13 October 2009

...lelatu...

apa yang kubanggakan dari rasa sedih yang melangut?
seperti malam yang bergeser pelan-pelan,
seperti udara yang menyimpan air

sedih selalu saja mampu mengamankan keluh,
dan keluh belaka selalu melahirkan anakan-anakan kesedihan baru

apa yang kubanggakan dari rasa marah yang membelenggu?
ia seperti kutu partenogenetik di pokok jeruk sambal,
parasit hati, jiwa, yang berbiak membentuk penyakit dalam hitungan detik

bukankah rasa adalah ketunggalan yang independen?
lantas kuasa?
tak lebih semata bentukan, karsa!

Akh, dzat...
perkara hidup serupa percik bunga api.

06 October 2009

Mel...

bibirmu terus saja mengoceh,
aku mengalah, diam.
menyimak katamu.

sumpah, Mel...
hanya kau yang sanggup membuatku iri begini

ingat kau 7, 8 tahun lalu?
kau tanyakan tentang mimpi...

kukatakan dengan jelas dan tanpa ragu,
sejak kulihat anak-anak babi berjalan tenang di ruas-ruas jalan utama,
sejak kulihat sekolah misionaris yang mengalungkan gambar Tri Sutrisno di era millenium
sejak pamanku bercerita tak ada lagi siluk sisik emas di kampung istrinya
sejak aku tahu beragam species anggrek hutan sekarung goni hanya dihargakan seratus ribu oleh tauke Malaysia

sejak itu, kukatakan dengan jelas...
aku akan jadi guru, Mel...
guru di dusun-dusun Dayak terpencil.

tapi hari itu tak juga datang, karena perkara pilihan hidup

dan kemarin kau datang dengan celoteh tak berkesudahan,
tanganmu berkali-kali menyeka wajah,
hitam betul rupamu sekarang, Mel
tapi kau tetap manis, Sayang...

ini yang meluncur dari mulutmu.

"kau tahu, Ya...
betapa hebatnya menjadi guru. Bukan aku meremehkan, tapi tak perlu kau lihat guru di kota-kota yang banyak liburnya itu. Suatu saat, kau ikutlah bersamaku. berangkat kita pukul 4 subuh, pakai motor saja, setelah itu, kita titip hingga Batulayang. Kita lanjutkan dengan bis, dan kita masih memerlukan sampan untuk menyeberang, sekitar 20 menit, habis itu kita susuri tanah merah tak kurang dua kilo, sampai di sana, sudah ada ojek yang akan mengantar kita ke atas, mengitari pokok-pokok sawit. Barulah kau akan bertemu dengan 14 murid-muridku! haha... kau masih takut ular? tenang, ular akan tunduk padamu, Ya... karena ia tahu ada pekerjaan hebat ditanggungmu. Kau tahu, ada dua pekerjaan yang sangat dihormati di sini, seorang mantri dan tentu saja guru"

akh, kaukah itu, Mel...
perempuan yang menangis saat KKN karena harus mandi berkemban di parit sempit,
perempuan yang sungguh dekat dengan dunia malam,
perempuan yang tak pernah luput dari make-up dan belanja
perempuan yang enggan berjalan kaki dan enggan bersapa panas matahari?

hei, angin apa yang membawamu ke selatan, Puan?

kau seperti mengejekku, Mel...
mempertanyakan dengan dagelan, apa yang kubuat selama ini?
masihkah mimpi sekedar bercokol jadi bunga tidur?

dan kau menutup dengan sempurna lelucon itu,
"he, Dewa Matahari alias Ra... ataukah Surya, sama saja! masih ingin kau menjadi guru?"

Pontianak,
4 Oktober 2009
01.58 AM

27 September 2009

Manusa Diarcapada (Bag.1)

Maka pagi tidak lagi terlalu dingin. Kabut atau halimun mengelilingi pemandangan sekitar. Bulir-bulir uap mengepul di atas Ranu Kumbolo. Lelaki itu melepas penutup kepala rajutnya. Ia hempaskan, persis seperti tubuh yang sudah terlebih dulu tertambat di bebatu.

