19 September 2009

surat

telah kutulis sebuah surat, yang sebisanya terbaca lugas. surat yang sebetulnya enggan untuk aku tunjukkan pada siapapun. surat pengakuan.

tapi kali ini, aku ingin menuliskan surat lain, surat yang mungkin takkan terbaca jelas. apa yang aku tulis di sini, hanya rasa demi-rasa yang timbul tenggelam selama masa itu.

berbahagiakah aku? semestinya iya, nak...
mungkin aku kurang bersyukur, atau mungkin tidak bersyukur.
aku tidak meminta pengertianmu kelak, nak...
aku hanya ingin kau bisa merasa, manusia berproses, menjalani, meraih apa yang berkesesuaian dengan hatinya.

aku tidak lagi berdaya untuk meneruskan jalan ini. biar kupilih jalan lain. sayang kau belum punya pilihan, maka kau kupaksa ikut bersamaku.
apapun yang kelak terjadi, nak...
kuharap semata kebahagiaan untukmu.

cintaku,
Mama.

4 comments:

Seti@wan Dirgant@Ra said...

Met siang,....
Puisinya bagus. Jadi kangen Ibu di kampung.
maaf baru sempat mampir.

Erik said...

Hemmm... kini aku benar benar mengerti.

Kabasaran Soultan said...

Haruskah…
Lukisan itu
Menggantung utuh
Dalam rumahmu
Dalam rumahnya
Berdebu …
Memudar …
Lenyap …
Dihenti sang waktu

Atau …
Kalian duduk berbagi kesah
N`tuk menepis segala resah
Sebelum semua terlambat sudah

Nyambung ngak sech ?.

Penikmat Buku said...

subhanallah...^^