26 July 2008

Bab 6. Japri Vs Jeron


Rumah itu terlihat sangat angker dari sudut manapun. Tapi, rumah itupun seakan memiliki daya magis yang mampu menyedot perhatian kami untuk selalu main di situ. Seluruh bahan baku penyusun rumah terbuat dari kayu. Tentu kayu-kayu belian kualitas tinggi ditambah banyak bengkirai dan meranti. Papan untuk lantai dan dinding masih terlihat kokoh walaupun atapnya sudah penuh tambalan di sana sini. Bahkan tak jarang bagian tertentu tidak ditambal. Suasana rumah itu gelap. Baik pekarangan maupun di dalam rumah. Sepertinya memang tidak ada listrik. Penghuninya hanya mengandalkan lampu petromak atau lampu sentir minyak tanah, itupun semprong (baca:kaca bagian atas sebagai penutup)nya seringkali tidak ada, pecah. Sehingga api yang menyala-nyala tanpa perlindungan menciptakan noda hitam dimana-mana, hangus yang tak bisa hilang.

Pekarangan rumah itu sebenarnya sangat luas. Untuk di depan rumah saja, setidaknya 150 meter persegi, belum termasuk di kiri dan kanan. Sedang dihalaman belakang, jauh lebih luas lagi. Mungkin dua sampai tiga kali lipat yang di depan. Hanya saja, sekeliling rumah itu terlihat seperti hutan tak terjamah. Tidak ada sumur seperti rumah orang-orang kebanyakan, penghuninya mandi di parit depan rumah mereka. Parit yang kotor, yang alirannya lebih rendah sehingga terkadang sampah-sampah dari aliran yang lebih tinggi terpaksa harus berkumpul di situ. Di halaman muka ditumbuhi beberapa pokok pohon buah, seperti langsat (baca;duku), rambai, jambu bol berwarna merah seperti apel, rasanya saja yang berbeda seperti langit dan bumi, jambu klutuk yang manis rasanya dan lebih banyak ditumbuhi rumput serta gulma yang menghiasi pekarangan, seperti seorang lelaki berewokan dengan kumis, jambang, dan janggutnya tumbuh subur tapi simpang siur tak dapat dirapikan karena masih hidup di jaman purba yang belum mengenal alat potong. Batu asah masih terlalu tumpul untuk memotong rambut-rambut liar itu.

Di sebelah kiri rumah tersebut juga ditumbuhi pohon-pohon buah lain. Ada jambu air dan jambu biji merah dan lebih banyak ilalang di sekitarnya. Kemudian di bagian belakang ada pohon yang sangat rindang. Pohon tarzan, kami biasa menyebutnya. Ada jalinan tali alami yang menjuntai-juntai dan biasa kami pergunakan untuk bermain. Berpindah dari dahan satu ke dahan lainnya. Persis sama seperti di film tarzan. Jalinan tali itu tebal, kokoh dan kuat. Tiga orang anak bahkan lebih tidak akan membuatnya putus. Di pohon itu tumbuh pula tanaman lain. Ada beberapa jenis. Yang pertama yang paling mudah dikenali adalah si epifit, anggrek merpati, termasuk kelompok dendrobium. Warna bungaya putih dan bila sudah berbunga, bunganya banyak sekali dengan aroma yang segar menyengat.

Lalu ada juga tanduk rusa. Hanya saja, letaknya sangat tinggi, jauh dari jangkauan kami. kemudian, ada juga tumbuhan lain yang merambat dan memiliki umbi. Biasanya umbi itu hanya tumbuh di dalam tanah. Tetapi untuk tanaman yang satu ini tidak berlaku. Hidupnya merambati dahan-dahan pohon besar tersebut, daunnya seperti daun strawberry dengan ukuran lebih besar sedikit, umbinya berwarna ungu atau geribang. Umbi tersebut enak sekali bila dimakan. Terutama jika dijadikan campuran untuk membuat bubur dan lainnya. Menyerupai bit, tapi bukan. Karena warnanya itu, maka umbi tersebut dinamai geribang.

