16 January 2009

Fokus Jauh (Refleksi)- repost

Bahagialah selamanya..

Mentariku..

Kekasihku..


Aku tahu ini tidak akan lama lagi. Aku tahu ini akan tuntas beberapa saat lagi. Kala kesadaran telah memuncak dan kenyataan kalahkan ego yang sebelmnya menguasai, maka tamatlah cerita dari sepenggal harapan yang sepertinya masih berupa mimpi. Aku masih saja berfantasi, membiarkan khayalanku mengembara kemanapun ia dituntun kendali pikiran dg liar.

Aku tahu ini akan tuntas, walau aku tidak ingin. Aku masih ingin berada di tempat ternyaman ini. Sudah cukup. Semua sudah kuperoleh di sini. Gelembung ini ckp untuk menghidupiku. Justru diluar terlampau memabukkan, udara telah terkontaminasi, tiada yang semurni di sini, dalam gelembung kosong yang berisi aku.

Jangan sadarkan aku,Tuhan…

Dalam tiap sujud selalu kucoba untuk lari dari realita. Tapi kemudian malam itu, gelembung kosong itu memilih untuk mengeluarkanku, meskipun ia harus terpecah, meskipun ia tak tahu apa yang kan kualami di luar sana.

Selalu ia yakinkan, ku kan selalu berbahagia dengan udara yang melimpah, sinar matahari yang tiada berkesudahan.

Tapi dia lupa.. masih ada malam yang begitu menakutkan, begitu dingin… hm, tidak seperti dalam gelembung tersebut.

Tapi kembali dia yakinkan, masih selalu ada bulan, yang jika cahayanya tidak mencukupi, akan ditambah dengan sejuta bintang yang berkelip riang. Yang akan mengusir semua kegundahan yang berani menyerang.

Tapi dia lupa, malam tak selamanya cerah, hujan melunturkan cahaya bulan, menenggelamkan bintang-bintang dalam malam yang kelam.

Seandainya berada dalam gelembung, aku tidak akan tersentuh tetes hujan, akan selalu hangat di dalam.

Tapi lagi dia yakinkan, hujan akan mengahapus semua keraguan, hujan akan membawa pagi yang jauh lebih cerah, lebih menyenangkan, lebih menjanjikan. Pagi berpelangi.

Tapi dia lupa..
pada pelangi-lah rajapala mencuri selendang bidadari, kebahagiaan yang diperoleh dengan ketegangan dan keberanian.

Aku coba katakan, kebahagiaan perlu perjuangan, jika kau kehendaki. Dia berguman pelan, semua bisa membuatmu bahagia, mentariku.

Aku diam. Dalam hati kuberkata lirih, lebih ditjukan untuk diri sendiri.

Icarus berjuang merentas langit, menggapai mentari, pemimpi yang berhasil memiliki sekejap keindahan langit tinggi. Walau itu harus dibayar mahal dengan nyawanya, sayap yang terbakar matahari dan tubuh yang terhempas di laut luas.

Hhhhhh……
Nafas belum lagi usai.
Ruh ini masih menggantung di gorong-gorong tenggorokan. Ruh yang berisi penuh namamu. Akan kupahat namamu, dalam pusara hatiku, kata PADI.

Aku akan selalu mencintaimu, sampai batas waktu yang aku sendiri tidak tahu kapan akan berakhir. Hingga nafas ini tuntas. Setelah kau menunaikan janjimu.

(...)

Kamar yang serba putih. Horden hijau. Aku tak menghiraukan.

Yang kusadar, aku harus berjuang, menyelamatkan diriku sendiri dan anak yang akan kulahirkan. Segala kumandang yang lazimnya aku hafal, kulafazkan berkali-kali, berulang-ulang untuk mengusir rasa sakit yang maha dasyat.

Dasyat! Karena semua wanita yang beruntung yang pernah merasakannya. Hanya wanita yang beruntung yang sanggup melewatinya.

Dan yang lebih dasyat, backsound di ruang bersalin ini! Lady of Dream nya Kitaro.

Bagaimana mungkin dokter yang akan membantu persalinanku ini bertindak konyol. Aku sudah bilang saat konsultasi, jangan putar lagu itu lagi. Aku sudah muak. Tapi kenapa dia malah menggoda amarahku? Ini tidak membuat relaks, prof....

Ini malah membuat terowongan memoriku bekerja aktif. Hormon progesteronku berontak. Memicu kontraksi semakin mepet, semakin singkat jeda nya. Kontraksi semakin kuat, dua bidan di sisi kanan kiriku.

Sakit.

