12 February 2009

Pandora ; Pertemuan Kedua


"aku pulang!"

bukan karena lelah, tapi aku sudah ingin pulang.
ingin membuka pintu rumah dengan tanganku sendiri, tak perlu kau sungkan membukakan. aku bisa. bukan karena mata kaki sudah tak mampu membaca arah, tapi dia ingin kembali.

aku pulang, ingin membuka pintu sendiri, membiarkannya sedikit terbuka, agar tidak terlalu pengap. ventilasi ada, hanya saja belum cukup. aku dari luar, perlu penyesuaian sejenak.

tidak perlu..
biar aku saja sendiri yang membuat teh. aku ingin melakukannya sendiri. tak perlu sesungkan itu padaku. aku ingin menikmati teh buatanku.

aku tahu, aku memang bukan pemikmat teh. aku memang bukan penyuka teh. ya! kau tahu betul.. aku lebih senang kopi, tanpa gula. seperti biasa.
tapi, sore ini aku ingin teh saja. biar aku sendiri yang bikin. biar kurasa, seberapa gula yang kuperlukan. takaran kita berbeda...

mari, kau mau menemaniku di beranda?
kau mau mendengarkan ceritaku selama aku mengembara?
kau mau berbagi secangkir teh denganku?
kau mau.. kutatap dengan lembut seperti dulu? mau kah?
mari...

------

kau mencemburui nya!
biar aku jelaskan.

di balik bingkai tebal matanya, aku memang selalu merindukan mata itu. mata yang tidak pernah kutatap langsung. matanya yang terlihat lelah, tapi tidak sebenarnya.

kukatakan, karena dialah aku masih hidup! memang benar, begitulah kenyataannya.
dalam hidupku, ternyata yang kusadari, adalah kebutuhanku akan dia.

tahukah...
dengan ketidaksengajaannya, dia lah yang memperkenalkanku pada pram, pada choelo, pada upasara, pada dr.lecter, pada burung hong, pada pandora, pada tan malaka, pada kesederhanaan, pada kehidupan, pada persahabatan, pada sebuah bentuk yang mampu berubah, pada lady of dream kitaro, pada pacar merah, pada sapardi, hingga aku menemukan sebuah lagu ;hutan kelabu,dan banyak lagi...

dia yang mengenalkanku pada semua yang kuketahui sekarang ini.

semua yang kumiliki saat ini,
yang sekarang menjadi milikmu!

karena dialah aku masih hidup!
aku menantikan pertemuan kedua.

biar aku tulis dengan lugas, di sini;

aku ingin bertemu sekali lagi dengannya. aku ingin pertemuan yang kedua, setelah 7 tahun belum terjadi, setelah aku sempat membangun tiang harapan di 5 tahun lalu.

aku ingin melepaskan bingkai kaca tebal yang selalu menutupi matanya. aku ingin menembus jauh ke dalam matanya. aku ingin membacanya.. aku ingin kembali bersahabat dengannya.

tahu kenapa aku ingin bertemu dia?

hanya satu hal...aku ingin mengucapkan terima kasih.

aku ingin berterima kasih. dulu dia pernah berkata : "biar persahabatan yang ada mencari bentuknya sendiri"

dia juga pernah bercerita di lima tahun lalu...

mengenai perempuan pertama yang diturunkan ke bumi, menurut mitologi yunani. pandora.

pandora dianugerahi banyak hal oleh para dewa. aprodith memberinya kecantikan, hermes memberinya keberanian, athena memberinya roh, demeter mengajarnya memelihara taman, apollo memberinya suara merdu bernyanyi, poseidon memberinya kemampuan agar tidak tenggelam. hera memberinya rasa ingin tahu, dan Zeus membuatnya menjadi perempuan nekad!

selain semua itu, Zeus memberi pandora kota, dengan sebuah catatan : "JANGAN MEMBUKA KOTAK ITU!"

pandora adalah manusia yang memiliki keingintahuan lebih dan lebih... salah kah ketika dia membuka kotak itu?

aku jawab TIDAK!!

walau akhirnya keluarlah bunyi gemuruh.. penderitaan, kemalangan, kesengsaraan dan kemalangan dari kotak itu. tapi ada satu hal, yang harus diperjuangkan :HARAPAN!

