28 May 2009

Drama 161 Menit

19:48

Ponselku bergetar, tanpa nada. Nomor ini, ada apa lagi? Benar saja. Akh, nasi-nasi di piringku belum lagi habis. Secangkir teh seduh dari pekarangan sahabat di Ponorogo, belum lagi tuntas.
“saya butuh sweater, bisa tolong carikan?,” pintaku pada perempuan berambut panjang yang hitamnya terlihat indah lurus itu.
“kedinginan lagi, Bu?,” ia sempat bertanya sembari tangannya menelusuri lemari pakaian.
“saya harus pergi, Mbak,”
“buru-buru begini?,”
Aku tersenyum, kecut. ‘apa ada pilihan lain?’, malas aku menjawab, jadi kusimpan kata-kata itu dalam hati.

19:52

Kutembus dinginnya Jogja. MasyaAllah, musim apa pula ini begini dinginnya. Satu dua bintang tampak, tapi tak kuindahkan. Yang terasa benar hanya gemeretak gigi berpadu satu, himpit-himpit saling serang di ngilu silir angin. Tanganku tak berkaus, sehingga sisipan angin cepat bergeliat masuk melalui celah buntung baju.

Sepanjang jalan, segenap jiwa, raga, karsa mengumpat sejadi-jadi, sesesak-sesak, seolah berkomplot memerintah saraf-saraf otonom untuk tak mencipta pikir sendiri. Kali ini musti seragam! Selaras!! Mengumpat saja!! Muntahkan kata serapah. Awas.. segenap aku sedang tak hendak berdebat di ranah hitam putih diskursus!! Ingat itu..

Aku hentikan sepeda motor di bawah beringin tepat di pertigaan jalan selaras terminal. Nomor lain kuhubungi, berkali-kali kucoba. Hasilnya, hanya segenap aku yang mengumpat. Sialan!! Begini rupa.. begini rupanya... Hingga ke tujuh kali, telpon diterima, dengan suara-suara musik yang jauh lebih kencang. Sial!! Aku susah begini dia malah nongkrong!!

Tak perlu berpikir lagi, aku bergegas menuju utara. Tanpa kacamata, sama saja dengan aku meraba. Pendar-pendar lampu kendaraan berebut posisi, menghantam pandangku. Maka yang kutangkap tak lebih dari cahaya-cahaya pecah, dan gerak refleksku harus bekerjasama meyakini respo, perlu menghindari, bergeser atau tetap.

Hingga di turunan ini. Yang jika saja sore atau pagi kelewat pagi, maka merapi akan terpajang sok misterius dengan gerbang berderet-deret bambu di kiri-kanan, terowongan panjang serupa lorong rahasia penghubung Taman Sari dan Laut Selatan, kukira. Bolehlah, mengira-ngira. Jalan rahasia itu tertutup, jadi sah-sah saja menebak-nebak seperti apa. Benar salahnya, bukakan dulu! Biar kujajal.

Akh…
Amarah memang senantiasa merembet, seperti merecon cabe. Serenteng cukup disulut satu. Atau beribu-ribu pun, jika sumbu itu terhubung, maka menjadi-jadilah ia. Seperti aku ini, semua orang bisa salah serentak. Semua mausia bisa terlihat seperti setan, sementara setan, lantas serta merta menjelma Tuhan. Akh… lakon apa pula itu?

20:04

Nah, aku sampai juga di rumah ini.

“tidak ada? Kemana?? Rumah sakit??”
Aha!! Sejak kapan Rumah Sakit nanggap konser? jedag jedug pula.
“memang tidak berjanji. Tapi saya sudah sms tadi. Kalau kuncinya, ditinggalkah?,”
Laki-laki Tionghoa berwajah Jawa itu masuk dan kembali dengan setangan kunci. Kulihat ia sedikit pincang, akh.. habis kecelakaan kemarin, saat banjir di jalan Purwodadi. Tetapi peduli apa, aku sedang tak mampu berbelas asih. Istrinya keterlaluan benar!

Kulanjutkan perjalanan, memacu lebih kencang menuju timur. Jalan sepi, melintasi Lapangan Sepak Bola yang kabarnya bertaraf internasional. Rumput gajah tumbuh subur lebat di sisi-sisi jalan, sebagian masih banyak rerumpun tebu. Ngeri benar sebetulnya. Rumpun tebu selalu identik dengan kejahatan, entah itu pembunuhan atau pemerkosaan. Kriminal, demikian dekat. Terakhir malah kondom yang demikian banyak berserak di situ. Disapu Dinas Kebersihan tiap subuh. Haiiyyaahh.. berkencan kok di tempat seperti itu? apa untuk mendongkrak adrenalin? Entah!!

