31 March 2009

..jejiwa..

dedaun ini sebetulnya ringan,
menjadi berat kerana debu

batang pokok inipun sebetulnya kokoh,
menjadi rapuh kerana benalu

jejiwa ini sebetulnya utuh,
menjadi retakan kerana waktu

cermin retak:
bulan cercaan hati

28 March 2009

bertentang silang

aroma plitur lekat, menyengat saat kudatang. beberapa petak terlihat di kejauhan. aku masuk, lebih dekat. bergantian angin menyampirkan bebauan berbeda. aroma lempung basah, liat menggenggam erat memori, mengingatkan sesuatu yang mendasar, yang kuat.

lantas berderet-deret tembikar basah terjajar. aku mencari, satu diantara yang tak kuketahui.

sinar matahari menerobos masuk, melalui celah-celah berlubang. lagi, angin menyampir kembali bebauan rasa. aku masuk ke dalam. inti segala inti. aku merenung diam. saat indera dipaksa berlepasan dengan angkuh. semua memberontak ingin mengecap yang mereka bisa. mataku berteriak lantang, mencoba mejadi geronimo diantara kepanikan.

"ikuti aku!"
perintahnya dengan genderang aksara.

telingaku tak mau menurut. ia hengkang. ahhh... suara mu parau!! diam!!! bahtahnya memekakkan.
lantas, diucapnya berkali-kali seperti merapal. "ada suara...ada suara.. ada suara sunyi yang kudengar.. hidung, endus cepat!!"

hidungku melengos. mendengus naik turun. mempertontonkan perlawanan. kau pikir kau siapa, telinga? omelnya. aku punya kerja sendiri. tak kau sadar dari tadi bebau ini memikatku? aku harus bisa memilah, aku harus merekam semuanya!! jangan banyak atur kau mata dan telinga! hai korteks... ikuti aku.. catat semua ini! penting!

otak belakang tertawa mengejek. halah...! tau apa kau hidung!! mau menjadi memori atau tidak, itu urusanku! apa pedulimu? jangan atur-atur urusanku. biar aku menjaring sendiri. kau tau... ada sketsa-sketsa memori yang terpampang jelas dalam absurd yang kalian lihat! mata, telinga, hidung...hahaha... kalian buta! kalian buta!

"diam!!"
seruan keras menggeletar. aha...mulut angkat suara! "ssstttt..." katanya lebih tenang. biar ku cecap dulu...aku ingin mengecup perlahan sunyisepi ini. aku ingin memagutnya dalam desahku.. diam kalian...biar aku saja!
dan kemudian, setelah aku menikmati yang sekejap itu. aku bersumpah aku akan diam! percayakah kalian???

"hati... teruskan penjelajahan..." begitu ajakan mulut yang biasanya terlalu cerewet. kali ini dia mengalah.

"ahhh... kalian sudah bekerja keras. tak perlu kalian bekerja satu-satu! kita ini tim! kita ini saudara..kita ini berjudul megah: organ. dan kita ini satu kesatuan"

nah... kalau kalian sudah tenang... maka ijinkan aku bekerja.

...

aroma pelitur terasa semakin samar. begitun aroma liat tembikar basah. semuanya nyaris memudar. aku mengajak kaki ku melangkah jauh lebih dalam. inti di dalam inti. nukleolus!

di sebuah ruangan dengan aroma cat yang sangat kentara, pilox bertebaran. kanvas-kanvas teronggok di pojok, lembar screen printing serta balok-balok kayu terpotong. aku di sana. merasa aku yang menjadi tiada.

beberapa lukisan beraroma Basquiat menarik ujung-ujung pencecap rasaku. semua saling silang kembali berebutan untuk saling dulu merasa, menikmati, bahkan terhanyut.

dalam ketidaktahuan yang diam, aku berdiri tegak. mencoba menarik kembali diri yang terseret arus rasa. entah apa... sesuatu apa.. entah apa... entah...

namun, di kala aku berdiri mencoba tegak itu...
korteks bergerak cepat ,menelusuri lengkung memori, meraup stimulan-stimulan dari tiap indera. ini yang aku ingat dengan dada berdesir beberapa kali... berkali-kali...