lucu dan ironis... sesuatu yang sudah coba dijelaskannya padaku 5 tahun lalu, baru bisa kufahami sekarang. itulah ...

aku pun masih bertanya-tanya, mengapa harus ada jarak waktu diantara kami, mengapa harus ada perbedaan usia di antara kami, mengapa harus ada perbedaan pengalaman di antara kami.

aku tersengal mengejar kemampuannya, tapi, aku justru jungkir balik.

aku faham.

dialah semangatku! dia lah yang membuat ku hidup. dia hingga kini, selalu menjadi sahabat ku. selalu menjadi pendampingku. dengan caranya. dengan caranya, tak pernah berwujud benar-benar bersamaku. itulah dia; sahabatku yang kau cemburui.

jadi, mengertikah kenapa aku ingin pertemuan kedua itu?
mengertikah kenapa aku ingin membuka bingkai kaca tebal penutup matanya?
mengertikah?

aku hanya ingin berterima kasih. itu saja!

dan dia ; perisai amanagappa

------
pertemuan kedua..

bukan hanya sekedar aku ingin bertemu dia.
tapi aku ingin bertemu diriku sendiri, sama seperti suryomentaram..

yang pergi menjelajahi kehidupan, demi untuk menemukan dirinya sendiri.
menemukan dirinya sendiri.

mudah untuk sebagian orang, sulit untuk sebagian lainnya. aku yang terakhir.

aku ingin bersahabat dengan diriku. mencoba memahami diriku.

aku tengah berlari-lari kecil, tak ingin terlambat keluar. aku berlari di dalam labirin. jalan berputar, penuh jalan-jalan buntu menyesatkan.

beri waktu, untuk pertemuan kedua itu. saat aku bisa mengucapkan 'terima kasih' dan mungkin aku akan mendapati diriku sendiri. diriku yang kucari selama ini. dia pernah berkata; "aku hanya cermin wajahmu"

maka biarkan aku bertemu, mencarinya..untuk melihat pantulanku.

-----

suara kecil membangunkanku, jika untuk pertemuan kedua itu kau masih hidup, lantas, setelah pertemuan itu, kau siap mati?

entahlah..
siap atau tidak...hm, waktu terkadang membawanya menjadi dusta.

yang jelas, aku ikhlas, tak ada lagi prasangka.

-----

"aku pulang"

kukatakan itu lembut di telingamu. memastikan kau tidak akan kehilanganku. tidak jiwaku, tidak tubuhku, tidak perasaanku.

aku memang masih menyimpan harapan itu... aku ingin ke venesia, aku ingin ke mentawai, aku ingin menjelajahi pelosok negeri, menjadi guru di dusun-dusun dayak terpencil, aku ingin menjadi penyuluh pertanian, aku ingin menjadi ibu untuk anakku yang bisa menjadi sahabatnya, aku ingin menjadi milikmu sebagai rekanmu, sebagai kekasihmu, sebagai sahabatmu, sebagai partner mu.

aku ingin seperti dulu..
aku ingin mengumpulkan puing-puing hatiku. aku ingin membangun retakan-retakan kepercayaanku. aku ingin berjuang untuk itu.

ingat mimpi kita?
kita akan ke tanah suci, berdua..
sebagai pengganti bulan madu kita yang tidak pernah ada..
sebagai pengganti masa-masa pacaran kita yang terlewat..
sebagai pengganti waktu-waktu kita yang terbuang percuma..

aku mencintaimu, dengan hatiku..
aku mencintaimu...
ketahuilah itu..
sadarilah itu..
fahamilah itu..

-----
di malam itu, ingatkah..?
saat kita terbawa dengan emosi kita.. kemana kita lari?
kemana kita pergi?
bukankah kita sama-sama menangis? menangis telah saling menyakiti? menangis telah saling melukai?
kemana kita lari?
hanya padaNya kan?

kau larut dalam zikir, sementara aku terdiam dan hanyut dalam tangis...

bukankah hidup ini perlu pengertian?

ingatkah saat kau memelukku untuk pertama kali?
saat kau menyentuhku saat pertama kali?

tapi itu tidak penting, karena yang jauh aku rindukan adalah kebersamaan kita. saat kita menjadi tim yang tangguh untuk anak kita, saat kita membangun mimpi-mimpi bersama dan tidak hanya kau yang bekerja. saat kita ingin berbagi dengan mereka, tidak hanya aku yang bergerak..
saat kita ingin berguna untuk oranglain, maka kita harus bekerjasama.

dan aku melakukan dengan caraku sendiri. kumohon, mengertilah...

aku merindukanmu...
dan aku selalu milikmu. selalu.


impluls
5 Sept 08

12 comments:

G said...