Berpeluh dan sarat emosi yang di bawanya dalam tubuh lelah. Tidak sekedar tubuh sebetulnya, jiwa! Kelelahan jiwa betul-betul seperti penyakit mematikan yang siap mengganjar nyawa. Belum lagi kalau sudah berkonspirasi dengan putus asa, lengkap sudah!

Matanya belum lagi terpejam sejak berjam-jam lalu setelah sampai, seperti tak rela dihajar kantuk. Tetapi telinganya tetap awas, dan tangannya bekerja tak henti. Terus saja menggaruk kepala. Lupa ia sudah berapa lama tak berkeramas, alhasil luka-luka kecil mengerak di kepala dan membuatnya asyik mengutili.

Lelaki itu tak sempat berpikir apa-apa, saat aktifitasnya demikian masyuk mengutili kulit kepala. Seperti seorang yang tengah ekstase, nikmat dalam dunianya sendiri.

Sementara kabut beranjak menipis, hembusan matahari pagi mampu mencipta tembusan sinar yang luar biasa di permukaan danau. Lelaki itu tersadar, faham di mana diri serta tubuhnya berada. Ia berdiri, menantang landscape di hadapannya, meneropong matahari dengan kedua mata terpicing tanpa alat bantu, lalu melepas tangan dari kepala. Lelaki itu, Manusa Diarcapada.

---

"ini hanya masalah kebiasaan, seharusnya kau bisa faham!"
"apa yang harus difahami dari sebuah kebiasaan buruk?"
"buruk di matamu, tapi tidak di mata orang lain, Tyan!"
"kukatakan sekarang, kau yang harus faham, mengerti membedakan mana buruk mana benar"
"aku bukan anak kecil!!"
"kau memang bukan anak kecil, Diar! kau anak lelaki satu-satunya, pengganti Bapak"
"lantas apa? kenapa kau sebut-sebut itu?"
"kau harus sadar Diar, kami butuh kau! Ibu juga aku"
"tapi aku butuh diriku sendiri juga"
"di situ masalahnya, kebiasaanmu bepergian tak berkabar membuat kami cemas"
"akhhh... hanya persoal sepele, kau dan Ibupun kuyakin faham. Aku perlu bebas"
"kau egois Diar.. kau egois! lupa kau dengan janjimu pada Almarhum Bapak"
"ckk!!"

dan berakhir dengan Diar meninggalkan Tyan.

Hidup memang seperti permainan. Kadang seperti memancing ikan berjam-jam tanpa hasil, kadang pula seperti menjaringnya dengan jala besar sehingga ikan-ikan kecil akan lolos darinya. Banyak dari kesempatan hidup terbuang sia-sia. Dia memahami itu. Setelah Bapak mangkat, mutlak ia menjadi kepala rumah tangga di usianya yang relatif mudah, belum lagi 20.

Kakaknya Tyan hanya berselisih tak sampai 20 purnama. Tyan kuliah di semester akhir pendidikan guru ketika Bapak meninggal. Sementara Ibu sehari-hari hanya beraktifitas di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurusi bunga-bunga angrek yang tertanam rapi di halaman samping rumah.

Bapak seorang pekerja di sebuah percetakan, bergaji tak seberapa tetapi selalu pintar menyisihkan untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Bapak dulu pernah bercita-cita menjadi wartawan, seorang jurnalis, tetapi menamatkan SMA saja saat itu Bapak kepayahan, sehingga Bapak urung dan memilih menjadi buruh sebelum akhirnya menikah dengan Ibu.

Tetapi diam-diam Bapak selalu menulis, mengetik di waktu-waktu yang terjadwal rapi. Ibu sangat mengetahui itu, menjadi sesuatu yang sangat dikagumi Ibu manakala Bapak terlihat begitu tekun di atas mesin tik-nya yang dibeli di emper barang bekas di bilangan Malioboro beberapa waktu lalu.