Satu lagi tanaman merambat yang tentu saja saling bersaing inang di situ. Aku tidak tahu namanya. Tetapi penampakannya sangat mirip dengan tanaman anggur, hanya daunnya saja berbeda. Lebih mirip daun geribang tadi dengan permukaan yang lebih tebal. Buahnya ini yang ajaib. Sangat mirip dengan buah anggur. Karena bentunya inilah yang seringkali membuat liur mengalir ke tenggorokan seperti lilin yang meleleh karena di bakar. Tapi jangan sekali-kali mencobanya. Karena pengalaman pahit itu cukup aku saja yang mengalami. Dibalik penampilannya yang menawan, buah itu menyimpan rahasia rasa terbesar yang harus aku ungkapkan. Rasanya jauh dari yang biasa di kecap oleh lidah kita. Tidak manis, tentu saja, tidak pula asam, asin, bahkan pahit. Hanya saja, rasanya gatal. Gatal yang tak tertahankan menggelitik lidah, bibir dan seluruh bagian mulut kecuali gigi. Bagaimana menggaruknya?
Tapi yang paling menarik dari semua pohon buah-buahan yang tumbuh di sini adalah yang berada di sebelah kanan rumah. Ada sebuah pohon yang amat tinggi. Aroma buahnya menggiurkan, asam menggairahkan. Buahnya menyerupai jambu mete atau jambu monyet dalam skala yang lebih besar sekitar 3 sampai 4 kali lipat tanpa mete nya. Bila di belah, akan terdapat sebuah biji sebesar bola bekel berkeping dua. Ada juga yang secara alami partenokarpi (baca:tanpa biji), tapi itu jarang kecuali untuk buah berukuran lebih kecil. Kalau belum masak benar, maka rasa kelat akan lebih dominan dibanding rasa aslinya yang asam melebihi belimbing wuluh. Warnanya putih seperti lobak, maka itu disebut jambu lobak. Ini buah favorit kami. akan sangat menyegarkan memakannya dengan garam dan sedikit cabe.

Rumah yang bisa dibilang hampir bobrok itu, karena kotor dan tak terurus dihuni oleh dua orang. Keduanya laki-laki. Yang satu kuperkirakan berusia diatas 50, sedang yang satunya lagi, agak sulit memprediksi. Karena aku tidak pernah benar-benar memperhatikan, dugaanku tidak lebih dari 31. Yang terakhir ini namanya termasyur seantero gang morodadi yang keseluruhnya ada 5 dan daerah Kotabaru. Bukan apa sobat, dia mengidap sakit jiwa sudah dari dulu, tepatnya kapan terlalu banyak versi. Berulang kali masuk rumah sakit jiwa dan keluar lagi dan bikin ulah lagi. Siapa lagi kalau bukan Japri. Yang berusia diatas 50 tahun itu ayahnya. Seorang pria tua yang galak bukan main, mungkin karena sikap introvert nya untuk selalu melindungi Japri. Kami tidak tahu nama sebenarnya Bapak tua itu. Kebiasaan melayu di sini adalah menghilangkan nama orang-orangtua dan menggantikan dengan gelar anaknya. Misalkan saja ibuku, menjadi Mak Niar atau Mak Ari. Panggilan yang mengidentitaskan kalau ibuku itu adalah ibu dari anaknya yang bernama Niar dan Ari. Jadi, kepopuleran anak juga cukup menunjang orangtua untuk menjadi gunjingan warga gang, apalagi kalau anaknya terkenal nakal. Wah, orang tua bisa jadi selebriti dadakan.