WOW! I am breathless dan speechless! WOW!

KABASARAN said...

Luar biasa pesonanya "aku" yang satu ini :
aku yang mandiri
aku yang penuh harapan
aku yang selalu mencari
aku yang sangat penakjub
aku yang berterimakasih
aku yang memimpin "akunya"
aku yang luar biasa

ingin kutelusuri "aku-akumu" yang lain ... tetaplah menggoreh kawan ..luar biasa

Jenny Oetomo said...

Pilihan kata kata yang bagus sehingga dengan mudah untuk direnungkan, salam

Erik said...

Very nice poem...

Repost ya Hes?

ARIEF FIRHANUSA said...

Prosa lirik yang panjang tapi bergerak berarak ...

Nyante Aza Lae said...

ijinkan dq tuk lebih memaknainya

mel said...

bahasa sastra slalu indah,,walau kadang susah untuk dimengerti

goenoeng said...

aku membacanya, sampai berkali2 menghela nafas.
seperti biasa, kamu menyimpan misterimu dalam tulisan, Hez.
ayo cerita... ada sms, ada imel, ada layanan call, hahaha... kata2 siapa itu ?

asal kamu jangan menjadi pandora dan tak pernah membuka kotak itu. konon, akan ada 1000 tahun kesengsaraan setelah itu...

faizz said...

puanjanggggg....

but wonderfull words.

how u make it? tell me

www.katobengke.com said...

kayaknya kata2nya kalau bsa cari yang siimple and barisanya ditata deh.....

hesra said...

* -G- : waduh mbak...jadi saya yang speechless..tulisan ini hanya sekedar emosi jiwa mbak..

* Kabasaran : wah..terima kasih-terima kasih... tapi, rasanya tak seluar biasa itu..he...jadi kepingin malu..

semua yang kutulis di blog ini...adalah 'aku' apa adanya..

* Mas Jenny: makasih loh mas...hehe, hanya sekedar catarsist mas...

* Mas Erik: ah...rasanya ini bukan sebuah puisi... ini hanya gejolak dan emosi...

tepat, ini repost.. i have no idea anymore..

* Mas Arief: makasih mas... saya sepakat dan senang tulisan ini disebut prosa...hm...nikmat rasanya...

* Nyante Aza Lae : he...silakan... wah...rasanya semua sudah tersurat...tak ada lagI yang tersirat..

* Mel : hihi...maafkanlah diriku...jika tulisan ini mbingungin...
soalnya, penulisnya juga lagi bingung pas nulis... nah oh...

* Mas Goe : aku masih bertanya-tanya..apa yang kemudian membuatmu menghela nafas Mas?
"aku akan membuka kotak itu Mas... karena ada sebuah harapan yang akan dan harus aku perjuangkan : HARAPAN!"

* Faizz: he... kepanjangan yah...
hati saya yang menulis, teman...dan suara sukma yang mengejanya...halahhhh....
aniwe, terima kasih sudah meninggalkan koment...:)

* katobengke: hehe...terima kasih...saya diberi masukan...iya sih yah...ada benarnya juga...

hm..saya hanya mencoba menulis dengan bebas, tanpa terikat pakem atau apalah itu. termasuk penggunaan titik, koma, hurup besar kecil, spasi, alinea, semuanya...

saya hanya mencoba mencerminkan apa yang saya rasa dalam bentuk tulisan ini, yang apa adanya.

karena saya pikir, sebuah prosa, tidak hanya berbicara dengan kalimat per kalimat atau isi tulisan saja, melainkan juga keseluruhan.

saya menyebutnya emosi, dalam sebuah catarsist.

salam, terima kasih banyak...

gus said...

cara sendiri kadang menjadi pilihan terbaik. meski harus menunggu lebih dulu cara orang lain.....