22 August 2009

Rembulan Mematut Cermin

menitipkan rembulan pada malam
di garis bayang-bayang kelam
ada kesepakatan di kedua sisi hitam
lantas menggelambir, meliuk timbul tenggelam

ini patut ku kisahkan,
sedikit di kala sabit merah menjadi sisa ataukah dimulainya sebuah pertanda

riuh angin bersiweran mencuri pesan-pesan lewat
diantara gelombang suara yang berjejal-jejal

---

kala bermentari:

mata ialah inderaku yang paling tak sua mengantuk di bilangan siang
ia terjaga dari silau atau khilaf pandang
telingaku tak urung tidur kala itu jua
ia senantiasa bermawas diri akan desing-desing bising
pernah kukatakan suatu masa,
bahwa tiada yang bisa kita pertaruhkan selain pertaruhan itu sendiri
pernah juga kubisikkan lekas-lekas menutup diri pada masa depan
sebelum keburu menjadi hari ini..
bukankah kita tidak perlu terlalu lama berbincang tentang esok
sementara itu jiwa raga dan segenap kita hanya diam, bercakap
kapan hendak bertindak?

aku, kau dan juga sesiapa yang nyana..
mungkin pernah menikmati sepoi-sepoi di bawah angsana rimbun
atau kejatuhan butir-butir kuning akasia
atau memainkan gelembung-gelembung batang jarak
atau menggesek-gesek biji karet untuk menikmati sekejap sensasi panas di kulit

aku kau atau siapa saja,
mungkin pernah berangan-angan melompati pelangi yang melengkung
pernah kau melihat pelangi tak melengkung?
hanya di bibir kaca..
begitulah.

aku kau hingga kemudian disebut kita adalah sebuah senyawa
aku kau hingga kemudian menamai kami adalah sebuah molekul
aku kau hingga kemudian berpadu adalah sesuatu yang rekat, tanpa perlu diikat

---

kala bersenja:

mentari mulai menitipkan salam..
ruhnya ia sumbangkan untuk mencahayai malam
dipugarnya bumi dengan ketemaraman rembulan

ada sisa dan jejak yang tak mau diungguli
dengan arogan senantiasa mengisi letik hari
matahari, maha sang hari

pada senja ia pulang,
pada rumah tak beralamat

aku memunggungimu, mendengar dengus nafasmu yang lambat
"sentuh aku," pintamu

aku kau mungkin hanya dua orang tak bertanggungjawab
aku kau mungkin hanya dua manusia tanpa amanat
aku kau mungkin hanya dua, hanya dua.. hanya dua

tapi aku menghendaki menjadi aku.
aku menghendaki tidak ada kau.
aku ingin hanya aku.
senja ini boleh semakin memerah atau jingga atau apalah..
tapi aku ingin sebagai aku, sebagai aku dan hanya aku.

kesendirian senantiasa mengesalkan, bujukmu
ayo bersama, karena aku cukup setia

---

kala bermalam:

ada selembar selimut yang kau usung pada tubuhku
bukan aku pelit,
tapi aku tak lagi bisa berselimut bersama..

jam dinding berdentang malam begini
kau terlelap di negeri dongeng
sementara perutku lapar keroncongan
ulu hati masih menusuk-nusuk

lantas secangkir larutan gula
kubawa mengganjal perut yang menggelinjang, menggila..
kau masih masyuk dalam sangkar dongengmu
kubawa diri bergulung dalam selimut,
apa kau peduli, he?

jadi untuk apa aku berbagi?

sendiri.. sendiri.. sendiri.

---

saat ber...

jangan bawa-bawa utara selatan timur barat dan semua mata angin
aku hanya menembus bumi,
tak kenal arah..
tak sua berlayar..
bintang-bintang hanya kupandang-pandang
tak sua kupatok jadi pedoman.

5 comments:

genthokelir said...

wah di kelir tanpa rembulan dan gelap mencari cermin yang retak jatuh di kAKI lereng bebukit iniu
putus benang layang jatuh kemana arahnya
selamat menunaikan ibadah puasa

suryotomo said...

Wah bagus kata-katanya, izin membaca-baca blognya ya...

Salam...

totok_kelir said...

kapan matahari bercermin hingga memantulkan cahayanya
wah jarang koment di puisiku lagi hihihihihihihih

ciwir said...

rembulan kapan datang...?

wakakakakka

anakilang said...

suka tulisan yang ini bun....
Tulisan2 nya menyentuh banget.
I love U full pokoknya....