08 January 2009

Refleksi 2001-2009

Hari yang membahagiakan...
Teman-teman... masih ingatkah Tsunami Aceh? Ingat pasti... tapi saya tak yakin, ingatan kita sama mirisnya seperti 4 tahun lalu. tentu tak sesegar dulu..

Beberapa hari lalu, sahabat saya berkata: "buatkan aku puisi, refleksi Aceh. Untuk perform pembukaan pameran foto mas Amigo"

Saya tersenyum, tak yakin mampu.

Tapi, tentu saja saya tetap garap.

Sampai lah hari ini, narasi yang saya buat mereka tampilkan. Hanya untuk kalangan kampus, memang. Tapi, ada yang menarik.

Ini masalah apresiasi dan bentuk penghargaan atas apresiasi itu sendiri.

Sayang, saya terlambat menyaksikan, karena terlampau asyik dengan kopi di kantin kampus sebelah. Terlambat 10menitan.

Hmm...
Kampus sudah ramai, teman-teman, pengajar, bahkan ada anak2 SMA berseragam pula. Padahal mereka perform spontanitas dan nggak ada woro-woro.

Saya lebih tertarik memperhatikan mata tiap-tiap penonton. Tak ada satupun yang meledek, yang 'ngece' yah..semua menikmati. Meskipun yang ditampilkan teatrikal.Yang tentu tidak semua orang dapat faham. Jauh berbeda dengan atmosfer di kampung halaman dulu...

.....

Saya teringat sewaktu masih kuliah di Pertanian dulu.

Pernah suatu ketika, saya salah mengumpulan tugas. Ahhh...ingat benar saya dengan kejadian itu.

Jadi ceritanya, dapat tugas membuat paper dengan tema "fotosintesis".

Saya membuat dua versi. Yang pertama adalah yang saya peruntukkan untuk tugas, sementara yang kedua, ialah untuk koleksi pribadi. Tentunya dengan penulisan berbeda. Kalau yang untuk tugas, tentu saja seperti biasa. Nah, yang untuk koleksi pribadi itu, saya tulis dalam tiga paradigma, antara pertanian, politik dan psikologi.

Yah..namanya saja remaja baru berusia 18, yang masih bau kencur dan lagi semangat-semangatnya berorganisasi di lembaga swadaya di tambah rasa sok idealis lagi... komplit.

Kedua tulisan itu saya copy ke disket (heiiii... jaman dulu belum ada flashdisk kali'), lantas saya meminta tolong salah seorang teman untuk nge print.

Sialnya, yang dprint salah dan saya tak sempat mengkoreksi. Langsung saja dikumpul.

alhasil...

Saat ujian, nama saya dipanggil kencang oleh seorang dosen, berjilbab pula. Lantas di katai seperti ini, di depan kurang lebih 100 mahasiswa yang sedang ujian.

"kawan kamu ini tidak waras! gila kali dia..." sambil tertawa melecehkan. tanpa saat itu saya tahu kesalahan saya.

Marah, tentu saja. Tapi mau apa? bayangkan saja, perkataan itu keluar dari mulut seorang dosen dan notabene dia perempuan pula!

Ahh, bahkan sampai saat ini saja jika mengenangnya, masih nyesek.

Lantas, datanglah saya menghadap beliau ke ruangannya.

"Ibu, saya yang disebut gila tadi di kelas Bu.. apa saya berbuat salah?"

dia tidak menjawab. Melainkan melemparkan paper tepat di hadapan wajah saya.

"ini apa namanya kalau bukan gila? (masih dengan tawa melecehkan), hah..sok-sok an.. pasti ini aktifis-aktifis yang sok idealis ya kan? ngapain kuliah di pertanian?"

Saya baru sadar, ternyata benar. Memang teman saya itu salah print dan pastilah keliru mengumpulkan.

wah, masalah marah, tentu lah saya juga termakan emosi. kesal bukan main.

mbok yah di tanya baik-baik. Pastilah takkan serunyam itu..

Setelah saya jelaskan duduk perkara sebenarnya dan itu bukan karena kesengajaan, tetap tak satu kata maaf pun keluar dari bibir ibu itu!

hhh...

.....

Tapi, ini yang menjadi pemikiran saya.
Kalau seseorang dengan label pendidik saja tidak bisa mengajarkan cara menghargai. Bagaimana mungkin ia bisa menciptakan manusia-manusia yang juga bisa menghargai orang lain?

Saya percaya, kalau tiap orang terlahir sudah sangat berharga, dan tak perlu diharga-harga kan lagi oleh orang lain. Tak perlu penghargaan dari orang lain, karena kita sudah begitu berharga.

Tapi satu hal. Apresiasi terhadap apapun karya orang lain. Itu adalah mutlak perlu. Karena setiap individu adalah insan yang berbeda, yang punya kepekaan yang tidak sama. Mungkin hukum relativitas einstein bisa dipakai.. (halahhhh...).

.....

Saya bayangkan jika perform teman-teman itu dilakukan di tempat kuliah pertama saya. hahaha... saya jamin, yang akan mereka dapatkan ialah ejekan, bahkan mungkin cemoohan. Saya jamin!

.....

Ahhh, seharusnya dari dulu saya sudah ke sini. Mungkin tempat saya adalah di sini. Di mana orang-orang masih bisa memberi ruang untuk orang lain.



NB: trims untuk kamandanu... terima kasih berbagi dengan ku, sahabat...

6 comments:

Erik said...

Hemm saya sepakat, manusia dilahirkan dalam kondisi yg berharga, manusia diciptakan dalam keadaan yg sebaik baiknya.

Karena itu jangan melecehkan/atau menhina orang lain, karena pada saat menciptakan, Allah tidak menghinakannya, namun Dia menciptakan dengan ke Maha Mulia-annya.

goenoeng said...

apa ini yang seperti kamu bilang, Hez ? bahwa kamu harusnya dari dulu sudah di sini (jogja) dan lebih cocok di sini ?

ARIEF FIRHANUSA said...

Si dosen nyinyir itu sebenarnya bukan marah sama kamu, Hez, tapi memaki diri sendiri lantaran tak bisa bikin apa yang kau tuang dalam tulisan ... Hehehe.

Lia Marpaung said...

seharusnya dosen model spt itu sudah tidak dipakai lagi, karena tidak sesuai jaman...tapi, lihat positive sidenya...paling tidak dengan melihat sisi gelap si dosen itu, kita dimampukan melihat sisi lainnya, yang mudah2an adalah sisi terang...mampu memperbaiki dari apa yang salah...

Rakha said...

He..he..he..salah sendiri mbak.Untung aja gak kuliah di Teknik Mesin.Bisa-bisa bikin paper yg judulnya Rahasia di balik Lingkaran Mohr..

Anonymous said...

mengapa tidak:)