Bapak senang betul bekerja di percetakan. Pekerjaannya tidak berhubungan dengan cetak mencetak atau tulis menulis. Bapak bertugas membersihkan kantor, menyediakan kopi dan siap di suruh ini itu. Office Boy, nama tenar pekerjaan itu sekarang. tapi rasanya Bapak tak pantas dipanggil Boy.

Yang membuatnya senang ialah ia dapat membawa pulang kertas-kertas bekas yang salah satu sisinya masih kosong belum tercoret tinta. Berharga betul bagi Bapak sehelai kertas saja. Karena dengan itu, maka ia akan memiliki modal menulis di rumah. Dan ia bisa menenggelamkan diri mewujud apa saja, tanpa ia harus mengingat siapa dirinya. Maka ia akan kemasukan jin tinta dan hanyut dalam tak tuk irama mesin tik yang selalu bergeser antara minor dan mayor.

---

Dua tahun setelah kepulangan Bapak ke Rahmatullah, Tyan mampu menyelesaikan studi strata satunya, tetapi masih lagi belum mendapat pekerjaan. Ibu lagi-lagi hanya mampu mengurusi angrek-angrek yang lambat laun mulai ia lupa nama dan jenis. kehilangan Bapak, membuat ia merasa kehilangan sebagian anggota tubuhnya. Punya kaki, tangan, mata, telinga, lubang hidung, tetapi hanya satu. Ibu seperti lumpuh dan lebih banyak melamun. Kehilangan daya untuk bangkit.

Berulangkali Tyan membujuk Ibu untuk berwirausaha. Tetapi selalu saja gagal. Sudah berkali-kali dicoba, dari membuat jajan pasar yang dititipkan ke warung-warung, membuat opak dari ketela, membuat kerajinan tangan dari wol hingga berjualan tanaman, khususnya angrek yang sangat lihai digarap Ibu, semuanya gagal.

Selalu mentok pada pengaturan keuangan. Selalu akan lebih besar pasak dari tiang. Ibu tidak bisa mengelola, dan menjalankan usahapun seperti setengah hati. Kadang Tyan menyesal terhadap Bapak yang sedari dulu tidak pernah membiarkan Ibu bekerja selain mengurusi rumah. Inilah salah satu efek resiko kehidupan dimana Ibu tidak siap menghadapinya, tetapi Tyan menyadari.

Satu-satunya yang bisa menyelamatkan keluarga mereka adalah Tyan harus bekerja. Apapun itu, Tyan bertekad untuk bisa menghasilkan rupiah demi rupiah. Berapapun jumlahnya, akan ia kejar.

---

Di tanah Kalimantan.

Escavator seri terbaru seharga milyaran rupiah melenggang sombong. Sebentar lagi ia akan bekerja untuk mengeruk tanah di sini. Mesin senso yang terlebih dahulu didayakan. Diar mengamati dari pojok, dimana bangunan temporer dari papan kasar dibangun untuk keperluan developer.

Baru beberapa jam ia datang, menumpang kapal Lawit yang membutuhkan waktu lebih dua hari dari Semarang. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang Bapak di pelabuhan yang kemudian mendamparkannya ke sini.

Sang Bapak, Rusdi nama beliau, mencangkleng cangkir kopi dengan jari manisnya. Asap mengepul dari rokok kretek yang membuat bibirnya membiru. Warung tegal itu menyediakan kopi panas yang sudah butir kopinya sudah bercampur jagung, tentu tak sedap, kecuali bagi mereka yang tak pernah membandingkan rerasa kopi lain. Warung tegal ini tak pernah terlihat berjejal pembeli, semua yang datang, lantas buru-buru pergi. Pemilik warung tidak menyediakan piring, tetapi ia menyediakan pincuk daun pisang, kadangpula daun jati. Ia hanya mau menyiapkan beberapa cangkir saja, itupun terbuat dari seng setinggi ibu jari.

Diar datang tergopoh, memesan sepincuk rames seharga seribulimaratus. Untuk membayarpun ia memerlukan diri merogoh sejadi-jadinya semua saku di celana panjang dekilnya. Cepat ia menghabiskan isi pincuk.

