09 April 2008

Hanya Ingin Kau Baca

25 Maret 2008
Katanya, hidup itu adalah pilihan. Pilihan kebolehjadian. Sebenarnya, aku tidak begitu yakin apa yang akan aku tulis kali ini. Tapi, biarlah ini mengalir, let it flow. Aku percaya, jemari ini masih bersahabat dengan perasaan, indera dan isi kepala ini.

Aku teringat beberapa kejadian yang kualami di penggal waktu lalu, semua berputar-putar seperti jarum jam yang mengitari angka. Semuanya telah terlampaui. Semua telah terlalui. Maka ia disebut masa lalu. Seorang teman pernah mengatakan, ia pernah merasakan waktu berjalan seperti garis lurus. Tidak pernah ada pengulangan. Tapi, kenapa semuanya nyaris sama? Walaupun tentu ada kejutan-kejutan manis dalam hidup ini. Tapi, secara garis besar, apa yang kualami dan orang-orang lain alami, seperti memiliki tipikal kehidupan yang ternyata tidak jauh berbeda. Yang membuat berbeda mungkin hanya sudut pandang saja. Yeah, sesuatu yang tampak, memang selalu bermakna sedangkal tinta yang menempel di atas kertas.

Aku selalu berusaha percaya, bahwa pilihan-pilihan hidup itu tidak hanya dua. Aku ingin mempercayainya. Ingin meyakininya, walaupun kini aku kerap dilanda keraguan sendiri, apa benar, pilihan itu lebih dari dua? Mungkin memang benar, pilihan yang absolut dalam hidup ini hanya ada dua. Benar atau salah, hitam atau putih, baik atau buruk, dan lainnya. Semua yang diluar itu, mungkin hanyalah sebuah nilai toleransi yang dikembangkan. Mungkin ini efek samping dari demokrasi. Atau democrazy?

Entahlah…Yang ku tahu, waktu memang sepertinya berjalan lurus. Sebuah jalan panjang, tanpa belokan. Karena jika memiliki belokan, suatu saat belokan itu akan menuntun kita kembali ke titik semula. But, hei…. Bukankah jika kita berjalan lurus mengitari bumi pun, hasilnya akan sama. Sama-sama akan mengantarkan kita pada titik semula lagi. Ahhh, lagi-lagi pengulangan yang itu-itu juga. Ingatlah ajaran Zen, menyatulah dengan alam, katamu. Mungkin segala aspek kehidupan ini harus kita sanding kan, baru kemudian kita bandingkan dengan gejala-gejala alam lainnya. Percayakah engkau?

Jadi, sebenarnya, apa itu waktu? Banyak yang mengatakan, waktu itu adalah misteri.

Bagaimana tidak? Waktu seperti sebuah limit yang pasti, tapi tidak pasti. Kalau hanya mengukur berapa lama pasir dalam sebuah gelas kaca akan habis berpindah pada ruang di bawahnya, tentu semua itu dapat diukur. Dan itulah hebatnya waktu. Ada beberapa hal yang bisa diukur dengan bilangan, tapi, bagaimana dengan hal-hal lain yang lebih luas? Sesuatu yang berhubungan dengan manusia, sepertinya tidak pernah ada pengukur yang pasti. Tidak, semua hanya seperti perkiraan.

Kau bayangkan saja, janganlah kita terburu-buru berbicara mengenai usia, jatah hidup dan menikmati kehidupan. Jangan itu dulu, masih jauh. Kau pikirkanlah tentang perasaan yang senantiasa menyelimutimu. Apakah grafiknya tidak naik-turun? Apakah perasaan itu menjadi konstan? Ahh..betapa membosankannya. Mungkin ini tidak pernah terbersit dalam pikiranmu, tapi, kala ketidaksengajaan dan pilihan kebolehjadian yang menuntunmu, menemukan figur yang membuatmu terhenyak, apakah waktu dapat menolongmu? Apakah waktu mampu berdiskusi, apakah mampu, waktu menyadarkanmu dalam jeda yang cukup singkat? Butuh energi untuk semua itu. Aku yakin.

Tapi, tahukah… Terkadang, energi kita tidak sanggup menangkap sinyal-sinyal untuk masa depan. Terkadang, gejala-gejala alam tidak mendukung kita untuk menemukan rahasia waktu di hari esok, jadi, untuk bekalku sendiri, aku akan berusaha mempercayai apapun yang diyakinkan padaku di saat itu. Karena, waktu terkadang membawanya menjadi dusta. Sekali lagi, entahlah…

Sebenarnya, apa itu waktu? Anak panah yang melesat dan tak terlihat dimana berhentinya? Ataukah bumi yang mendadak berhenti berputar? Ataukah jagat raya yang tak lagi bersumbu pada matahari? Waktu membawanya menjadi lompatan-lompatan masa yang trengginas.

Mungkin memang benar, tidak ada masa kini.. yang ada hanyalah semu.
Masa lalu adalah apa yang telah kita jalani.
Masa depan adalah apa yang kita pikirkan.
Masa kini??Begitu jarum detik berpindah, apa yang kita pikirkan telah menjadi yang dijalani.

Semua hanya akan kembali ke titik nol. Sesuatu yang kemudian disebut momentum!

Jogjakarta
*terima kasih utk sebuah kutipan yang indah

2 comments:

you said...

percayalah pada keyakinanmu....

goresan pena said...

keyakinan tidak akan berarti apa 2 tanpa usaha dan kerja keras, say..