Aku lelah, aku mengantuk. Berkali-kali gagal mengeluarkan bayi di rahimku. Semakin sakit, sementara tungkai ini sudah lelah, nafas ini sudah terbata-bata, aku lelah. Tenaga ini sudah banyak terkuras. Tapi bidan di sisiku kembali menyadarkan.
”ibu tidak boleh tidur, berbahaya.. ayo bu, kita coba sekali lagi”
aku harus berkata apa? Ini salah mu Prof...
dia berkata, dengan tenang.
”kalau sekali ini kita gagal, kita coba vacum”
hei.. apa aku masih punya pilihan? Aku pasrah, pun seandainya aku meninggal di sini, aku sudah pasrah.

Aku coba sekuat-kuat kemampuan yang masih tersisa, aku yakinkan semua baik-baik saja, aku percayakan anakku juga segera ingin keluar dan ingin melihat wajah ibunya.

Aku kerahkan semua indera untuk bekerja maksimal, aku tutup semua pintu-pintu ketakutan dan keraguan, aku lafazkan dengan tenang asma Allah. Hingga suara tangis itu terpecah dan menggema.

Pukul 06.10. Chalisha Sahira Sachykirana.

Bayi mungil itu anakku, bibirnya terbuka lebar, menangis dengan sangat kencang, tubuhnya berlumuran darah. Aku tak kuasa, hingga aku terseret ke alam bawah sadarku. Sebelum aku tercampak jauh, kucari sekeliling, dimana suamiku? Kucari semampu mata dan linuwih ku yang tersisa, tidak ada.

(.)

Aku meninggalkanmu.
Tanpa sempat kuberi kesempatan untuk merasakan saat-saat bersama. Aku tidak pantas untukmu. Saat itu aku belum pernah mencintai seseorang dengan semestinya, aku hanya mengikuti kata hati tanpa tahu aturan main yang seharusnya.

Aku mengenal wajah-wajah yang datang silih berganti. Yang datang dan memang aku persiapkan untuk pergi suatu saat nanti. Di saat aku mulai tidak mengerti dengan aturan main yang mereka tetapkan. Hati dan jiwa ini masih belum mampu menerima sesuatu yang tulus, dari jiwa lain yang tulus, dari kau yang telah bermetamorfosis.

Hati ini masih belum mampu membedakan mana yang angkuh hati, mana yang terbakar cemburu. Sebenarnya, hati ini masih ragu. Ragu akan perasaanmu,dan aku meraba dengan salah, seperti membaca koran terbalik. Aku yang justru jungkir balik.

Tapi, angkuh hati yang menyebabkan aku selalu dapat memanipulasi setiap rasa yang datang dan pergi. Aku jago nya. Munafik. Aku akui, tapi aku tidak mengaku padamu.

(..)

Suatu ketika, dalam gerimis yang cukup panjang, di tengah badai yang baru saja usai, di saat mawar masih merindukan heilena yang tidak begitu silau, sepasang kupu-kupu membawa pesan dalam sekeranjang buah-buah ranum.

”aku akan membawamu terbebas dari gerimis yang akan membuat helai kelopakmu perlahan berjatuhan”

tanpa aku sempat menjawab, aku seakan diseret. Pergi. Hanya bisa menatap helaian-helaian yang telah terjatuh. Aku pergi meninggalkan badai, meninggalkan gerimis, tapi yang membawaku itu tetap tak mampu melindungiku dari badai dan gerimis, dari tetes hujan.

Aku ingin sebuah gelembung, dengan tatapan mata yang hangat dan mantap. Aku ingin dia.

Tapi aku bercanda. Dia sudah pergi, tak peduli ku lagi.

Aku pergi. Meninggalkan taman rahasia yang mulai terkubur banjir. Aku pergi,melepaskan helaian-helaian dan duri-duri yang sudah berlepasan. Jadi, yang kau bawa ini siapa? Apa?

Hanya sebuah raga yang kosong.

Sebuah mimpi yang terbeli. Mimpi terbebas dari gerimis yang tak berkesudahan. Rumput-rumput bergoyang, melambai.. memberi salam terakhir. Aku pergi, cinta lama... aku pergi sahabat-sahabat. Maaf jika aku sellalu menysahakan kalian. Maaf yang tak terucap. Karena ego selalu menguasai diri.

Aku tinggalkan semua kenangan yang di masa datang kuyakin mampu bangkitkan kembali gejolak hati. Aku pergi mengiringi sayap bidadari. Terbang di sisinya yang menjadi sandaran kini. Kemudian merajut kenyataan yg datang tanpa terlalu disadari.

