bernama Nova. nyaris tiap akhir pekan kami selalu bergantian menginap.
tetapi, hubungan kami renggang hanya karena obsesi orangtua yang menurut saya kejam!
orangtua saya selalu merasa nova lebih baik, karena dia cantik, penurut, dan bla-bla-bla. perasaan dongkol karena selalu dibanding-bandingkan, membuat saya menjaga jarak. walau juga, ini menjadi trigger untuk saya.
hingga suatu ketika, setelah kuliah, dan lama tidak main bareng, saya merasa rindu dan saya putuskan untuk maen kerumahnya. dia sedang masak.
saya dan nova masak bersama.
begini yang dia katakan kemudian pada saya:
"Teh, tau ga.. nova tuh sempet benci loh dengan teteh..soalnya mamah tuh selalu banding2in nova dengan teteh, katanya, teteh tuh bisa masak, dan bla-bla-bla". dia berkata begitu dengan mata berkaca-kaca, dan rasanya hawa panas menjalar di dada. detik itu, saya sadar saya salah dan saya mengakui saya menyayanginya.

pengalaman itu sangat menarik untuk saya, sebuah kesalahfahaman bisa mengacaukan semuanya.
tapi syukurlah, sekarang semua lebih baik. kendati dia berusia 2tahun lebih tua, tapi saya selalu menatapnya sebagai seorang adik, yang baik, cantik, sabar, manja.. kendati kami sudah sama-sama menikah.

...
kembali ke masalah suratan atau pilihan..

intinya mungkin ialah kesiapan diri kita. penerimaan akan sesuatu.
konsepnya saya sudah faham mbak..
hanya memang sulit sekali rasanya menerapkan.

...
bersyukur..
kira2, bisakah itu menjawab? :) bagaimana mbak?

goresan pena said...

@ Mas Goe: itulah mas.. masalah nya yang ditemukan itu adalah sebuah gang, bertuliskan 'jalanisaja' eh, salah... maksudnya.. 'jalani saja'.
yah, kalau gang itu tidak buntu, maka bisalah maju terus menjalani, tapi, biasanya, gang itu kan sering buntu, ga ada tembusannya.. nah, semoga besok kita ketemu dengan sebuah jalan yang judulnya mirip yah.. jl. jalani saja.

..
komen mas goe itu jawaban kok, bagiku!

goresan pena said...

@ anaklilang: ahh, benar Dai...
benar adanya..
tapi saya puas, jika bisa menangis.. ^_^