...

tidak ada yang abadi!
dan hatiku sunyi...
nafasku tertahan dalam bilah ketidakbolehjadian!
aku rindu..
rindu akan sebuah nama itu. sesuatusunyi yang belakangan merayuku untuk terus saja melafazkan namanya. rindu akan bisikan manis dan mata yang berjauhan. aku rindu...

lantas, hidungku mengumpulkan asap-asap rokok yang datang dari entah. akh... aku rindu. rindu saja... aku rindu, itu saja.

dan tiba-tiba saja dia datang. muncul persis di pelupuk mata. tanganku tlah menggampar, sekali lagi. bahkan lagi... tapi tetap saja tak mau pergi.

sudah, itu tempat terbaik, jangan kemana-mana.. teruslah di situ... bersamaku.

lantas hati ku diam. diikuti semua indera.

"hai..." katanya..

semua indah pada semestinya. sudahlah... kesalahan pun ialah keindahan juga. nikmati saja. aku takkan membelenggumu... sesapi saja. apa itu. dan aku akan menunggu. menunggu matahari tergelincir dan kemudian akan membawanya masuk dalam angan mu. entah apa itu... entah seperti apa itu...

bawa saja.

..

23 March 2009

mozaik narasi: 3 kata

gumam ombak
entah
nampak oleh engkau

nafas gemuruh
entah,
namun tak ada

hampa..
sesuatusunyi
entah,
jarak angan

kuasamu!
kuasaku!!

apapun..
padamu..
ada,
nyata!

hepi b'day to me!! :)

hepi b'day to me!

saya bingung hendak memulai dari mana..

saya bahagia.. dan saya harus mengingat hari ini. bagaimanapun, suatuwaktu kelak. bukan hanya sekedar karena hari ini saya mengulang tahun kelahiran, tetapi juga karena blog ini sudah genap setahun (lebih beberapa hari sih sebenarnya..).
tak terasa...

sudah lama saya mengira-ngira sapa saja yang akan saya ucapkan terima kasih...yah, sampe' kepikiran memberi award segala. tapi...rasanya saya belum pantas kalau memberi award. :p

tapi yang jelas...ibarat acara radio, hari ini saya ingin membebaskan diri untuk berkirim-kirim salam secapek-capeknya..he..

sebelum blog ini ada, sebetulnya saya sudah mulai menulis di blog sejak Juli 2005, blog saya kala itu simply_ya, blog tersebut dibuat oleh sahabat saya, Adit. hanya saja, sayang, blog pertama saya itu tidak saya urus. karena kehamilan dan memang tak memungkinkan saat itu. dan yang treparah, saya lupa password! haha... aduh, maaf yah Dit...

setelah itu, maret 2008, saya bertemu kembali dengan teman masa kecil yang sudah nyaris 10 tahun tak ketemu. dan akhirnya dia membuatkan blog ini sebagai hadiah ulangtahun untuk saya, karena dia tahu, saya sangat senang menulis, dan menurutnya, sayang jika tulisan saya hanya berakhir di dalam file-file tertutup. hehe..
hem..makasih yah Damas..