(.)

Aku berdiri di tengah telaga. Berdiri dengan kaki terbuka,menghadap tirta. Sunyi memandangi bayang-bayang diri yang bergoyang disapu riak.

Memandangi sosok-sosok yang dikenali,wajah-wajah yang telah datang dan pergi. Lalu datang kembali.

Tidak semuanya mampu mengulas suatu memori. Tidak semuanya mampu menguak.mereka berputar-putar seperti jarum jam mengitari angka.

Hanya beberapa yang sanggup mengembalikan asa. Asa yang pernah datang, memberi hidup lalu sirna ditelan badai.mimpi-mimpi indah yang terangkai lalu habis di lumat hujan besar. Walau mimpi tidak begitu saja berakhir ketika kita terjaga. Wajah yang termangu,tidak mau beranjak dari hadapanku.

Dengan cahaya matanya yang tenang, yang penuh keraguan, yang selalu mengundang tanya, yang selalu bersedia ada,dimanapun aku berada.wajah itu harus aku singkirkan.

Aku hanya mawar yang nantinya akan menoreh luka pada tubuhnya.duri ku terlampau menyakitkan buat jari-jarinya yang indah.

Aku memilih pergi. Tak mengacuhkan bayang pada banyu biru itu. Aku siap beranjak, sebelum melangkah.. sempat kulihat dia menjelma menjadi sebuah gelembung, mencoba menghampiriku,mencoba meraih aku. Tapi aku memilih pergi. Tak ingin menggurat luka yang lebih dalam lagi. Walau aku ingin kesana,merasakan hangat di dalamnya. Tapi aku memilih pergi.


------

Pagi hari datang. Sinar mentari masuk melalui celah berlubang.
aku harus mulai terjaga, sadar sepenuhnya, dimana tujuan itu tertambat, hanya Tuhan yang dapat diajak bicara. bukan siapa-siapa. dimana keangkuhan luruh dengan sendirinya. dimana tidak lagi ada yang menjadi sia-sia.

10 comments:

ARIEF FIRHANUSA said...

Tapi sekarang ini kau tak bisa balik lagi ke 'gelembung' itu ya sist? Mengapa tak kau ciptakan 'gelembung' baru agar percik hujan tak mengenai bajumu?

alris said...

Kalo aku malah minta terus disadarkan Tuhan.

awie said...

kadang kita malah nda perlu gelembung karena ada keindahan di balik hujan keindahan yang penuh makna tentunya ,lamkenal mba?

Bulan Luka said...

Semadi, semadi, semadi...

goenoeng said...

ck...Hez, tulisanmu itu lho...

gus said...

aku spechless membacanya. kalimatnya seperti langsung menusuk tajam. dan tak memberi kesempatan padaku untuk berkata selain kalimat: inikah makna sebuah pergulatan hati yang sebenar0benarnya?

wennie yusra said...

lam kenal mba
terkdang gelembung itu memang harus pecah, karena tak semuanya bisa bertahan lama...dan kenapa kak gak coba tuk melangkah membuat gelembung yang lebih kuat???agar ketika dia pergi nanti kak dah lebih siap tuk menerimanya, kak gak kan merasakan sakit yang terlalu dalam lagi....
hikz...hikz...

Jenny Oetomo said...

Jalinan cerita dengan untaian kata demi kata yang sangat bermakna, Salut deh, Salam

goresan pena said...

wah... saya lupa, tak membalasi komentar2 di sini.. tak balesi akh...

@ mas arief: bisa mas.. bisa kalau saya mau! tapi saya tak mau.. :)
menciptakan gelembung baru? aha.. pasti serupa tapi tak sama..

@ alris: hehe, mustinya begitu yah?

@ awie: salam kenal juga. begitu yah? hihi.. bukankah tetes air juga berupa gelembung?

@ bulan luka: kelamaan pak.. bangun..

@ mas goenoeng: ck, kenapa ta mas? senengane gitu..

@ gus: hem, ini hanya percakapan, bukan pergulanan kok pak.. hihi..

@ wennie sayang: aha.. ada yang keliru, say..
saya tidak sakit atau tersakiti kok. justru mungkin saya yang menyakiti..:)

@ mas jenny: terima kasih.

anakilang said...

Duh bundaa......
tau gak bunda... baca tulisan bunda serasa aku ikut berada di dalam setiap adegan itu... di ruang persalinan

Emosi dan perasaan yang berluap2....

---- Chalisha Sahira Sachykirana-----

Indah sekali namanya...

Love u Bunda...