02 February 2009

Jelaga Luka

Sore berjelaga itu…

Sudah kukatakan, jangan pergi dan jangan melawan. Lantas, kau masih saja berlalu dengan senyum, senyum yang kuragukan sebagai senyum terakhir. Dan nyatalah semua itu. tak seberapa lama dari senyummu yang mengembang dan penuh keceriaan, lantas.. sore berjelaga itu menghantammu. Sore berjelaga itu mengantarkanmu pada dunia lain.

Darah segar itu masih mengental dan masih segar mengalir dari kepalamu yang terbentur. Masih terngiang darah merah itu menggumpal bersamaan pasir dan debu jalanan. Darahmu, mengalir… meninggalkan senyum di beberapa jenak sebelumnya. Senyum terakhir.

Lantas, mata itu tak lagi memancar sempurna. Lantas, mata itu tak lagi jernih menggoda. Lantas, mata itu tak lagi nakal ingin tahu. Lantas, mata itu nyalang tanpa nyawa. Lantas, aku yang ngungun..

Lantas, Gadis… aku melihat balon udara bersamaan terbang begitu indah berwarna-warni, seperti sebuah aura yang melayang. Sebuah ruh yang berhembus dan pergi menuju mayapada. Balon-balon udara warna-warni yang semakin jauh meninggalkan peti arcapada. Juga peti mati mu, kemudian.

Apa yang kutemui, dan akan kuceritakan jika aku bertemu lagi dengan sebuah sore berjelaga?

Pada kuburmu, aku tanam dendam. Aku bongkar rasa geram dan kutikam rasa rindu. Ingin kusudahi memori, tapi, Tuhan tak menghendaki, lupa segera tersudahi.

Entah, apa ini sore berjelaga seperti tahun-tahun silam. Entah…

Tapi, sore ini aku bertemu banyak kepala-kepala ditenteng, seperti membawa sandal jepit, lantaran banjir semata kaki. Anak-anak belia, baru saja memakan hati yang dibelah bapaknya di sisi jantung manusia. Darah-darah masih tersisa di bibir mereka.

Aku ngungun..

Lantas, berbicara mengenai darah dan nyawa.

Tanpa terbunuh pun, aku seketika mati.

Hilang pergi hati nurani, lantas, hilang kembali parigi jiwa. Sudah tak berbekas lagi.

Lagi-lagi lantas, aku rasakan pada diri sendiri. Aliran darah tersendat untuk kemudian berhenti. Tidak lagi suplai oksigen darah berfungsi, tidak… tidak peduli. Hanya saja darah enggan bersirkulasi.

Tungkai kaki sudah tak mampu bergravitasi, maka ia melawan sejadi-jadinya. Tak perlu ruh atau balon udara yang melayang, tapi tubuh ini, tubuh yang nyaris mati ini, seperti di bulan, seakan tak punya bobot.

Darah, memuncrat dari setiap arteri, lalu merembes dari tiap pori-pori.

Membayangkan mati, sekalian saja…

Bukankah nurani sudah mati? Lantas untuk apa? Jika pun isi kepala sudah suri? Lantas untuk apa jika hidup tapi diam membiarkan yang lain mati?

Jadi untuk apa? Untuk apa? Apa hanya menunggu mati?

Sore berjelaga itu, kala mataku menyaksikan seseorang mati, menghadapi sakaratul maut… sama persis seperti cacing tanah raksasa yang mengerang ketika disundut garam.

Hanya saja, garam tak menimbulkan luka, apalagi darah. Dan cacing, hanya hewan tanpa tulang belakang, tak kan seseram manusia.

Lantas, nyawa seketika tiada, mungkin bersembunyi pada tetes-tetes darah yang bergumpal bersama pasir dan debu di sisi trotoar, dekat bunga kembang sepatu, dan memerahi zebra cross setengah meter dari lengannya yang menangkup sebuah telepon genggam.

Pergilah Gadis, Mayapada lebih indah….

Jogjakarta, 27 Jan 2009
Pukul 23:51
(Di malam yang hening..mendengar dengus nafas Sachy)

4 comments:

KABASARAN said...

ya ...pergilah gadis mayapada mungkin lebih indah ...,
Suatu ending yang manis dan memang hanya itulah yang dapat kita ekspresikan untuk menutupi kegundahan atas ketidakperkasaan kita menghadapi takdir kehidupan...ending yang diakhiri dengan tiga titik dan koma .... sesuatu yang masih menjadi misteri kita semua .. mayapada mungkin lebih indah...

djoko wahjuadi said...

...Gadis telah mentuntaskan perannya di dunia fana ini, jangan kau bebani lagi dia dg dendammu dan penyesalanmu...(nyambung nggak yaa...??)

Erik said...

Pernah melihat peristiwa tabrakan pengendara motor? Saya sempat menyaksikan bagaimana korban meregang nyawanya. Sampai lama saya masih terbayang bayang peristiwa itu.

Nyante Aza Lae said...

yah..kehilangan hati nurani..
(ntah nyambung ntah nggak...)