03 June 2008

Diantaranya


tahu arti bahagia?
saat diri tidak mampu
menahan senyum.

saat ada
yang akan meledak-ledak
dan seisi dunia
dipenuhi keceriaan

tahu arti bahagia?
saat diri mampu
melampaui jalan-jalan terjal

saat kaki melangkah
dengan santai
di atas jalan berbatu

dan tahu arti kesedihan?
saat kebahagiaan datang,
tapi tidak satupun
dapat diajak berbagi

(karena jika membutuhkan seseorang
disaat kita terpuruk,
memang sulit!
sehingga tak pantas menjadi alasan
tuk bersedih.
tapi..
jika untuk berbagi kebahagiaan pun sulit,
itu baru menyedihkan!)

namun..
tahu yang lebih menyedihkan?
saat diri tidak ikhlas
mendapati kebahagiaan orang lain.

(cisya, pnjem fotonya yah..)

30 May 2008

Dalam Diam


..aku pergi.

Ucapku pelan.

Kau tak menjawab.

Hanya diam.


Di ujung matamu

kutemukan kebimbangan.

Tapi kau tetap diam,


Tak mencegahku..

Kau masih terpaku

dan diam.


Aku pergi.

Semakin lirih

suara yang tercekat

di kerongkongan.


Kau masih saja diam.


Aku mulai melangkah..

Sudah menjauh,

ingin berbalik arah.

Mengejar kau

yang diam.


Dan ketika kuhendak melangkah

lagi,

Kau berlari..

Merengkuhku,

hingga sesak di dada

begitu terasa.


Diam,

merasakannya.


Tapi, tiba-tiba kutercekat!


Hanya ilusi.

Karena waktu itu,

kau tetap tak beranjak dari tempatmu.


Kau hanya diam.

Diam memandang kepergianku.

Pontianak,

010707
(model pic: puput)

tidak ada judul

hhh..
pergilah..
pergilah,
pergilah.
[setelah menguasai diri]

29 May 2008

bukan waktu


Aku yakin, dia tahu..
Walau lebih tepat tidak mau peduli
Atau berpura-pura tak peduli

Entahlah,
Hati manusia tak satupun mampu mengukur
Yang kupunya tentang dia hanya kenangan

Kenangan itu menggantung rapat di pelupuk
Kadang ia menghadirkan tawa,
Senyum bahagia
Tak tertukar suatu apapun jua

Tapi, jika sudah mulai tersadar
Yang hadir adalah airmata
Yang tergenang
Sebuah penyesalan yang belum tuntas

Sebenarnya tidak perlu
Kuyakinkan "ah,hanya masalah waktu"
Tidak..tidak..
Memori itu residu
Mungkin yang lebih tepat itu "momentum"

Meninggalkan dan ditinggalkan
Akan membawa luka yang sama
Hanya kedalaman nya saja yang berbeda

Torehan luka pada yang ditinggalkan
Akan lebih dalam
Masalah sepele, belum siap!

Momentum yang tidak tepat

Kalah


hari ini,
aku menelan ludah
terpahit

sehari,
untuk beberapa
kekalahan

semua indera bekerja
betapa tidak adilnya!
betapa tidak bersahabatnya!!

kekalahan-kekalahan wanita-wanita ini
wanita-wanita yang tak lagi
punya pilihan hidup

di matanya,
kusaksikan pemberontakan

di matanya,
kurasakan kebimbangan

di sudut kecil matanya,
kutangkap kepasrahan

betapa tidak adilnya!

saat semua
tidak lagi untuk dirinya
saat segala ego
sudah dibungkam rapat-rapat

saat doa-doa
pun tak lagi hanya untuk dirinya
saat sujud demi sujud
tak lagi dilakukan untuk dirinya

saat kekalahan
sudah demikian berkuasa

ah,
betapa tidak adilnya!

tapi apa balasan
untuk semua yang dikorbankannya?
kemudian..
dunia memandangnya sebelah mata

mereka..
yang selalu didahulukan
bagi hidup wanita-wanita ini,
mulai menelantarkan
peduli pun tidak!

beruntunglah kalian,
wanita-wanita yang masih
memiliki pilihan..

ah, semoga ini yang terakhir
(walau tidak mungkin)

semoga saja,
aku tak bernasib sama
seperti wanita-wanita itu.

Jogja,
23 Mei 2008

21 May 2008

Dusta

tidak ada yang tidak mampu

tidak ada yang tidak sanggup!

waktu mengajarkan banyak hal.

realita yang selalu bertubrukan dengan kehendak hati.

semua orang mampu menghadapi kehilangan, apapun itu.

hanya saja..

hati selalu meminta berkomromi,

selalu saja bernegosiasi.

ah,

ini hanya masalah sudah terbiasa atau belum.

dan belum bukan berarti tidak.

aku percaya apa yang terucap di saat itu.

tapi tidak untuk sekarang dan besok.

waktu terkadang membawanya menjadi dusta,

dan kau bisa hidup tanpa aku!

tak seperti yang kau katakan dulu.

Jogja,

20 May 08

16 May 2008

Tanda Tanya (neverland bagi peterpan)

Pernahkah kecemburuan mematahkan keraguanmu?

Adakah keyakinan mampu dibangkitkan

Dengan kesadaran?

Telahkah berkorban menjadi suatu kebiasaan

Dalam suatu hubungan?

Terkadang,

Memahami diri sendiri terlampau sulit

Dibanding mencoba mengerti posisi diri.

Mimpi rangkaikan segenap imaji,

Mengantarkan pagi dengan sekeping kenyataan.

Sudah lewat.

Pontianak,
121007

Rasakan ini dengan Senyuman, walau Perih

Ingatlah pada suatu ketika..

Tatkala langit begitu cantik

Diselimuti jingga,

Kau katakan bahwa kau

Tidak kalah dengan waktu

Kau ajak aku bersahabat dengannya,

Menjadikan waktu teman kita

Dan bersama menyambut esok.

Ingat pula tatkala mentari masih begitu muda

Berdiri di sisi jendela dalam bias kaca..

Rindu hati,

dan kau katakan;

" begitupun aku, ingin seperti udara,

menghampirimu..

rasakanlah kasih sayang ini dengan hatimu".

Ingatlah suatu ketika,

Pada malam-malam panjang

Yang kita isi dengan harapan dan doa,

Kita akan selalu bersama dan saling memiliki.

Ingatlah, bahwa hati kita pernah berdebar-debar

Membayangkan pertemuan yang tak kunjung datang.

Wahai kekasih,

Ingatkan dirimu sekali lagi..

Ada yang tertinggal dan membekas.

Bujuklah kakimu,

Agar tak begitu saja melangkah pergi.

Jogjakarta,
180707