Rupanya ini menarik perhatian Pak Rusdi yang sedari tadi terlampau santai menikmati kopi.

"hai anak muda, kenapa kau buru-buru?" dialegnya sangat kental Melayu.
Merasa tidak kenal, maka Diar menunjuk dadanya dulu sebelum menjawab, hampir tersedak.
Dengan mulut masih penuh nasi dan sambal teri pedas, ia memaksakan menjawab.
"mencari orang, Pak.."
tentu suara yang keluar sangat tidak jelas. Pedanya sambal teri membuat Diar spontan memuntahkan apa yang dikunyahnya. Ia tersedak. Roman wajahnya tersirat bingung. Pemilik warung menyodorkan secangkir air putih, ditambahi dengan satu kata, "gratis". Ada semburat senyum di wajah Diar.

Pak Rusdi tergelak tertawa.
"untuk minum air putih pun kau takut bayar?" katanya tanpa bermaksud meleceh.
Diar merasakan wajahnya memanas, merah, sebuah kutukan atas rasa malu.
"duduk sini, anak muda.. hebat betul kau, dari mana kau segopoh ini?" tanya Pak Rusdi ramah, ditepuk-tepuknya bangku panjang di sisi duduknya.
"Saya dari Jogja, Pak... saya mengantar motor dan saya harus memasukkan ke dalam, akan di kirim ke Kalimantan" Diar mencoba menjelaskan.
"kau yang mengurus ekspedisinya?" Pak Rusdi tertarik.
"oh, bukan.. bukan saya, Pak.. saya hanya buruh. Sayang hanya mengantar saja, nanti saja harus bertemu Pak Rusdi yang katanya akan menerima motor ini. Katanya, ini milik kemenakan Pak Rusdi itu" Pak Rusdi lantas tertawa tergelak mendengar pemaparan Diar.
"jadi kau yang membawa motor si Luki?" Pak Rusdi seperti baru menemukan mentimun emas, sumringah dan terus menepuk-nepuk punggung Diar. Sakit sebetulnya, tapi Diar tentu tak punya nyali berterus terang.

Dari situ, Diar tahu kalau Pak Rusdi ialah seorang pemegang proyek pembangunan sebuah Rumah Sakit di sebuah daerah di Kalimantan. Seperti kebanyakan Melayu, Pak Rusdi berbicara panjang lebar mengenai perang tender yang akhirnya ia menangkan.

Mungkin karena senang sejak awal pembawaan Diar, maka Pak Rusdi tanpa basa-basi mengajak Diar turut bersamanya. Tentu setelah mendengar penjelasan Diar, bahwa kuliahnya terkatung-katung sejak Bapak meninggal dan ia kerja serabutan, apa saja dikerjakannya demi memperoleh uang, menyambung hidup.

Pengalaman pahit Diar, membuat Pak Rusdi mau tak mau berkaca pada masa mudanya yang juga jauh dari kata nyaman.

"kau butuh kerja?ikut aku! kau akan belajar bekerja, mulailah menjadi kuli, buruh, sambil amat-amati pekerjaan yang lain. Jangan mengeluh" tembak Pak Rusdi.
"saya sangat butuh kerja, Pak" Diar menjawab polos.
"kau ikut aku, kugaji kau empatpuluhribu perhari, tapi itu tergantung usahamu, kalau kau kulihat bekerja keras, aku tak segan menambah. Kalau kau mau, segera kucarikan tiket dan kau berangkat bersamaku, beberapa jam lagi"
Diar tak sempat berpikir apalagi menimbang. Yang ada di pikirannya ialah sumber penghasilan. Ia tak sempat juga memikirkan bagaimana hidup sebelum serta setelahnya. Kebutuhan akan uang menjadikannya silaf dengan hal lain. Ia ingin berpenghasilan. dan ada pintu ke arah sana.
"baik, Pak" jawabnya mantap.

---

Suara escavator yang baru di uji coba membangunkannya dari lamunan. Belum dua jam ia berada di area itu, tapi masih sempat ia dan beberapa pekerja memakan buah bernama langsat dan rambai, serta berebutan memakan manggis dari pohonnya, sekarang, pohon-pohon itu sudah rebah di tanah.