orang ketiga yang ingin saya ucap terima kasih, adalah sahabat saya wahyu, patjar_merah yang mengajarkan banyak hal baik secara langsung atau tidak. dan dirinya banyak sekali menginspirasi tulisan-tulisan saya di blog ini. pokoknya, terima kasih! untuk apa saja...:p

lantas, terimakasih juga untuk Uda Chandra yang sangat baik.. dan menginspirasi, salah seorang sahabat yang ingin saya temui.. setelah sekian tahun kenal, masih juga belum ada kesempatan bertemu yah…

lalu, saya ingin mengucapkan terimakasih untuk Mbak Lia, sahabat pertama di dunia virtual blogging ini..:). Juga Sham, sahabat negeri Jiran yang rebel! Lalu, Bambang-timurmatahari yang puisi-puisi ‘nakal’ nya yang menyentil dan Multama yang puisinya juga indah. Terima kasih juga untuk Pak Djoko yang tulisannya pendek tapi selalu segar, sindirannya kocak dan selalu saya tunggu posting barunya. Terima kasih juga untuk Mas Jenny Oetomo serta Mas Erik yang baikssss….. dan selalu bermanfaat, tulisan-tulisannya…. Lalu, terima kasih juga untuk Mas Andy MSE, Feri, juga untuk blog yang selalu menarik: Gus, Mas Kurnia, Pak Budi M, surinit di negri seberang, dan mas Totok penguasa Gunung Kelir..hihi… serta katobengke.

lantas, memang benar, setelah setahun ini saya ber-blogging ria, ada blog-blog yang menjadi candu untuk saya. Senantiasa saya tunggu posting demi postingnya…
yang pertama adalah blog nya Mas Goe. Karena, tulisan-tulisannya bagus2..pilihan kata dan kalimatnya senantiasa menjadi trigger, setidaknya untuk saya menulis lebih baik lagi. Selain performa tulisannya yang ciamik…(cieee…), personality orang ini juga …hemmm… TOP deh. Jadi, rasanya pantas lah blognya untuk didatengi tiap saat, meskipun hanya membaca ulang tulisan-tulisan sebelum…

yang kedua ialah blognya Mas Arif. Banyak alas an untuk mendatangi blog ini. Selain tulisan2nya yang bagus-bagus…hem..banyak alas an lain juga yang tidak bisa saya tulis. Blog ini seperti magnet bagi saya. Demikian pula blog Mbak G yang suuupppeeerrr… wow… hehe. Banyak alas an juga yang saya nggak bisa jelaskan kenapa saya terseret untuk menelusuri tulisan demi tulisan dib log ini.
Selain itu, yang juga menarik adalah bloh Pak Kabasaran yang tulisannya imajinatif..hem..menarik…ahhh bingung deh, menjelaskannya dengan kata-kata.

Dan tentu terima kasih tak terhingga untuk teman-teman lain yang maaf, tak tertulis di sini…hanya lah kekhilafan saya.

Serta, terima kasih untuk suami tercinta, yang rela (walau kadang uring2an) karena cinta, hati, waktu, energi saya terbagi untuk blog ini juga. Terima kasih memberi ruang dalam petak hati ini…

Yang terakhir,
Make a wish time:
“I wish, that I could see the day, when I enjoy everyday.. like today…”

Sejuta senyum untuk kita semua….:

19 March 2009

Twice ! : 'sebut dua kali'

mentari tergelincir,
tergesa-gesa mengundurkan diri
hatiku terpelintir,
tergopoh melampaui hari

terlalu banyak lamun, kupantau
terngiang denyut, kala tiada
lantas kulari, cari..halau!
namun tak kuasa, namun tak ter-eja

jiwa, berjibaku
dalam tiadaku
jiwa, bersikukuh
dalam mau ku

mentari terpelintir,
panik membawa pulang diri..
hatiku tergelincir,
nyeri..kubawa pergi

lantas, kubalut petir
dalam sebilah kerikil
tuk membelah bumi,
menghantarkan diri

lantas, kupanggil nyawa
kutitipkan ruh
yang terpasung pada nafasmu
desahkanlah.. : senantiasa!

