06 October 2009

Mel...

bibirmu terus saja mengoceh,
aku mengalah, diam.
menyimak katamu.

sumpah, Mel...
hanya kau yang sanggup membuatku iri begini

ingat kau 7, 8 tahun lalu?
kau tanyakan tentang mimpi...

kukatakan dengan jelas dan tanpa ragu,
sejak kulihat anak-anak babi berjalan tenang di ruas-ruas jalan utama,
sejak kulihat sekolah misionaris yang mengalungkan gambar Tri Sutrisno di era millenium
sejak pamanku bercerita tak ada lagi siluk sisik emas di kampung istrinya
sejak aku tahu beragam species anggrek hutan sekarung goni hanya dihargakan seratus ribu oleh tauke Malaysia

sejak itu, kukatakan dengan jelas...
aku akan jadi guru, Mel...
guru di dusun-dusun Dayak terpencil.

tapi hari itu tak juga datang, karena perkara pilihan hidup

dan kemarin kau datang dengan celoteh tak berkesudahan,
tanganmu berkali-kali menyeka wajah,
hitam betul rupamu sekarang, Mel
tapi kau tetap manis, Sayang...

ini yang meluncur dari mulutmu.

"kau tahu, Ya...
betapa hebatnya menjadi guru. Bukan aku meremehkan, tapi tak perlu kau lihat guru di kota-kota yang banyak liburnya itu. Suatu saat, kau ikutlah bersamaku. berangkat kita pukul 4 subuh, pakai motor saja, setelah itu, kita titip hingga Batulayang. Kita lanjutkan dengan bis, dan kita masih memerlukan sampan untuk menyeberang, sekitar 20 menit, habis itu kita susuri tanah merah tak kurang dua kilo, sampai di sana, sudah ada ojek yang akan mengantar kita ke atas, mengitari pokok-pokok sawit. Barulah kau akan bertemu dengan 14 murid-muridku! haha... kau masih takut ular? tenang, ular akan tunduk padamu, Ya... karena ia tahu ada pekerjaan hebat ditanggungmu. Kau tahu, ada dua pekerjaan yang sangat dihormati di sini, seorang mantri dan tentu saja guru"

akh, kaukah itu, Mel...
perempuan yang menangis saat KKN karena harus mandi berkemban di parit sempit,
perempuan yang sungguh dekat dengan dunia malam,
perempuan yang tak pernah luput dari make-up dan belanja
perempuan yang enggan berjalan kaki dan enggan bersapa panas matahari?

hei, angin apa yang membawamu ke selatan, Puan?

kau seperti mengejekku, Mel...
mempertanyakan dengan dagelan, apa yang kubuat selama ini?
masihkah mimpi sekedar bercokol jadi bunga tidur?

dan kau menutup dengan sempurna lelucon itu,
"he, Dewa Matahari alias Ra... ataukah Surya, sama saja! masih ingin kau menjadi guru?"

Pontianak,
4 Oktober 2009
01.58 AM

7 comments:

Penikmat Buku said...

jujur, gak bisa membalas puisinya...tapi i like that ^^

Nyubi said...

Nyeni banget, keren :)

anakilang said...

Selesai membaca langsung tersenyum. Ringan tulisan nya tidak seperti bunda yang biasanya. Apakah itu alasannya berpindah?

hesra said...

@ Anakilang: akh... Fin... taukah, dalam waktu dekat, aku menjadwalkan untuk turut temanku si Mel itu, lantas ada perjalanan ke Sambas, hingga perbatasan Entikong... sudah tak sabar, Fin... ingin menyudahi Oktober. Semoga masih ada nyawa, Fin.. semoga :)

p u a k™ said...

Puisi ini bagus sekali, aku suka setiap alunan kata demi kata..

Salam kenal ya..

ngupingers said...

woooooowwwww...sueneng aku...salam kenal yowwww berkunjug ya...ke blogku

shin said...

suatu pekerjaan mulia