Lelaki tua itu sudah beruban. Hampir menyelimuti seluruh kepala. Dia bekerja di pasar, sebagai kuli pada pedagang ikan. Setiap hari ia membawa ikan-ikan segala rupa, sisa dagangan si tauke. Jadi, walau dari jarak 50 meter, kami sudah dapat mencium kedatangan Bapak Japri ini. Mencium di sini adalah dalam arti harfiah yang sebenarnya, karena memang aroma amis ikan sangat kentara tercium. Aromanya mengalahkan bau kue bolu pandan yang dipanggang oleh rumah tetangga. Terkadang, pekerjaannya di bantu oleh anaknya Japri.

Seringkali Japri membantu ayahnya di pasar. Walau pun lebih sering lagi membuat kekacauan. Sekali lagi sobat, Japri ini sedeng, alias senget, seperti layangan yang kehilangan keseimbangan. Ada sesuatu di otaknya yang berantakan, sehingga tindak tanduknya tak terkontrol dan tidak dapat di prediksi. Dia bisa sangat baik memberi kami jambu lobak, memanjatkan tanpa perlu kami mengendap-endap dan mencuri. Karena kami sangat takut dengan ayahnya. Pernah suatu ketika, menurut cerita eNong dan Dewi ada yang mencoba mengambil buah jambu lobak tersebut, kemudian diketahui oleh Bapak Japri, jadi pencuri-pencuri lugu itu dikejar-kejar dengan sapu lidi. Tapi seringkali kesadaran Japri jauh di bawah kontrol. Sehingga ia sering mengamuk di pasar, bahkan memangkong (baca: bahasa melayu untuk memukul) orang yang tak bersalah. Itulah, dia tidak dapat diprediksi. Bisa kambuh sewaktu-waktu. Makanya sering keluar masuk Sungai Bangkong. Sebenarnya ini nama kecamatan, hanya saja lebih familiar untuk mengidentitaskan rumah sakit jiwa.

Ada satu hal yang membuatku kesal dan jengah kalau mengingat kejadian hari ospek ku. Apalagi kalau diingatkan. Tak tanggung-tanggung eNik, eNon dan Dewi menyakat (baca:meledek, olok-olok). Ini yang sering dikatakannya dulu. Membuatku jengah tanpa dapat melawan. Jorok, tapi aku tidak mengerti apa maksudnya dulu. Lagi-lagi, Sial!!
"cie…Shya, suke lah die tuh.. ngeiat bigi’ Japri. Sampe’ tak bekedip!"
respon ku kala itu hanya mengernyitkan kening dan tertawa bloon. Tidak tahu kalau yang mereka bicarakan itu sangat jorok. Ternyata yang disebut bigi itu berarti srcotum. Mana aku tahu. Kelas tiga SD kami belum mendapat pelajaran mengenai organ-organ reproduksi baik perempuan ataupun laki-laki. Bahkan sampai menamatkan SMA, di Biologi pun permasalahan ini tidak di singgung secara eksplisit. Selalu samar-samar. Guru seperti malu-malu kucing untuk membicarakan seksuality. Karena mungkin yang ada di benak mereka seks selalu identik denganmembuat anak atau make love, padahal jauh di dasar itu semua ada hal yang perlu diketahui anak-anak. Terutama berkaitan dengan tubuhnya sendiri berikut perubahan yang akan dialaminya. Tapi syukurlah sekarang sepertinya pendidikan kesehatan reproduksi sudah mulai tersebar, walau tidak rata.

Tapi, kadang aku juga berpikir. Seandainya pun waktu itu aku sudah mendapat materi mengenai kesehatan reproduksi khususnya mengenai oran-organ reproduksi, rasanya aku juga akan tetap mengernyitkan kening dan tertawa bloon menanggapi sakatan mereka. Jelas saja, karena di dalam bahasa indonesia, tidak mengenal kata bigi’ apalagi dalam bahasa kesehatan. Ah, kadang bingung. Melayu ini seringkali menyesatkan.