Sementara plang-plang reklame terpajang, pohon-pohon besar diam, serta rumah-rumah tak berbayang, di mataku menyerupai berhala-berhala Pagan tanpa punya umat. Sepi benar. Padahal hari masih begini sore. Mencekam? Tentu saja!! Lihat itu.. arakan awan putih pada hitam biru langit seperti kereta Nyi Kidul menyibak semesta. Aku kembali pada diriku, mengamini amarah di dalam dada.

...

AKU berdiri di sudut paling angkuh, dengan gejolak yang luarbiasa berontak hendak mencelat. Laki-laki itu sudah membengkasnya.
“begini caranya?,” ucapku d-a-t-a-r.
Mereka berkilah.
“besok di bawah sini akan dibuat saluran air, terpaksa kami membongkarnya”
“begitu tiba-tibanya? Hingga aku hanya punya waktu separuh jam dan itupun masih saja terlambat? Siapa berkuasa atas ini?”
“kami hanya menuruti perintah, yang membayar kami tentu”
“menghamba lah kalian pada uang!!”
“kami sudah memperingatkan”
“oya? Tentu saja! Setengah jam lalu, begitu??”
“tidak!! Seminggu lalu!!”
“seminggu lalu?”
“ya!! Pada Mbak Panjenengan!!”

Dan drama pun dimulai. Maka jelas sudah pintu kecewa menganga demikian curam. Maka jelas sudah bentuk nanah persahabatan yang diberi. Apa pula pertemanan begini rupa? Seminggu lalu, tapi tak berkabar?? Luar biasa baiknya temanku yang satu ini. Lantas di saat aku panic begini dia malah duduk bergelak-gelak tawa semeja secangkir kopi tanpa pusing berpikir. Sialan kau perempuan!

Masih saja aku berharap keajaiban welas asih darinya. Kupasangi mata pada layar ponsel. Lantas kembali ku kirim pesan.

Bu, tak kah hendak ke sini sekejap saja? Saya seorang, tak berteman.

Berharap cemas, aku menunggu balasan pesan. Akh, datang juga.

Saya lagi keluar. Ambil sendiri dulu, saya besok pagi saja. Iya.. heran juga dengan Bapak itu, padahal kan masih hal dirimu. Kayaknya emang niatnya ga bener tu.

Dingin angina malam ini menikam punggungku. Sakitnya tembus hingga ke jantung. Perlukah aku menggugat lagi? Perlukah kutanyakan lagi, siapa bersalah? Siapa patut dipersalahkan? Siapa pantas di-oyak-oyak? Siapa bertanggungjawab? Siapa bermanfaat? Siapa memanfaat? Perlukah???? Perlukah kukatakan, bukan itu yang aku hendaki, bukan kata-kata surga seolah mendukung itu yang kubutuhkan. Bukan itu!! kemana dia seminggu ini? Kemana dia malam ini? Kemana dia jinjing mulut manis sesumbar semua baik dan beres? Mana? Mana bentuk solidaritas? Ataukah perlu kutanya, perlu kugugat, mana bentuk terimakasih?? Luar biasa benar kepala manusia ini.

...

WAJAH-wajah yang tak kukenali tapi kerap muncul di layar-layar kaca. Sebuah drama dari entitas metropolis. Penggusuran, pembersihan atau apapun namanya. Lapak-lapak beretribusi tapi tetap saja dianggap ilegal. Jerit-jerit tangis, teriak histeris, baku hantam dan lolong tak bersambut jawab. Pongah! serakah!

Seketika saja, pejabat paling kroco menjelma menjadi jenderal. Merasa berkuasa, menguasai, berhak, atau bertanggungjawab? Alih-alih mendapat mandat, perintah atasan, ini kesempatan adu jajal! Kapan lagi bisa pamer kuasa pada yang tak berdaya? kapan lagi? Ini waktunya.. Garukan!! aha..ini dia, saat yang tepat.

Lantas satu dua perempuan pingsan menggelosor saat bangunan paruh permanen yang sudah lebih 10 tahun menghidupi, seketika rata tanah. Perkakas-perkakas keluar bersambut tangan entah dari sesiapa pada siapa. Syukurlah jika tak dijarah. Lelaki tua gemetar kaki tangan yang sedari lalu tak berdaya berlinangan airmata. Kuduga ia tengah mengutuk dosa jadi pahala! Kuduga ia mengumpat istighfar terbata.