17 March 2009

Datanglah Kapan Saja

telah lama aku berdebat, panjang
telah lama aku menggugat, mengulang..

lantas kau diam,
selalu diam..

dan aku mengibas tangan,
bolak balik berkali-kali
"ingin merasakan udara, sekejap saja.."

tapi, berbeda..
atau memang tak sama?

ya..ya...
begini lebih baik.
ya,
begini memang jauh lebih baik.

engkau selalu seperti udara..
maka, berhembuslah kapan saja
bilasaja
ketikasaja

16 March 2009

Sejuta Bintang

"lihat itu Belia!"
lantas aku menoleh ke arah telunjuknya terarah. Langit yang membentang, biru yang kelam, nyaris mendekati hitam kurasa. Tetapi iga-iga putih seperti kapas tercabik bertebar mengelompok di suatu bidang. Menutupi sebagian bintang-bintang diantara sejuta bintang.

"kau lihat itu Belia.. itu Canopus! ada juga Yuvivalens, Vega dan banyak lagi tak bernama"
aku mendengar suaranya yang lekat di telingaku.
"ahh, siapa pula yang menamai? manusia kan? ahh.. seperti mereka itu ibu-ibu yang melahirkan saja" sekenaku, menjawab.
"jangan begitu.. bukankah begitu lebih baik? kita tak perlu lagi mereka-reka atau melabeli semua yang kita jumpa" sanggahnya
"oke..oke...tak mendebat" pasrah.

Lantas, dia menarik rumput itu, hingga tercerabut dengan sedikit akar. aku protes
"kiranya tak perlulah pakai tenaga, untuk menariknya.."
"tak sengaja, Belia.. mungkin aku terlalu perkasa"
hahahaha... kami tertawa bersama.

Kuamati ia, menggigiti ujung rumput itu. sebenarnya tak benar-benar di gigit, hanya dimasukkan sedikit di bibirnya.. lantas dipelintir dengan dua jari, jempol dan telunjuk. dia masih terus menatap arah itu.

Genap purnama. sehingga terangnya mengalahkan lampu kota.

Aku mengamatinya. perlahan. rambutnya yang hitam tebal, alis.. mata..hingga lekuk-lekuk di wajahnya yang sahaja.

"Belia!! lihat..." aku mengekori arah telunjuknya sekali lagi.
"bintang jatuh!!" teriak kami serentak. lantas saling berpandang. aku diam. begitupun dia.

"ahhh... aku tak ingin seperti bintang jatuh itu!! bukan main betapa takjubnya kita barusan saat dia melesat... habis itu...sudah, terbakarlah ia! tak lagi menjadi apa-apa" ucapnya nyaris tak terdengar. seperti bergumam pada diri sendiri.

"ssstttt... kita berdoa saja.." ajakku. Terlihat sekilas, matanya berpendar. Dia tersenyum. 'yah...begitu lebih baik...' ucapku dalam hati.

"Belia, kapan kita ke tempat ini lagi?"
"entah"
"apa yang kau minta tadi?"
"tidak ada. kau?"
"itu rahasia"
"baiklah..."

Lalu dia berdiri tiba-tiba. mengulurkan tangannya padaku, agar aku turut.
"mari, kita berjalan lagi.."
aku tersenyum.

Hanya kalimat yang mengalir deras dalam hati tanpa sempat kuutarakan saat kusambut tangannya.
"sudahlah... aku hanya mawar yang durinya akan menyakiti jarimu...".

Bulan masih sangat terang, siluet pohon dan burung terbang terbentuk sesaat. Bumi seperti berhenti berputar, tapi kami tetap berjalan. Sejuta bintang, di langit kelam.

Itu Saja!

Kemarin aku lewat,
lantas melewati
tengoklah sebelah jendela
yang sempat kau buka,
lantas kau tutup paksa.

Kemarin aku lewat,
kemudian melewati.

Beberapa kali masih bahkan senantiasa,
setiap ada jeda
dimana aku kembali ke suatu masa

Lantas kemarin, aku datang lagi
memandangi sisi kaca,
dibaliknya ada dirimu,
menahan dibalik jendela

Biarkan udara datang..
biarkan aku menerobos masuk,
aku mentari..
ingin berbagi.
itu saja.

(sambil denger Slank: Terbunuh Sepi)