Suatu ketika, gang kami lengang sekali. Tidak ada anak-anak yang berteriak-teriak menangkap ikan, tidak ada tawa riang saat bergelantungan di pohon tarzan, tidak ada perkelahian saat memperebutkan buah jambu lobak. Dan semangat kami pun melemah. Kami hanya bermain-main dengan pelepah pinang yang jatuh di halaman rumang eNong. Biasanya permainan ini sangat seru dan mengasyikkan. Apalagi jika dimainkan di tengah panas matahari yang menyengat, debu-debu beterbangan, mengikuti gerak kami, kemanapun. Debu-debu dari tanah liat yang mengering sekian lama dan menjadi lempung dibalur tepung tanah yang terkikis. Debu-debu itu menyerupai asap di atas panggung pertunjukan dan superstarnya adalah kami yang berada di dalam pelepah dengan master ceremony nya adalah si pengemudi yang menarik ujung daun. Debu-debu itu membuat kami terbatuk-batuk, ditambah dengan tawa, membuat debu itu masuk ke tenggorokan lebih banyak dan lebih lama pula kami terbatuk-batuk.

Tapi, kali ini kami sepi. Padahal pemainnya masih sama. Masih ada aku, eNik, eNong, Dewi malah ditambah dengan kehadiran Niar. Kami ini adalah perempuan-perempuan yang kadang senang menggoda Japri, mengikuti anak-anak laki-laki yang lebih besar dari kami tapi tidak pernah mengikut sertakan kami dalam permainan mereka. Belum lebih tepatnya. Karena sesungguhnya, kami hanyalah sekumpulan anak-anak perempuan pemalu tapi ingin juga merasakan secuil kebahagiaan dari alam ini. Tapi sekali lagi, hari ini sepi. Japri harus menginap di Sungai Bangkong lagi. Yang merasakan kesedihan itu tentu saja ayahnya. Ia merasa semakin sepi. Pria sebatang kara itu kehilangan satu-satunya keluarga yang selalu setia. Ia semakin tempramen. Gampang marah, hingga kami mengambil kesimpulan, bahwa kemungkinan Bapak Japri sudah ketularan gila. Jadi kami tidak berani mendekati kediaman beliau. Takut-takut disemprot atau malah dikejar dengan sapu lidi. Padahal saat itu adalah musim jambu lobak berbuah. Duh… membayangkannya saja sudah membuat liur ini melilin.

Tidak sampai setahun, Japri dapat menghirup udara bebas. Merasakan kasih sayang ayahnya. Dan kasih sayang kami juga. Anak-anak kecil cenderung menunjukkan kasih sayang nya dengan celaan, candaan, bahkan keisengan yang mereka tidak sadari bahwa itulah salah satu bentuk perhatian. Mendengar Japri keluar dari orangtua kami, kami melompat kegirangan, padahal orangtua kami takut setengah mati. Takut kalau-kalau Japri menjadi kalab dan kami menjadi korbannya. Tapi itulah anak-anak, tidak peduli.

Kami masih sempat bermain bersama di sela-sela kesibukan Japri membantu ayahnya di pasar ikan. Banyak sekali ibu-ibu berspekulasi bahwa Japri sudah sembuh. Japri seringkali menolong orang. Membantu membawa belanjaan ibu-ibu sampai ke kendaraan mereka, atau sekedar mengembalikan uang yang terjatuh. Japri menjadi sosok yang kemudian paling santer di ceritakan. Warta yang tersebar adalah kesembuhan Japri. Tapi, kami berempat tahu kalau itu hanyalah spekulasi. Bukan karena kebaikan-kebaikan Japri itu hanya isapan jempol, bukan.. bukan pula karena Japri masih suka keluyuran sambil telanjang, bukan.. bukan. Bukan itu. Hanya saja, Japri masih menunjukkan gejala tidak waras. Dia masih sering meracau sendiri.
Bahkan yang terakhir kami lihat adalah dia yang mematung diam di tepi parit depan rumahnya. Seperti Narsiscus yang menatap keindahan tubuhnya pada parigi bayu. Yang kemudian terjun ke dalamnya dan menjadi bunga bakung cantik. Dikenal dengan nama daffodil. Sebuah lagu mengingatkan akan betapa tragisnya kisah itu. Sepertinya Japri sudah khatam dengan kalimat demi kalimat di dalam lagu itu. The Cranberries, Daffodil Lament. Ada kesan getir di wajahnya. Seperti dia tengah melihat masa depannya yang suram, esok.