Diar menjadi sadar sesadar-sadarnya di mana ia kini berada. Jauh dari rumah, jauh dari orang-orang yang dikenalnya. Ia benar-benar terdampar. Tapi terik matahari Khatulistiwa seperti mengingatkannya kembali bahwa inilah pintu yang akan membawanya pada rupiah.

(Bersambung)

19 September 2009

surat

telah kutulis sebuah surat, yang sebisanya terbaca lugas. surat yang sebetulnya enggan untuk aku tunjukkan pada siapapun. surat pengakuan.

tapi kali ini, aku ingin menuliskan surat lain, surat yang mungkin takkan terbaca jelas. apa yang aku tulis di sini, hanya rasa demi-rasa yang timbul tenggelam selama masa itu.

berbahagiakah aku? semestinya iya, nak...
mungkin aku kurang bersyukur, atau mungkin tidak bersyukur.
aku tidak meminta pengertianmu kelak, nak...
aku hanya ingin kau bisa merasa, manusia berproses, menjalani, meraih apa yang berkesesuaian dengan hatinya.

aku tidak lagi berdaya untuk meneruskan jalan ini. biar kupilih jalan lain. sayang kau belum punya pilihan, maka kau kupaksa ikut bersamaku.
apapun yang kelak terjadi, nak...
kuharap semata kebahagiaan untukmu.

cintaku,
Mama.

06 September 2009

kalau

kalau saja tidak ada hari itu,
dimana kita bertemu atau dipertemukan

kalau saja aku mengerti,
seperti apa dan bagaimana jika

aku mencintaimu,
itu saja.

22 August 2009

Rembulan Mematut Cermin

menitipkan rembulan pada malam
di garis bayang-bayang kelam
ada kesepakatan di kedua sisi hitam
lantas menggelambir, meliuk timbul tenggelam

ini patut ku kisahkan,
sedikit di kala sabit merah menjadi sisa ataukah dimulainya sebuah pertanda

riuh angin bersiweran mencuri pesan-pesan lewat
diantara gelombang suara yang berjejal-jejal

---

kala bermentari:

mata ialah inderaku yang paling tak sua mengantuk di bilangan siang
ia terjaga dari silau atau khilaf pandang
telingaku tak urung tidur kala itu jua
ia senantiasa bermawas diri akan desing-desing bising
pernah kukatakan suatu masa,
bahwa tiada yang bisa kita pertaruhkan selain pertaruhan itu sendiri
pernah juga kubisikkan lekas-lekas menutup diri pada masa depan
sebelum keburu menjadi hari ini..
bukankah kita tidak perlu terlalu lama berbincang tentang esok
sementara itu jiwa raga dan segenap kita hanya diam, bercakap
kapan hendak bertindak?

aku, kau dan juga sesiapa yang nyana..
mungkin pernah menikmati sepoi-sepoi di bawah angsana rimbun
atau kejatuhan butir-butir kuning akasia
atau memainkan gelembung-gelembung batang jarak
atau menggesek-gesek biji karet untuk menikmati sekejap sensasi panas di kulit

aku kau atau siapa saja,
mungkin pernah berangan-angan melompati pelangi yang melengkung
pernah kau melihat pelangi tak melengkung?
hanya di bibir kaca..
begitulah.

aku kau hingga kemudian disebut kita adalah sebuah senyawa
aku kau hingga kemudian menamai kami adalah sebuah molekul
aku kau hingga kemudian berpadu adalah sesuatu yang rekat, tanpa perlu diikat

