10 June 2008

Perisai Amanagappa



pada suatu masa,

aku berjalan di terowongan yang gelap
gelap membuatku sesak,
ingin segera keluar,
tapi pekat membuatku buta

di tengah perjalananku yang tersendat,
sebuah cahaya datang
cahaya itu terang,
tapi tidak menyilaukan
perlahan ia mendekat ke arahku

cahaya ini kuyakini sebagai amanahNya
dia tidak menuntunku,
tapi aku yang merasa demikian

dengannya aku mampu
kembali berjalan dengan tertatih,
tersengal memburu nafas
hingga kemudian kutepat di bibir terowongan

cahaya yang lebih besar sudah menanti
bintang terbesar tersenyum menyambut
kuraih hangatnya..
kurasakan pancarannya

tapi sinar ini terlalu menyilaukan
lama-lama aku terbawa, terbakar
kembali kusadar..
bukan ini..
bukan ini yang kubutuhkan..

aku ingin cahaya yang lembut itu
yang kuat tetapi menenangkan,
yang mampu tapi tak sombong!

aku kehilangannya..
di bibir terowongan kemenangan
kenapa dia harus kalah dengan cahaya bintang?
kenapa dia harus pergi dengan perlahan..
kenapa dia meninggalkan di saat aku lebih tersesat?

pencarian yang tidak sebentar,
waktu yang membuatnya menjadi lama.

telah kutemukan dia:

jauuuuh di sana..
di seberang lautan di balik gunung-gunung menjulang
jauuuuh di sana..
di pekatnya rerimbunan hutan
jauuuuh di sana..
di dingin dan dalamnya samudera lepas
jauuuuh di sana,
diantara sejuta bintang di langit malam

aku ingin mendekapnya,
segera.
tapi ada yang memberontak;
kesabaran.

mungkin sebaiknya kunikmati dari kejauhan,
daripada kupaksa dia mendekat..
kemungkinan cahaya itu akan kalah
dengan cahaya bintang terbesar,
dan dia lalu menghilang lagi..

ah, tidak..tidak..
rasanya tak kuat
harus berpisah lagi,
walau hanya dengan bayang-bayangnya..

biarlah..
setidaknya,
masih kurasa,
hangat yang sama
temaram yang serupa.
cahayanya..

(terimakasih, kau masih seperti udara bagiku)

5 comments:

vei said...

jauh disana ada bintang..
jauh disana ada kebenaran..
jauh disana ada kebahagiaan..
dan jauh disana awal dari keabadian..
kejarlah.. kejarlah..
impian dan harapan akan merubah masa disana..

goresan pena said...

waktu mengajarkan padaku.. tidak semua hal perlu dituntaskan. mungkin akan lebih indah membiarkannya mengambang. walau benar sekali, mungkin jika dituntaskan, di kejar kelak dapat merubah semuanya. dulu, aku pernah mencoba mengejarnya, mencoba menuntaskannya, seseorang berkata "keberanian untuk menembus kebuntuan". tapi, sekali lagi, waktu mengajarkan padaku, apa itu masih perlu?

sahabat said...

ilustrasi fotonya bagus bikin penasaran

gambar apa si?

goresan pena said...

fotonya bagus?
bikin penasaran yah?
gambar apa sih?

dia; perisai amanagappa

lintangpanjer said...

seperti kisah hidupku...
hopeless....