And the daffodil look lovely today, look lovely today
in your eyes I can see the disguise
in your eyes I can see the dismay..
and the daffodil look lovely today, look lovely today


Tidak sampai sebulan dari hari itu, sebuah kabar mengejutkan kami. Sebuah kecelakaan menewaskan seorang gila. Seorang gila yang sudah menunjukkan kebaikan-kebaikan di akhir hidupnya. Seorang gila yang mampu memprediksi akhir hidupnya di tepi parigi kecoklatan yang kada keruh jika gabus-gabus dan betok terlalu lincah membuat anak. Seorang gila yang banyak memberi kebahagiaan pada kami. aku masih ingat pertemua terakhir di tepi parit itu. Kami tidak berani mendekatinya. Kami hanya memandang dari pohon rambutan di sebelah pohon pinang dekat pohon jambu bol. Perlahan, lagu itu terputar kembali, terseok-seok seperti piringan hitam yang sudah 100 tahun tidak dinyalakan. Pilu.

Bapak Japri tidak jelas pergi kemana. Aku yakin, hatinya hancur. Seorang ayah bisa kehilangan apa saja. Kehilangan harta benda, istri atau apalah. Tapi, seorang ayah tidak akan sanggup kehilangan seorang anak. Penderitaan dan badai besar itu akhirnya datang juga. Di wajahnya yang kasar seakan pernah kulihat dia berkata:

"seorang ayah yang beruntung ialah yang ketika mati akan dimandikan dan dikubur dengan anaknya, seperti ketika si anak lahir dan di adzankan oleh ayahnya, sedang yang paling menderita adalah yang melihat kematian anaknya di saat dia sudah berusia lanjut".

Pahit jika aku mengenang ini, aku bisa merasakan kasih sayangnya pada Japri. Anaknya yang sarat kekurangan, yang selalu membuatnya susah tentu. Semua tidak tersisa lagi. Seorang ayah itu pergi, melarikan diri dan tak ketahuan dimana rimbanya. Yang kemudian aku temukan di rumah itu adalah belanga yang sudah gosong pantatnya, piring-piring seng yang masih menyisakan beberapa butir nasi basi, kopi dalam cangkir seng yang entah sudah berapa lama dibuat. Kami semua menangis. Tapi tak satupun yang mengeluarkan airmata.
Bunga bakung kecil itu sudah pergi. Japri sudah almarhum.
----------------
Kesedihan di tinggal Japri masih membekas sampai sekarang. Seringkali kudengar mulut ibu-ibu mengucapkan nama suci Allah untuk mengucap syukur atas meninggalnya Japri. Aku kesal, aku ingin menghantam saja mulut-mulut itu. Tapi nyaliku ciut melihat dada mereka yang seperti hendak tumpah dari cangkangnya, juga melihat bokong-bokong mereka yang seperti bamper truk. Aku masih anak-anak. Kesedihan ini masih belum bisa terkalahkan dengan hal lain yang serupa. Bahkan saat aku kuliah nanti, aku mendapat berita yang mengejutkan mengenai teman sebangku ku yang tampan dan cenderung narsis akan mengalami hal yang kurang lebih sama dengan Japri. Terganggu jiwanya dan kemudian sempat menginap di Sungai Bangkong.
Bertahun-tahun mencoba melupakan sosok Japri. Sebenarnya tidak ada yang special. Hanya pertemuan yang terakhir itu yang memilukan. Setelah sekian lama, kemudian muncullah sosok lain yang ramai diperbincangkan di Pontianak, bahkan hingga sekarang. Sosoknya terbilang ganjil mungkin lebih tepatnya unik (ah, bahasa politis!). kalau kuceritakan fisiologisnya, aku yakin semua yang tinggal dan pernah tinggal di Pontianak pasti mengenalnya. Kalau tidak, berarti dia 100% kuper.