Ada pula wajah lain, wajah kusir perempuan melarikan gerobak dengan balita sebagai penumpang kala Satpol PP memaksa mengejar. Tak lari, mata tamatlah riwayat gerobak itu. Sial memang, jika dapat dikata begitu. Dalam pelarian, nyawa penumpang habis digenangi kuah panas. Luar biasa, bukan?

Masih ada pula.. wajah-wajah yang pernah menjamah layar kaca televisi. Wajah-wajah lelaki veteran yang terpaksa menikmati masa tua mereka dengan pengusiran. Luar biasa benar, bangsa ini memberi reward (baca: penghargaan) pada mereka. Lebih, luar biasa memberi hukuman pada perampok-perampok, penjarah-penjarah kakap yang jelas-jelas bersubsidi dari aparat.

Maka wajarlah kuduga, penguasa kroco sekalipun, jika sudah punya hajat, maka langgeng kekuasaan dia pegang betul. Mana yang bisa disuap, agar proyek cepat, maka itu sahabat. Aha!! lupa aku, tak perlu kiranya suap.. cukup ancaman, gertak! maka mereka bersalaman. Aha...

...

SYUKURLAH otakku masih sehat. Ponselku menyisakan satu bar terakhir untuk daya batre. Siapa lagi yang bisa kuhubungi? Supir!! Ya.. supir pick-up.

Tersadar, saat benda keras menyiku lenganku. Pembawanya hanya menoleh sekejap, lantas berjalan lagi. Akhhh…. Ya..ya.. begitu saja!! Angkut semua!! Bawa!!
Anggap aku ini berhala Pagan yang siap dihantam nabi-nabi. Anggap begitu! Anggap begitu..

Ya!! Buka paksa saja, tak ada jasa desain untuk membuatnya kok.. tak ada otak tercurah untuk membentuknya. Ya!! Lempar saja!! Lempar seperti itu!! biar kaca-kaca pecah berhambur.. pecahkan! Tak ada rupiah kok di situ. Yah!! Bengkas saja!! Palu semuanya hingga berkeping. Aha! Hanya seribu perak kok untuk barang-barang elektronik itu. Akhh… tak apa! Mumpung aku di sini dan aku menyuruh kan? Ya… Ayo lagi!! Atau apalagi? Ya!! Garap sepuas kalian!!

Seseorang menyentuh pundakku. Lelaki itu bertato ular di pundak kiri hingga pangkal lengan. Bersinglet abu-abu dengan dada memaksa keluar.
“mana yang mau diangkat, Mbak?”
Ohh.. seketika tergeragap. Dalam hati, lirih..'memang masih ada?'
“bawalah.. sebisa dan seada-adanya,” perintahku.
Sementara yang tersisa dipindah, aku mengamat lagi. Aihhh… ada si beliau itu!!. dadaku bergelora, membuncah.. kudekati.
“Pak,” senyum ku, ku-oplos sakarin. Dia salah tingkah.
“sudah lama?,” tambah ku, lagi.
“oh, baru kok Mbak.. Panjenengan sudah lama?,” tanyanya tawar, seharusnya ia mendopping cuka, biar lebih ber-rasa. Akh.. maklumat Jawa ini seperti raksa, bagus di penampakan saja, sisanya membakar.
“baru,” aku mulai tak sabar.

Pria bertato ular itu mendekat.
“sudah Mbak. Oya, saya Bagus,”
“wah, lupa kita berkenalan. Belia. Hei..tau dari mana saya yang menghubungi?”
“gampang, hanya Mbak perempuan di sini,”
Lantas mataku menyapu. Benar saja.

Aku kembali pada Bapak beruban dengan kopiah putih bersarung kotak-kotak itu. Kusalami ia,
“terima kasih atas kerjasama nya Pak..,” ucapku dan pada detik berikutnya telah berlalu.

22.07

Perjalanan pulang, aku mendahului dengan beberapa laki mengikuti. Singgah sebentar di rumah Tionghoa berwajah Jawa. Masih laki itu yang membuka pintu, seraut kejut di wajahnya.
“loh.. padahal biar saja, besok saya yang urus,”
“sudah, Pak.. sekalian,”
Setelah diturunkan, aku pulang.

Perjalanan pulang ini, hatiku beringsut menciut.
Berbeda dengan perjalanan pergi yang segenap diri tiba-tiba kompak mendadak, kali ini, masing-masing mulai berdikari. Mengumpulkan energi untuk menyerang saraf pusat satu per satu. Lantas semua yang baru kualami seperti terputar ulang dalam benak.