---

kala bersenja:

mentari mulai menitipkan salam..
ruhnya ia sumbangkan untuk mencahayai malam
dipugarnya bumi dengan ketemaraman rembulan

ada sisa dan jejak yang tak mau diungguli
dengan arogan senantiasa mengisi letik hari
matahari, maha sang hari

pada senja ia pulang,
pada rumah tak beralamat

aku memunggungimu, mendengar dengus nafasmu yang lambat
"sentuh aku," pintamu

aku kau mungkin hanya dua orang tak bertanggungjawab
aku kau mungkin hanya dua manusia tanpa amanat
aku kau mungkin hanya dua, hanya dua.. hanya dua

tapi aku menghendaki menjadi aku.
aku menghendaki tidak ada kau.
aku ingin hanya aku.
senja ini boleh semakin memerah atau jingga atau apalah..
tapi aku ingin sebagai aku, sebagai aku dan hanya aku.

kesendirian senantiasa mengesalkan, bujukmu
ayo bersama, karena aku cukup setia

---

kala bermalam:

ada selembar selimut yang kau usung pada tubuhku
bukan aku pelit,
tapi aku tak lagi bisa berselimut bersama..

jam dinding berdentang malam begini
kau terlelap di negeri dongeng
sementara perutku lapar keroncongan
ulu hati masih menusuk-nusuk

lantas secangkir larutan gula
kubawa mengganjal perut yang menggelinjang, menggila..
kau masih masyuk dalam sangkar dongengmu
kubawa diri bergulung dalam selimut,
apa kau peduli, he?

jadi untuk apa aku berbagi?

sendiri.. sendiri.. sendiri.

---

saat ber...

jangan bawa-bawa utara selatan timur barat dan semua mata angin
aku hanya menembus bumi,
tak kenal arah..
tak sua berlayar..
bintang-bintang hanya kupandang-pandang
tak sua kupatok jadi pedoman.

03 August 2009

dari Pagina Kosong

IZINKAN AKU MENULIS ... !

Banyak teralis yang tidak sanggup memenjarakanku.

Aku adalah anak panah yang melesat, bergayut dengan udara.
Disunting pelangi yang terjilat rintik hujan.

Aku adalah lucarsa yang beranjak perlahan dari dahan satu ke lainnya.
Berjingkat, bersahabat dengan savana.

Aku adalah gelombang yang beriak pada banyu yang kesepian.

Aku adalah hembusan yang melalui-mu, merasai-mu, sekejap... tanpa sempat kau sadar.
kemudian bergegas kembali.

Maka, tak sebuah pun penjara mampu meneralisku.
Penjara itu ialah rumpang-rumpang kosong milik para manusa.
Tak sanggup membingkai ku tepat pada kelopak pariginya.

Karna aku...
adalah siluet yang menjaga lembayung agar tetap jingga.

Entah rahim siapa yang beruntung... melahirkanku.
Akankah kutemui, saat berpantulan dengan diri sendiri di hadapan parigi ?

Siapa Aku ??

Aku adalah DOSA dan BUDI yang dicipta si empunya.

Siapa Si Empunya ???
Siapa Dia ?!
Bisakah kusebut dia, Bunda ?!

1 Jan 2004
16.31

( Rasanya tidak cukup adil !!
tidak cukup mencipta janin hanya bermodal vagina !! )

28 July 2009

Buat Ibu (mumpung nyawa masih menggantung)

Akh.. Ibu,
Kau pernah bermimpi melahirkan aku?
Kupastikan tidak!
Kau hanya akan membayangkan bayi mungil
Yang imut, lucu, cantik menurut versimu
Lantas,
Kau pun berangan-angan cemas segala yang baik perihalku,
Doa menurut tuturmu,
Meski kau sadar betul,
Tidak ada manusia sempurna, sesempurna doa

Akh.. Ibu,
Kau pernah berharap melahirkan aku?
Mungkin tidak!
Kau hanya akan membayangkan bayi mungil
Yang keluar dari jalur rahimmu melewati bukaan vagina
Yang hanya akan senantiasa mengajakmu tertawa
Lantas,
Kau pun berdebar-debar bimbang membesarkan dengan membatasi gerakku
Menjagaku, dalihmu
Meski kau sadar betul,
Aku manusia berubah, berkembang, berproses

Akh.. Ibu,
Adakah kau pernah menyesal melahirkan aku?
(tak bisa kujawab)
Mungkin kau yang harus menjawabnya sendiri, Bu..