Ciri-cirinya seperti ini sobat..

Dia selalu ada di jalan seputar ahmad yani, atau sesekali bisa dijumpai di dekat kampus Universitas Tanjungpura. Kadang pula di Kotabaru, beberapa kali di Tanjungpura dan tak jarang di Teuku Umar dekat Telkom. Yang dicarinya adalah parit. Parit besar maupun kecil. Yang selalu dibawa sebagai senjatanya adalah pancing dengan cacing-cacing tanah sebagai amunisi. Rambut nya gimbal, bukan karena mengikuti trend. Bahkan mungkin saking gimbalnya, rambut itu seperti sarang semut yang sudah puluhan tahun dibangun. Entah sudah berapa tahun tidak dipotong, jangan ditanya apa pernah dikeramas atau tidak, karena jawabannya sudah pasti tidak pernah. Pisau-pisau atau gunting taman sekalipun mungkin akan bertekuk lutut dengan rambutnya. Yup! Benar sekali He is Jeron in the house, yo..! (ups, aku hanya sedikit menirukan gaya rapper, rapper gadungan maksudnya). Namanya Jeron.

Tidak ada satupun yang terganggu dengan Jeron. Dimanapun dia singgah. Bahkan di depan istana gubernur, tidak ada yang berani mengusirnya. Seribu spekulasi akhirnya muncul. Sial jika ada yang mengganggunya atau apapun mitos-mitos lain seputar Jeron yang kebenarannya harus tidak dipercaya 100 persen. Tapi sobat, Jeron ini tidak mengidap penyakit gila. Dia waras. Hanya saja, entahlah. Apa yang membuatnya mengambil keputusan untuk hidup seperti itu. Sedangkan, pilihan itu adalah sebuah kegilaan diantara kegilaan lain yang kita buat. Mungkin, dia berpikir lebih baik hidup yang dia jalani seperti itu dibanding dia harus mengemis belas kasihan orang lain. Setidaknya, ada nilai yang diberikan oleh Jeron. Berusaha sendiri, jauh lebih terhormat dibanti peminta-minta. Ah, sekali lagi itu hanya spekulasi ku saja.

Sekali lagi, Jeron tidak gila. Berbeda dengan Japri. Hanya saja yang tidak masuk akal ku adalah cara hidup mereka yang berbeda 180 derajat. Bayangkan saja, Jeron berpenampilan sangat kumal. Dengan baju yang semua orang tidak bisa memastikan ada berapa, dia memakai sekenanya. Tapi dengan rambutnya itu, semua bisa menyangka kalau Jeron tidak pernah mandi bahkan keramas. Berbeda dengan Japri yang seperti anak SD. Mandi di jam 6 pagi dan jam 4 sore. Tanpa perlu ayahnya menyuruh. Kesadarannya akan hidup sehat mungkin melebihi orang yang normal. Itulah hal sederhana yang kadang tak habis-habisnya aku pikirkan. Betapa sangat tipis perbedaan antara seseorang yang waras dan gila. Aku kadang bingung, siapa yang lebih gila, Jeron apa Japri? Bagaimana menurutmu?

2 comments:

Shaman said...

Sangat detail.Sangat jujur.Itu yang aku mahu.Terus sis.Buat novel.Seperti ini lagi.

goresan pena said...

makasih sham...
thx for support me... sebenarnya, agak malu memposting tulisan ini...
tapi, mungkin nanti akan lebih confidence