Dalam megahnya langit malam yang kutatap tanpa terlalu peduli kendali setang motor, kurasa demikian kecilnya aku. Demikian tak tampaknya aku, bahkan sebagai titik sekalipun. Dan seperti inilah suara-suara yang berkolusi pada akhirnya.

Dzat.. betapa mudahnya menjadi sombong, betapa gampangnya menjadi angkuh, betapa sepelenya menjadi congkak.. betapa aku menjadi picik. Apa yang kuperbuat tadi? Melafaz sumpah serapah demikian rupa seperti melagukan ayat-ayat suci saja. Fasih dengan intonasi dan artikulasi. Betapa lalim-nya aku, menggugat seorang teman demikian rupa, mengapa tak memberi pengertian barang sejenak? Mengapa hal demikian saja dianggap menginjak-injak? Padahal, pengertian sedikit saja.. sedikittt saja, cukup. Kalaupun benar, apa lantas itu merugikanku? Sungguhkah di dunia ini ada untung rugi?

Bukankah sebetulnya semuapun akan beres? Kendati masih ada yang menyesak? Tapi, bisakah tak kuindahkan? Atau, bisakah aku memaafkan? Atau, apakah benar, ini suatu kesalahan? Pertanyaan-pertanyaan terkutuk itu berputar-putar.

Tiba-tiba langit menampakkan beberapa rasi di mangkuk cekungnya..
Akh, aku merasa sepi.. sepi benar. Sepi sebenar-benarnya. Lantas ponsel ku bergetar lagi, masih tanpa nada. Aku meminggir, membaca.

Sayang..
Merindu tiada tara..


Aku tersenyum. Yah, tersenyum tanpa cambuk sakarin..

22.29





Jogjakarta,
28’ 2009 May
17:38
(MJ : Stranger In Moscow)

8 comments:

Ahmad flamboyant said...

tulisanmu bener 2 membuat pagi ini cerah kemabali , setelah hujan dan petir menemaniku semalam ...

Kabasaran Soultan said...

Lagi , lagi dan lagi ..sungguh aku sangat terpesona menikmati cara tuturmu Hez ... ngak bisa komen apa-apa ..lidah dan tanganku kelu ..seakan aku memasuki suatu labirin rasa yang kental aroma megisnya ...sungguh suatu penggambaran yang sangat unique dan aku berani bertaruh bahwa suatu saat warna ini akan sangat digandrungi oleh para penikmat sastra.
Wow .....luar biasa

goenoeng said...

space-mu hilang ?

Bulan Luka said...

"Amarah" itu muncul benar dalam kata-kata yang sangat terpilih...

djoko wahjuadi said...

...what a worderful posting..as usual...marah tapi rasional, terbayang dimataku...tetep ada kelembutan didalam kemarahan....

anakilang said...

Ini sudah di baca untuk yang kedua kali nya.....

sangat emosional tapi tetap terjaga. dapat di rasakan emosi yang tertuang dalam tulisan ini. Hhhmmm.... 161 ya....

radesya said...

Wah, keren...
Aku sampai tak bisa bernafas kak..

Mo baca lagi ah..

goresan pena said...

@ Ahmad: akh, terima kasih sobat.. bisa saja, dirimu.. aha.. ada apakah dengan semalam yang sudah berpenggal hari lalu itu?

@ Pak Kabasaran: lagi..lagi.. Bapak bikin saya tersipu. terimakasih, Pak.. saya hanya mencoba menyalin apa yang tersirat di kepala saya saja.
pokoknya, terima kasih. Bapak salah satu yang senantiasa memberi semangat untuk saya menulis. betul itu!

@ Mas Goe: aih, kalau hanya masalah Space.. ga akan semarah ini diriku, Mas..
bukankah kita sudah membahasnya? :D

@ Bulan Luka: "amarah" yah, demikianlah adanya, Pak..
:)

@ Pak Djoko: wah, kejutan.. setelah sekian lama saya tunggu. :) terima kasih Pak.. masih menyempatkan datang..:)

@ Dai atau Fin? atau Anakilang? : duhh, Fin.. sampai dibaca dua kali, hihi.. bagaimana, Fin? masih bingung? yuk.. ngobrol lagi..hihihi..apa kita ngobrol ttg 'Jogja'? upss...!
:p
cicak-cicak di dinding.. juz kidding..

@ Radesya: wah, aku harus gimana nih Des, kok kamu sampe' ga bisa nafas gt? mo baca lagi? duhh.. ga pake ga nafas yah?? :P
terima kasih, Radesya Sayang..